Sustainability Versi Thrills4Life: Dari Alam Kembali ke Alam

Produk fashion ecoprint ala Thrills4Life, mulai dari baju hingga topi yang stylish
Foto: Dok Pribadi/Natera

Kota Malang – Thrills4Life, sebuah UMKM ecoprint sekaligus upcycle di Kota Malang, menghadirkan konsep sustainability yang tidak hanya berbicara soal produk ramah lingkungan, tetapi juga soal bagaimana sebuah proses kreatif bisa kembali menyatu dengan siklus alam. Dengan memanfaatkan daun dan limbah plastik sebagai bahan utama, usaha ini membuktikan bahwa kreativitas yang tepat dapat menjadi solusi nyata bagi persoalan sampah kota.

Di halaman rumahnya, Cecilia Triputri Wardhani pendiri Thrills4Life, UMKM ecoprint di Kota Malang begitu telaten memisahkan daun-daun jati, ketepeng kebo, hingga daun mentor yang baru dipetik. Sebagian akan ia tata di atas kain sebagai motif ecoprint, sementara daun lain yang tak lagi digunakan akan kembali masuk ke lubang kompos di sudut rumah. Dari ruang kecil itu, Thrills4Life tumbuh sebagai gerakan yang berangkat dari cinta pada tanaman serta keresahan pada tumpukan sampah yang kian menggunung di Malang.

“Awalnya saya memang suka tanaman, tapi makin ke sini saya jadi dekat dengan isu lingkungan,” ujar Cecilia.

Baginya, hobi itu perlahan melahirkan kesadaran baru bahwa kreativitas tidak harus menimbulkan limbah bahkan justru dapat menjadi bagian dari solusi. Dari pemikiran itu, lahirlah dua lini produk: Trilogic, yang berfokus pada ecoprint berbahan daun asli, dan Plastika Art, yang mengolah kantong kresek bekas menjadi material baru seperti pouch dan tas.

Dari Sampah Jadi Tanah Subur

Salah satu prinsip sustainability yang jarang dibahas dalam dunia ecoprint adalah proses pengembalian material ke alam. Bagi Cecilia, keberlanjutan bukan sekadar label hijau atau gimmick pemasaran. Ia adalah sistem yang harus bekerja dari awal hingga akhir produksi.

Dalam ecoprint, daun menjadi elemen utama. Prosesnya dimulai dari pemilahan daun yang sangat hati-hati memperhatikan musim, ketebalan daun, hingga kondisi air hujan yang dapat memengaruhi pigmen warna. Setiap helai daun membawa karakter unik, dan justru keunikan itulah yang membuat motif ecoprint selalu berbeda.

Namun setelah kain selesai diproses, daun-daun bekas biasanya akan menjadi limbah. Di Thrills4Life, daun-daun itu tidak dibuang. Mereka memasuki fase baru: proses pengomposan.

Seluruh residu organik daun bekas rebusan, tangkai, hingga air rendaman dikumpulkan di satu wadah kompos. Selama berminggu-minggu, bahan-bahan itu perlahan terurai menjadi tanah subur. Kompos inilah yang kemudian digunakan kembali untuk merawat tanaman yang nantinya akan menjadi sumber daun baru. Siklusnya sempurna. Tidak ada yang terputus dan tidak ada yang terbuang.

Inilah yang membuat ecoprint versi Thrills4Life begitu istimewa:

  • Tidak ada sampah daun yang dibuang, semuanya berakhir sebagai kompos.
  • Tidak ada pewarna sintetis, sehingga air sisa produksi tetap aman bagi tanah.
  • Tidak ada proses yang merusak, karena setiap langkah mendukung siklus alami.

Bagi Cecilia, keberlanjutan bukan sekadar konsep abstrak, tetapi praktik sederhana yang dapat dilakukan dari rumah asal dilakukan dengan konsisten.

Edukasi sebagai Bagian dari Sustainaility

Meski prosesnya alami dan berkelanjutan, Cecilia mengakui bahwa tantangan terbesar ecoprint justru berada pada sisi edukasi. Banyak orang belum memahami bahwa warna alami tidak akan sekuat pewarna sintetis. Warna daun sangat dipengaruhi musim, usia daun, dan suhu saat proses berlangsung. Keunikan itu justru menjadi nilai, bukan kekurangan.

“Hal paling melelahkan tapi penting dalam menjalankan bisnis ini adalah edukasi. Kita harus menjelaskan berkali-kali bahwa proses ini real sustainable,” ungkapnya.

Edukasi yang dilakukan Cecilia untuk menggaungkan sustainability
Foto: Dok Pribadi/Natera

Setiap produk Thrills4Life selalu disertai kartu kecil berisi penjelasan tentang daun yang digunakan, bagaimana pigmennya bekerja, dan dari mana warna itu berasal. Narasi itu bukan sekadar pelengkap, melainkan menjadi bagian penting dari upaya meningkatkan literasi konsumen tentang produk ramah lingkungan.

Cecilia ingin orang memahami bahwa ketika mereka membeli ecoprint, mereka tidak hanya membeli visual. Mereka sedang membeli proses panjang yang menjaga siklus alam tetap hidup.

Ecoprint Jadi Media Menjaga Siklus Alam

Thrills4Life menunjukkan bahwa ecoprint bisa menjadi lebih dari sekadar karya seni. Ia adalah praktik ekologis yang menghormati siklus hidup daun dari tumbuh, dipetik, digunakan, hingga kembali menjadi tanah yang menyuburkan tanaman baru.

Dengan mengembalikan daun menjadi kompos, Cecilia memastikan bahwa proses kreatifnya tidak berhenti pada produk akhir. Ia berlanjut pada tanah, tumbuhan, dan keseluruhan ekosistem kecil di sekeliling rumahnya.

Filosofi sustainability Thrills4Life sederhana namun cukup dalam:

“Ambil secukupnya dari alam, manfaatkan sebaiknya, lalu kembalikan selembutnya.”

Dari halaman kecil di Malang, siklus itu terus berputar, daun tumbuh, daun memberi warna, dan daun kembali menyuburkan bumi yang sama. Ini bukan hanya ecoprint, lebih dari itu ini adalah cara hidup.

Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.