Hijau Kembali Semangat Reboisasi Desa Rengel dalam Mengubah Cerita Alam

Reboisasi bukan hanya seremonial, tetapi aksi nyata untuk menjaga lingkungan. Bibit yang kita tanam hari ini adalah warisan berharga bagi generasi mendatang.
Foto : Pemerintah Desa Rengel saat giat reboisasi. (ist)

Natera.id— Naters tau gak sih? Di tengah hiruk-pikuk pembangunan dan kerakusan manusia terhadap alam, sebagian kecil orang masih memilih untuk melawan arus. Mereka bukan pejabat, bukan korporasi besar melainkan warga desa biasa yang sadar bahwa bumi tidak lagi sekuat dulu. Dari tanah kering dan hutan yang hampir tandus, lahirlah semangat baru di Desa Rengel, Kabupaten Tuban: semangat untuk menanam kembali, memulihkan, dan menebus kesalahan manusia terhadap bumi. sumber

Reboisasi di Desa Rengel bukan sekadar kegiatan menanam pohon untuk foto seremonial. Ini adalah pernyataan moral bahwa alam bukan tempat untuk dieksploitasi tanpa batas. Pada Desember 2024, ratusan bibit pohon ditanam di lahan kritis yang selama bertahun-tahun kehilangan vegetasi. Kegiatan ini digerakkan bersama oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Perhubungan Kabupaten Tuban, Cabang Dinas Kehutanan, pemerintah desa, dan masyarakat setempat.

Menurut perwakilan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Tuban, upaya penghijauan ini merupakan bentuk tanggung jawab kolektif terhadap dampak perubahan iklim yang semakin terasa. Ia menegaskan bahwa reboisasi bukan hanya kegiatan simbolik, melainkan investasi jangka panjang untuk generasi berikutnya.

Kepala Desa Rengel juga menekankan bahwa keberhasilan program ini tidak diukur dari jumlah pohon yang ditanam, tetapi dari seberapa besar kesadaran masyarakat untuk merawatnya. “Menanam memang mudah, tapi menjaga agar tumbuh besar itulah perjuangan sebenarnya,” ucapnya.

Di sisi lain, aktivis lingkungan lokal mengungkapkan bahwa kegiatan reboisasi di Rengel menjadi panggilan kritis bagi semua pihak yang selama ini abai terhadap alam. “Selama ini kita terlalu sibuk membangun gedung, tapi lupa membangun keseimbangan. Alam sedang menagih janji manusia,” katanya.

Kini, hasilnya mulai terlihat. Lahan yang dulu gersang perlahan berubah menjadi hijau. Permukaan tanah mulai menahan air, dan udara di sekitar desa terasa lebih sejuk. Data dari Dinas Kehutanan menunjukkan bahwa lebih dari 500 pohon telah berhasil ditanam hanya dalam satu musim, dan target tahun depan adalah menambah lebih dari 1.000 bibit di wilayah sekitar desa.

Namun perjuangan belum selesai. Tantangan terbesar justru muncul setelah penanaman: perawatan di musim kemarau, ancaman hama, dan terbatasnya dana untuk penyiraman rutin. Karena itu, masyarakat membentuk kelompok kecil yang secara bergilir menjaga tanaman agar tetap hidup.

Seorang warga lokal, Siti Aminah, menambahkan bahwa partisipasi mereka dalam kegiatan ini membuka mata banyak generasi muda. “Awalnya saya ragu, tapi ketika pohon tumbuh dan lingkungan terlihat lebih segar, saya sadar bahwa apa yang kita tanam hari ini adalah warisan untuk anak cucu,” ujarnya.

Menurut salah satu relawan muda, menjaga bumi bukan pilihan, tapi kewajiban moral. “Kalau kita tidak peduli sekarang, jangan berharap anak cucu masih bisa melihat hutan seperti yang kita kenal hari ini,” ucapnya penuh keyakinan.

Perlahan tapi pasti, Desa Rengel membuktikan bahwa perubahan tidak harus menunggu instruksi dari pusat. Dari tangan-tangan warga biasa, lahir kembali harapan bagi bumi yang mulai lelah. Hutan yang dulu sekarat kini tumbuh kembali mengingatkan kita bahwa alam akan selalu memaafkan, selama manusia mau memperbaiki.

Dan pada akhirnya, hijau yang kembali tumbuh bukan sekadar warna; itu adalah cermin kesadaran kolektif, simbol ketekunan, dan bukti nyata bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil. Alam yang dulu terluka kini mulai sembuh, menunggu tangan-tangan peduli untuk terus merawatnya.

Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.