
Foto: Generated by AI
JEJAK SISA- Hai Naters! Siapa sangka, air yang tampak bening di gelas kita ternyata menyimpan partikel plastik mikroskopis yang sulit dihindari? Fenomena mikroplastik kini menjadi ancaman nyata bagi kualitas air minum di Indonesia. Tak hanya mencemari laut dan sungai, partikel berukuran kecil ini kini menyusup ke sistem air minum rumah tangga, bahkan ke tubuh manusia.
Apa yang Ditemukan?
Dilansir dari mediaindonesia beberapa tahun terakhir, pengawasan terkait mikroplastik di air minum menunjukkan bahwa meski kemasan air minum dalam kemasan (AMDK) di Indonesia secara umum memenuhi standar mutu yang berlaku (SNI dan regulasi BPOM), penelitian mengungkap bahwa plastik tidak sepenuhnya aman dari degradasi menjadi partikel mikroplastik. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mencatat, hingga saat ini belum ditemukan studi yang secara definitif menghubungkan mikroplastik dalam air minum dengan efek kesehatan pada manusia.
Sementara itu, dilansir dari ecoton lembaga lingkungan memperingatkan bahwa kontaminasi mikroplastik bukan hanya masalah kemasan, tetapi juga sistem air baku dan distribusi.
Artinya walaupun air yang dikonsumsi tampak aman secara standar yang ada, ada celah yang makin nyata bahwa partikel plastik mikroskopis telah menyelinap dan berpotensi menjadi ancaman baru.
Isu ini melibatkan berbagai aktor regulator seperti BPOM, lembaga lingkungan seperti Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON), serta produsen dan distributor air minum kemasan dan isi ulang. BPOM bertanggung jawab atas pengawasan mutu produk AMDK. Mereka menegaskan bahwa meskipun mikroplastik telah ditemukan dalam beberapa riset, belum ada kriteria baku mutu yang secara resmi ditetapkan untuk partikelnya.
Data Lapangan Terkait Mikroplastik,Dari Malang hingga Gelas Kita
Dalam talkshow bertajuk “Membangun Kesadaran Hukum Lewat Bencana Mikroplastik” yang berlangsung di Universitas Widyagama Malang pada Rabu, 5 November 2025, ECOTON bersama mahasiswa dan komunitas lingkungan memamerkan hasil uji lapangan.

Foto: Dok Pribadi/Natera
“Penelitian kami menemukan 11 dari 12 titik pengambilan sampel air di Malang terkontaminasi mikroplastik,” ujar Rafika Aprilianti, peneliti Ecoton, pada talk show “Membangun Kesadaran Hukum Lewat Bencana Mikroplastik” di Universitas Widyagama Malang, 5 November 2025.
Sementara itu, berdasarkan laporan resmi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dalam Laporan Kinerja 2024, pemantauan mikroplastik sudah dilakukan pada air laut dan sedimen, namun belum ada data spesifik nasional untuk air minum kemasan atau isi ulang yang menjadi konsumsi sehari-hari.
Dan dari sisi kesehatan, Dilansir dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) mengingatkan bahwa manusia dapat terpapar mikroplastik lewat “makanan dan minuman (seperti garam, seafood, dan air minum dalam kemasan)”. Dengan demikian, meski belum ada baku mutu resmi mikroplastik untuk air minum di Indonesia, kondisi saat ini memunculkan pertanyaan besar, seberapa aman tegukan kita?
Peneliti ECOTON (antara lain Rafika Aprilianti) mempresentasikan hasilnya di talkshow Universitas Widyagama Malang.
“Mikroplastik jenis filamen umumnya berasal dari pecahan kantong plastik yang terdegradasi. Sementara jenis fiber dilepaskan dari pakaian berbahan sintetis seperti poliester saat proses pencucian,” ujar Rafika dalam sesi diskusi.
Dikutip dari pusakom bahwa Mikroplastik diklasifikasikan ke dalam lima kategori berdasarkan ukuran dan bentuknya, dengan rentang ukuran antara 0,1 μm hingga 5 mm. Sumber utama pencemarannya meliputi:
1. air yang sudah terkontaminasi
2. perpindahan partikel dari kemasan maupun tutup botol
3. berbagai sumber kontaminasi lainnya
Sebagian besar mikroplastik berasal dari limbah plastik yang mencemari perairan, dan telah terdeteksi pada ikan maupun air baku untuk konsumsi manusia. Proses pengolahan air minum ternyata belum mampu sepenuhnya menghilangkan mikroplastik, sehingga dibutuhkan langkah-langkah pengendalian yang lebih efektif.
