
Foto: Dok Pribadi/Natera
Di tengah udara dingin Kota Batu, berdiri Retrorika sebuah cafe ramah lingkungan yang lahir dari kegelisahan pemiliknya terhadap sampah yang kian menggunung setiap harinya. Greenpreunership ala Cafe Retrorika ini dengan konsep eco friendly dan tidak menyediakan barang sekali pakai, namun diganti dengan barang yang dapat digunakan kembali seperti sedotan anti karat, kain lap, dan lain-lain.
Cafe Retrorika dengan konsep eco friendly ini berdiri sejak 2018, jauh sebelum adanya istilah “ramah lingkungan” dan “zero waste” di kalangan masyarakat. Di saat sedotan stainless belum hits, Retrorika sudah menerapkannya dengan campaign membangun bisnis tanpa mengorbankan bumi.
Apa itu Green Entrepreunership?
Dilansir dari Binus, green enterpreunership atau greenpreunership adalah pendekatan bisnis yang mengintegrasikan prinsip-prinsip keberlanjutan dalam seluruh aspek operasional, dari hulu ke hilir. Greenpreneurship juga menciptakan solusi inovatif untuk masalah lingkungan sekaligus membangun bisnis yang profitable.
Meja dari Pintu Bekas Jadi Salah Satu Properti Vintage Khas Retrorika
Saat banyak cafe sedang berlomba-lomba untuk menciptakan nuansa aesthetic modern, Retrorika justru menciptakan konsep yang berbeda. Masuk ke dalam Retrorika seperti memasuki sebuah rumah seni daur ulang. Hampir semua properti adalah barang bekas yang dipilih dengan pendekatan estetika.
“Kami memanfaatkan barang bekas bukan karena murah, tapi karena kami tidak ingin menambah residu sampah untuk lingkungan,” kata Ibu Ismi Wahid, pemilik cafe Retrorika.
Uniknya, seluruh barang bekas yang dijadikan ornamen di cafe ini merupakan barang rongsokan dari Mojokerto.
“Karena semua barang-barang rosokan masuknya ke Mojokerto, jadi dari situ suami saya hunting mencari sesuatu untuk dijadikan dekorasi,” ungkap Bu Ismi.
Ketika banyak cafe memilih furnitur baru untuk menciptakan estetika yang rapih dan modern, Retrorika justru sebaliknya. Mereka mengumpulkan barang bekas dari berbagai tempat untuk kemudian diolah menjadi furnitur yang bernilai estetis dan memiliki karakter.
“Kami tidak ingin menambah residu sampah,” ujar Ismi.

Foto: Dok Pribadi/Natera
Salah satu praktik ramah lingkungan yang tak biasa dilakukan kebanyakan cafe, Retrorika menerapkan diskon bagi pelanggan yang membawa tumblr atau wadah makanan sendiri. Hal ini mereka terapkan sebagai bentuk reward karena telah berkontribusi untuk mengurangi sampah. Ritrorika memberikan dua jenis diskon bagi pelanggan dengan kriteria seperti:
- 10% diskon bagi pelanggan yang membawa tumbler atau food container pribadi.
- 20% diskon untuk pelanggan yang membawa besek (wadah anyaman bambu) tradisional yang kini jarang dipakai generasi muda.
Diskon bukan sekedar potongan harga namun bagian dari campaign mereka untuk mengubah pola konsumsi masyarakat. Bagi Retrorika setiap gelas yang tidak menggunakan plastik adalah langkah kecil yang bernilai besar.
Dalam konsep greenpreunership ala Cafe Retrorika, edukasi tidak dilakukan melalui poster atau ceramah. Edukasi dilakukan melalui pengalaman, seperti duduk di meja pintu bekas, memakai sedotan bambu, atau menerima diskon saat membawa tumbler. Semua itu akan membentuk kebiasaan baru yang baik yang tumbuh dari penghargaan, bukan paksaan.
Pada akhirnya, Retrorika bukan hanya tentang secangkir kopi hangat di tengah dinginnya Kota Batu. Ia adalah contoh nyata bahwa perubahan bisa dimulai dari hal yang sederhana. Seperti, pemilihan wadah, bahan dekorasi, hingga kebiasaan membawa tumbler dari rumah. Di ruang sederhana ini, keberlanjutan tidak digaungkan dengan gamblang, namun dipraktikkan dengan perlahan melalui tindakan harian.
Di tengah gunungan sampah yang terus bertambah, Retrorika mengingatkan kita bahwa bumi tak butuh kampanye yang besar, ia hanya butuh lebih banyak keberanian untuk memilih yang ramah. Dan dari sebuah meja yang pernah menjadi pintu tua, hingga diskon kecil sebagai reward, kita belajar bahwa setiap keputusan bisa menjadi langkah kecil yang menyelamatkan masa depan.
Karena menjaga lingkungan bukan tren, tetapi cara merawat rumah kita bersama.