Source : @yustcollection5 on Instagram
Kota malang – Halo, Naters! kadang kita suka cuek sama sampah di sekitar, padahal tanpa sadar tumpukan itu bisa jadi cuan yang lumayan, loh! di kota malang ada pengrajin kreatif yang menyulap sampah non logam seperti kertas, gelas, plastik, dan kain sisa menjadi aksesoris keren Nan fashionable dengan nilai jual tinggi.
Erik Yustiana, atau yang akrab disapa Yustin, merupakan pemilik usaha mikro kecil menengah (UMKM) bernama Yust Collection yang bergerak di bidang daur ulang sampah menjadi produk kreatif dan bernilai jual.
Inspirasi Yustin memulai usahanya berawal dari keprihatinannya melihat tumpukan sampah non logam di lingkungan tempat tinggalnya yang melimpah dan belum dimanfaatkan secara optimal. Menurutnya, banyak orang menganggap sampah hanya sebagai limbah tak berguna, padahal dengan sentuhan kreativitas dan ketekunan, bahan-bahan tersebut bisa disulap menjadi karya yang menarik dan bermanfaat.
Berbekal otak yang kreatif dan ketelitian tinggi, Yustin mulai bereksperimen dengan berbagai jenis limbah seperti kain perca, kertas bekas, serta plastik nonlogam untuk dijadikan bahan utama produk buatannya. Gerakan tangannya yang lentik saat proses pembuatan kerajinan memperlihatkan keahliannya dalam mengolah sampah menjadi benda estetik dan fungsional.
Kini, berbagai hasil karyanya telah berkembang menjadi produk unggulan, mulai dari tas daur ulang, lampu hias, dompet, hingga produk fesyen yang mengusung konsep ramah lingkungan.
Usaha yang ia rintis sejak tahun 2016 ini masih terus ia tekuni hingga sekarang, menunjukkan konsistensinya dalam mengolah limbah kain menjadi produk bernilai tinggi. Dari waktu ke waktu, Justin terus mengembangkan kreativitasnya hingga akhirnya melahirkan produk unggulan berupa tas yang terbuat dari sisa pakaian atau kain perca. Produk tersebut diberi merek Tsuy, yang kini dikenal sebagai simbol gaya ramah lingkungan dan wujud nyata dari upaya mengurangi limbah tekstil melalui inovasi fesyen berkelanjutan.
Source : malangkota.go.id
Selain itu, Yustin juga melibatkan warga di lingkungan sekitarnya dalam proses produksi kerajinan daur ulang. Baginya, usaha ini bukan hanya tentang menciptakan produk bernilai ekonomi, tetapi juga tentang memberikan manfaat sosial bagi masyarakat. Melalui pelibatan warga sekitar, Yustin berharap dapat membuka lapangan kerja baru sekaligus menumbuhkan kesadaran bersama akan pentingnya pengelolaan limbah non logam secara kreatif.
Menurut Yustin, langkah kecil seperti ini juga menjadi bentuk kontribusinya dalam membantu pemerintah mengurangi volume sampah nonlogam yang masih banyak ditemui di Kota Malang. Ia meyakini bahwa usaha berbasis daur ulang bisa menjadi solusi nyata untuk mengurangi beban lingkungan jika dilakukan secara berkelanjutan dan melibatkan banyak pihak.
Dikutip dari malangkota.go.id, Yustin menyampaikan harapannya dengan penuh keyakinan:
“Saya ingin menjadikan Yust Collection sebagai usaha ramah lingkungan yang mampu memberdayakan warga sekitar. Mimpi saya adalah menjadikan YustCollection sebagai pusat produksi daur ulang di Kota Malang,” ujar Yustin dengan nada optimis.
Source : malangharian.com
Melalui visi tersebut, Yustin terus berupaya mengembangkan Yust Collection agar tidak hanya dikenal sebagai usaha kreatif, tetapi juga sebagai gerakan lingkungan yang mendorong masyarakat untuk melihat sampah sebagai peluang, bukan masalah.
Usaha ini sebenarnya berawal secara tidak sengaja. Sebelum terjun ke dunia daur ulang, Yustin merupakan seorang pengrajin batik tulis. Namun, usaha batik tulis yang ia tekuni harus berhenti pada tahun 2015 akibat dampak dari fenomena konversi minyak tanah ke elpiji. Peralihan bahan bakar tersebut membuat proses membatik menjadi lebih sulit dan biaya produksi meningkat, sehingga Yustin terpaksa menghentikan usahanya. Dari situlah ia mulai mencari alternatif kegiatan lain hingga akhirnya menemukan peluang baru dalam mengolah sampah nonlogam menjadi kerajinan tangan yang bernilai.
Hal itu terbukti dari berbagai pencapaian yang telah diraih Yustin. Ibu dua putra ini berhasil meraih sejumlah penghargaan di bidang daur ulang serta memiliki sertifikat kompetensi sebagai instruktur kerajinan kreatif. Berkat keahliannya, Yustin juga kerap diundang sebagai narasumber dan pelatih dalam berbagai acara pelatihan daur ulang, baik di tingkat lokal maupun regional. Prestasi tersebut menjadi bukti nyata bahwa dedikasinya dalam mengubah sampah menjadi karya tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga menginspirasi banyak orang untuk ikut bergerak dalam upaya pengelolaan limbah berkelanjutan.