
Foto : Dok Pribadi/Natera
Di tengah laut sampah plastik yang mencemari Indonesia, sebuah platform digital hadir dengan solusi nyata. PlasticPay hadir mengubah botol plastik bekas yang ada di tanganmu menjadi mata rantai ekonomi sirkular yang menguntungkan masyarakat dan bumi.
Pernahkah Naters membayangkan 60.000 ekor paus biru dewasa berenang bersamaan? Sungguh besar bukan? Data BPS tahun 2024 mencatat, sampah plastik nasional mencapai 7,68 juta ton, dan angka itu setara dengan bobot yang luar biasa besar itu.
Yang lebih mencengangkan, riset BRIN mengungkapkan Indonesia kini menduduki peringkat kedua dunia sebagai penghasil sampah plastik terbesar. Lebih dari 60% dari gunungan plastik tersebut berasal dari kemasan sekali pakai, seperti botol minuman, kantong belanja, dan bungkus makanan yang kita gunakan hanya sekitar 15 menit sebelum berakhir di tempat sampah atau lebih buruk, di sungai dan lautan.
Di tengah situasi ini, plastik bukan lagi sekadar masalah kecil melainkan krisis ekologi yang bisa menggerogoti bumi lapis demi lapisnya. Namun, dari tumpukan masalah itu, lahir sebuah cerita tentang perubahan.
Percakapan yang Melahirkan PlasticPay
Suhendra Setiadi, seorang founder sekaligus CEO PlasticPay, tak pernah menyangka bahwa obrolan santai dengan seorang teman lama akan mengubah jalan hidupnya. Saat itu, Februari 2019, sang teman yang bergerak di bidang daur ulang mengeluh karena bahan baku impornya tertahan di pelabuhan. Ketika Ia bertanya bahan baku apa yang dimaksud, jawabannya membuatnya terhenyak,
“Partner saya bilang, saya mengimpor sampah botol plastik.”
Momen itu menjadi titik balik. Bagaimana mungkin Indonesia, yang tengah bergulat dengan masalah sampah plastiknya sendiri, justru mengimpor sampah botol dari luar negeri?
Suhendra, yang sebelumnya berkarier 15 tahun di perusahaan produsen popok dan pembalut wanita, menyadari betapa paradoksalnya situasi ini. Ia pun memutuskan untuk menciptakan sebuah sistem yang mampu mengubah sampah menjadi sumber daya bernilai, sekaligus mengajak masyarakat terlibat langsung.
Dari sanalah PlasticPay lahir. Sebuah platform eco-social digital yang bukan hanya mengelola sampah, tetapi mengajak masyarakat menjadikan daur ulang sebagai gaya hidup.
RVM, Mesin Ajaib yang Ubah Sampah Jadi Cuan
Salah satu inovasi unggulan PlasticPay adalah Reverse Vending Machine (RVM), yaitu sebuah mesin penukar sampah botol plastik dengan sistem reward berbasis poin. RVM memudahkan masyarakat mendaur ulang sampahnya tanpa ribet. Siapa pun dapat membawa botol plastik bekas dan menukarnya dengan poin, yang dapat diubah menjadi saldo e-money atau produk menarik lainnya.

