
Foto: Dok Pribadi/Natera
Penguraian sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Supit Urang, Kota Malang, mampu menghasilkan produk pupuk kompos sebanyak 15 ton setiap harinya. Dengan alat canggih seperti Compost Turner, proses penguraian sampah organik yang sebelumnya memakan waktu berbulan-bulan kini dipersingkat hanya dalam waktu dua minggu.
Ditengah tumpukan sampah yang menggunung di TPA Supit Urang, justru bisa disulap jadi pupuk kompos yang siap didistribusikan untuk penghijauan di Kota Malang. Dengan penerapan pengelolaan sampah berteknologi modern dan alat yang canggih, di TPA Supit Urang mampu mempercepat proses daur ulang limbah bernilai ekonomi tinggi.
Kepala UPT Pengelolaan Sampah DLH Kota Malang, Arif Darmawan, mengatakan bahwa setiap harinya Kota Malang menghasilkan 740 ton sampah jika dihitung berdasarkan jumlah KTP. Ia juga menambahkan dari jumlah tersebut, hanya 490 ton yang masuk ke TPA. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan kemana sampah-sampah itu berakhir.
“Dari 740 ton tadi, yang masuk ke TPA itu tinggal 490 ton. Sehingga sekitar 250 buah sampah yang tidak sampai ke TPA. lalu bagaimana sampah yang lainnya?” ujarnya
Proses Pengelolaan Pupuk Kompos
Dulu proses pembuatan pupuk kompos di TPA Supit Urang masih dilakukan dengan cara manual dengan melibatkan pekerja manusia untuk memilah sampah organik dan non organik. Proses yang dilalui dengan cara manual ini memakan waktu yang cukup lama hingga berbulan-bulan, akibatnya proses menjadi lambat dan memerlukan area yang luas.
Kini, suasana tampak berbeda di lokasi pengolahan kompos. TPA Supit Urang sudah menggunakan alat canggih berupa Compost Turner untuk mengolah sampah organik hingga dapat menghasilkan 15 ton kompos per-harinya. Alat ini mampu mempercepat proses penguraian bahan organik dalam waktu dua minggu hingga menghasilkan pupuk kompos dengan kadar nutrisi yang lebih stabil. Dilansir dari malangkota.go.id pupuk kompos TPA Supit Urang ini juga akan dibagikan secara gratis kepada warga sekitar, di sebar ke 57 kelurahan, pelaku usaha, hotel, dan komunitas.
Sementara itu, Arif Darmawan menyebut bahwa TPA Supit Urang selalu melakukan pemilahan sampah organik yang akan masuk proses pengomposan. Pemilahan juga dilakukan oleh banyak petugas untuk memastikan bahwa sampah yang akan melalui proses pengomposan tidak tercampur jenis sampah lain.
“Disini ada 25 orang yang bertugas memilah sampah-sampah organik, yang kebanyakan berasal dari pasar sebelum masuk ke proses composting,” Ujarnya.
Di tengah tantangan pengelolaan limbah di Kota Malang, TPA Supit Urang memberi contoh nyata bahwa masa depan hijau tidak hanya berdasar pada kebijakan, tetapi juga bentuk transformasi nyata untuk kemajuan lingkungan.