Bagaimana mikroplastik bisa masuk ke air minum? Ada beberapa jalur:
1. Air baku yang tercemar plastik, sungai maupun danau yang menjadi bahan baku air PDAM atau galon isi ulang.
2. Kemasan plastik (termasuk botol PET atau galon plastik) yang melepaskan partikel ke dalam isiannya.
3. Sistem distribusi dan penyimpanan yang lama atau kurang bersih menambah migrasi partikel plastik ke dalam air.
Mengapa Mikroplastik Ini Menjadi Krisis?
Ada tiga alasan utama mengapa kondisi ini perlu dianggap mendesak:
- Paparan luas dan tak terlihat Semua orang mengonsumsi air; paparan bersifat universal dan tak hanya terbatas di kota besar.
- Regulasi yang tertinggal Hingga kini, WHO belum menetapkan batas mikroplastik dalam air minum, dan Indonesia pun belum memiliki standar nasional khusus, dikutip dari pusakom.
- Potensi dampak kesehatan jangka panjang , Meski belum ada bukti definitif penyakit akibat mikroplastik, para peneliti memperingatkan efek seperti inflamasi, gangguan hormon, dan penumpukan partikel di jaringan tubuh. Kemenkes sendiri menyebut ini sebagai “sinyal” bukan kepanikan, namun membutuhkan tindakan cepat.
Di Malang sendiri, studi ECOTON menegaskan bahwa konsumsi plastik sekali pakai dan kemasan menjadi salah satu sumber utama mikroplastik dalam air. Diskusi dalam talkshow pun menekankan kaitan antara kebiasaan plastik sehari-hari dan kondisi air minum masa kini.
Kebijakan dan Tantangan ke Depan
Pemerintah melalui KLHK dan Kemenkes sedang mulai mengambil langkah: regulasi plastik sekali pakai diperkuat, kampanye pengurangan limbah plastik digencarkan. Namun, tantangannya nyata:
- Belum ada pedoman nasional yang spesifik untuk mikroplastik dalam air minum.
- Infrastruktur pengolahan air (filtering, distribusi) belum dirancang untuk partikel mikro hingga ukuran mikrometer.
- Kesadaran masyarakat tentang mikroplastik masih rendah padahal talkshow di Universitas Widyagama Malang menegaskan pentingnya literasi hukum dan lingkungan yang kuat.
- Industri air minum kemasan dan isi ulang belum banyak mempublikasikan data internal terkait mikroplastik satu celah transparansi yang perlu ditutup.
Apa yang Bisa Dilakukan?
Untuk konsumen (naters):
- Pertimbangkan menggunakan wadah kaca atau stainless steel, bukan sekadar plastik.
- Pilih air minum dari sumber yang terbukti kontrol mutunya atau isi ulang yang bersih.
- Kurangi konsumsi plastik sekali pakai dalam kehidupan sehari-hari.
Untuk negara dan regulator:
- Segera tetapkan baku mutu mikroplastik untuk air minum sebagai bagian dari standar kesehatan publik.
- Bentuk protokol nasional pemantauan mikroplastik dalam air minum, bukan hanya laut atau hujan.
- Tingkatkan investasi untuk sistem penyaringan air yang mampu menangani partikel mikroskopis.
- Edukasi publik secara masif dan terukur talkshow “Membangun Kesadaran Hukum Lewat Bencana Mikroplastik” UWG adalah contoh bagus, namun perlu skala nasional.
“Paparan mikroplastik bukan hanya soal lingkungan, tapi soal hak kita atas air yang bersih dan hak generasi mendatang untuk meneguk tanpa takut,” ujar Mochammad Alaika Rahmatullah, Koordinator Kampanye ECOTON, dalam sesi diskusi di UWG
Dari kampus Malang hingga keran rumah kita, sinyal sudah terang, air yang kita anggap aman ternyata punya cerita lain. Kini giliran kolektif untuk bertindak sebelum setiap tegukan membawa jejak plastik kecil yang tak kita lihat.