Foto : Dok Pribadi/Natera
Tata cara penggunaannya pun sederhana :
- Unduh aplikasi PlasticPay dan daftar akun.
- Kumpulkan minimal 5 botol plastik bekas.
- Bawa ke lokasi RVM, klik “Mulai” di layar, dan masukkan botol satu per satu.
- Setelah selesai, klik “Ambil Poin”, pindai QR code yang muncul, dan poin langsung masuk ke akun.
“PlasticPay mendapatkan sampah langsung dari masyarakat, jadi itu betul-betul post-consumer product,” jelas Suhendra.
Sistem ini tidak hanya mendorong pemilahan sampah sejak dari sumber, tetapi juga menciptakan kesadaran bahwa setiap botol plastik memiliki nilai. Saat ini, RVM PlasticPay telah tersebar di lebih dari 900 titik di berbagai kota di Indonesia, termasuk di kampus, rumah sakit, dan ruang publik lainnya.
Ekonomi Sirkular yang Ubah Botol Plastikmu jadi Produk UMKM
PlasticPay tidak berhenti pada pengumpulan sampah. Mereka memastikan setiap botol plastik yang terkumpul melalui proses daur ulang yang berkelanjutan. Setelah dikumpulkan, botol-botol tersebut melalui proses pemilahan, pencucian, pencacahan, hingga menjadi serpihan plastik (flakes).
Namun, PlasticPay tidak menjual flakes begitu saja. Mereka melanjutkan proses hilirisasi dengan mengubahnya menjadi recycled staple fiber, lalu menjadi felt atau bahan dasar untuk berbagai produk kerajinan.
Di sinilah konsep ekonomi sirkular benar-benar terwujud. Felt hasil daur ulang ini kemudian dikerjasamakan dengan UMKM, terutama dengan salah satu komunitas yang melibatkan lebih dari 500 pelaku UMKM wanita. Dari bahan yang berasal dari sampah botol plastik, terciptalah beragam produk upcycle seperti tas, dompet, dan aksesori lainnya.
“Sampah dari masyarakat, kembali lagi ke masyarakat, inilah yang disebut ekonomi sirkular,” tegas Suhendra.
Setiap bulan, PlasticPay mengumpulkan sekitar 13–15 ton sampah botol plastik, atau setara dengan puluhan juta botol. Angka ini terus meningkat seiring kesadaran masyarakat yang tumbuh.
RVM PlasticPay Bisa Ditemukan di Malang!
Di Kota Malang, gerakan daur ulang PlasticPay juga telah menjangkau lokasi-lokasi strategis. Selain di lingkungan internal Universitas Negeri Malang (UM), kini masyarakat Malang juga dapat mengakses RVM PlasticPay di Rumah Sakit Lavalette. Kehadiran RVM di rumah sakit ini bukan hanya fasilitas tambahan, melainkan bagian dari komitmen untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan sadar sampah.
“Dengan bangga kami umumkan, sejak Jumat, 20 September 2024, RVM PlasticPay x BSI resmi hadir di Rumah Sakit Lavalette Malang,” tulis PlasticPay dalam pengumuman resminya di Instagram.

Foto : Dok Pribadi/Natera
Di selasar IHC RS Lavalette, pengunjung, pasien, maupun tenaga kesehatan kini dapat dengan mudah menukarkan botol plastik bekas menjadi poin melalui Reverse Vending Machine yang terpasang di sana. Ini adalah langkah kecil yang mengubah ruang publik menjadi titik pempulan sampah yang produktif.
Yuk, Jadi Bagian dari Solusi Bersama PlasticPay Sekarang!
PlasticPay membuktikan bahwa sampah plastik bukanlah akhir cerita, melainkan awal dari rantai nilai baru. Melalui kombinasi teknologi, kemitraan, dan partisipasi masyarakat, mereka telah menciptakan sistem yang tidak hanya membersihkan lingkungan, tetapi juga memberdayakan ekonomi lokal.

Foto : Dok Pribadi/Natera
Kini, mesin RVM sudah ada di dekat kita, di titik-titik yang mudah dijangkau. Setiap botol plastik yang kita setor tidak hanya menguntungkan diri sendiri lewat poin yang didapat, tetapi berkontribusi pada gerakan yang lebih besar, mengembalikan sampah menjadi sumber daya, dan menjaga bumi dari timbunan plastik.
Mari mulai bergerak! Unduh aplikasinya, kumpulkan botolmu, dan jadilah bagian dari solusi. Karena setiap botol yang didaur ulang adalah langkah kecil menuju Indonesia yang lebih bersih dan berkelanjutan!