
Foto : Dok Pribadi/Natera.
Hello Naters!-Di saat sebagian besar kafe masih akrab dengan styrofoam dan cup plastik, Retrorika mengambil jalur yang lebih menantang menggantinya dengan besek bambu dan tumbler kaca sebagai kemasan take away. Bagi mereka, menjadi kafe ramah lingkungan bukan sekadar slogan, tapi keputusan sebuah langkah kecil menuju kafe yang benar-benar ramah lingkungan.
Ketika Semua Kafe Pakai Plastik, Retrorika Memilih Berbeda.
Dalam dunia kafe dan industri Food and Beverage (F&B), styrofoam dan cup plastik sudah seperti menjadi paket standar dalam setiap pesanan take away. Karena lebih praktis, murah, dan mudah untuk ditemui dimana mana. Tapi Retrorika justru menantang kebiasaan itu, Alih-alih membungkus makanan dengan wadah sekali pakai, kafe ini memilih langkah yang lebih modern dan ramah lingkungan. semua menu take away disajikan dalam besek bambu, sementara minumannya dikemas menggunakan tumbler kaca yang bisa dipakai berulang kali.

Foto : Dok Pribadi/Natera.
“Memang kelihatanya lebih ribet ya, tapi balik lagi saya ingin menerapkan bisnis green entrepreneur di cafe ini” ujar Ismi Wahid owner caffe retrorika, saat wawancara bersama tim natera.
Berbeda dari kebanyakan kafe yang membebankan biaya tambahan untuk kemasan sekali pakai, Retrorika justru menerapkan tarif khusus untuk kemasan ramah lingkungan namun tetap dibuat agar tidak memberatkan pelanggan. Untuk pesanan makanan, besek bambu dihargai Rp2.500, sedangkan minuman take away menggunakan tumbler kaca seharga Rp8.000. biaya tersebut bukan dimaksudkan untuk menjual wadah, melainkan mengajak pelanggan membeli kesadaran.
Besek Bambu Kembali ke Tradisi yang Ramah Bumi
Di Retrorika, keputusan menggunakan besek bambu bukan sekadar pilihan estetika atau gimmick ramah lingkungan. Besek Menjadi Jembatan antara tradisi lokal dan gaya hidup modern yang lebih sadar bumi.
Besek sendiri bukan barang baru dalam budaya Jawa dan Nusantara. Dilansir dari Kompas besek sudah ada sejak sekitar tahun 400 M atau pada masa kerajaan Hindu Buddha di Indonesia. Jauh sebelum plastik ditemukan, masyarakat indonesia lebih dulu menggunakan besek sebagai wadah serbaguna tempat menyimpan beras, wadah makanan kenduri, hingga tempat jualan jajanan pasar. Karena barangnya yang ringan, dan terbuat dari bambu material yang tumbuh cepat dan tersedia melimpah di banyak desa.
Bambu menjadi salah satu tanaman dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Dalam kondisi ideal, bambu bisa tumbuh 60–90 cm per hari, tanpa membutuhkan pupuk kimia atau perawatan intensif hanya dengan membutuhkan air yang cukup. Maka dari itu penggunaan bambu sebagai bahan kemasan memiliki jejak karbon yang jauh lebih kecil dibandingkan produksi plastik sekali pakai.

Foto : Dok Pribadi/Natera.
Berbeda dengan styrofoam dan plastik yang butuh ratusan tahun untuk hilang dari muka bumi, besek bambu justru kembali menjadi tanah hanya dalam hitungan bulan. Ia terurai secara alami tanpa residu beracun, tanpa bahan kimia tambahan, dan tanpa proses panjang yang membebani lingkungan.
Yang paling penting, penggunaan besek tidak meninggalkan jejak sampah seperti plastik sekali pakai yang mudah berubah menjadi mikroplastik dan akhirnya masuk ke rantai makanan manusia. Dengan kata lain, besek adalah bentuk kemasan yang tak hanya fungsional, tapi juga masa depan yang lebih bersih dan aman bagi bumi.
Tumbler Kaca Menegaskan bahwa Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bukan Tren Sementara.
Minuman take away umumnya selalu identik dengan cup plastik sekali pakai terutama di kota wisata seperti Batu, di mana arus wisatawan terus mendorong produksi sampah harian. Dilansir Kompas, gelas plastik bahkan menjadi jenis sampah terbanyak kedua, dengan jumlah mencapai 135.383 buah hanya dalam satu periode pemantauan.
Di tengah kondisi itu, Retrorika mengambil langkah berbeda. Alih-alih ikut arus memakai cup plastik, mereka memilih tumbler kaca sebagai wadah take away. Pilihan ini bukan sekadar terlihat lebih estetik atau “Gen Z Friendly”, tapi karena tumbler kaca jauh lebih tahan lama, bisa dipakai berulang kali, dan tidak meninggalkan jejak sampah setelah minuman habis.

Foto : Dok Pribadi/Natera.
“Bayar 8.000 itu sudah otomatis punya tumbler take away retrorika” ujar ismi.
Disitulah strategi Retrorika, karena pelanggan bisa membawanya kembali ke kafe untuk isi ulang minuman berikutnya dengan potongan harga 10%, atau menggunakannya di rumah sebagai gelas harian.