
Foto : Dok Pribadi/Natera
Di tengah tumpukan deadline dan tugas yang tak kunjung berhenti, kita selalu menyempatkan pada diri kita untuk ke kafe. Memesan kopi, menyeruputnya perlahan, lalu menghabiskannya sampai tak tersisa. Tapi di tengah rutinitas itu, jarang sekali kita berhenti sejenak untuk bertanya “ke mana perginya ampas kopi yang seharusnya tertinggal di dasar cangkir kita?
Setelah sarinya terseduh, banyak orang membuang ampas begitu saja. Namun, coba bayangkan ada berapa banyak cangkir kopi yang habis dalam sehari di sebuah kafe tersebut? Dan itu baru satu titik di tengah ribuan, bahkan jutaan kafe yang beroperasi di seluruh Indonesia. Semua ampas itu menumpuk, menjadi gunungan limbah basah yang tak pernah kita lihat.
Ancaman yang Tersembunyi di Balik Nikmatnya Kopi
Di balik tren ngopi yang semakin menjamur, ada ancaman lingkungan yang jarang kiita sadari. Banyak sisa ampas yang berakhir menjadi sampah, entah di wastafel, selokan, atau bercampur dengan sampah rumah tangga, meninggalkan risiko yang sering luput dari perhatian masyarakat.
Faktanya, ampas bukan berarti limbah ramah lingkungan. Melansir dari laman Waste4Change, jika berakhir di sembarang tempat, ampas kopi bisa bersifat racun karena mengandung kafein, tanin, dan polifenol yang sulit terurai. Proses penguraiannya juga membutuhkan oksigen dalam jumlah besar, meningkatkan risiko pencemaran perairan.
Ampas Kopi di Mata Retrorika
Di tengah persoalan lingkungan tersebut, sebuah kafe di Kota Batu melihat limbah ampas kopi dengan kacamatanya sendiri. Retrorika melihat tumpukan ampas bukan sebagai limbah. Mereka menolak membuang langsung ampas kopinya ke tempat sampah.
Bagi Retrorika, ampas kopi adalah awal dari siklus baru yang berkelanjutan. Lalu, ke mana perginya ampas kopi itu? Di ruang pengolahan kompos organik milik Retrorika pun, tidak terlihat tumpukan ampas sama sekali.

Foto : Dok Pribadi/Natera
“Kalau ampas kopi kami ada mitranya sendiri. Jadi, Retrorika kan kalau kopinya ngambil dari petani lokal. Ampas kopi nanti dikumpulkan, disetorkan ke petani-petani.” Jelas Refan sambil mengecek kompos di dalam bak.
Retrorika bermitra dengan roastery kopi lokal di Malang. Ampas kopi yang terkumpul menyalur kembali ke petani untuk kebun mereka, memastikan limbah tidak terbuang sia-sia, tetapi kembali menjadi nutrisi alami yang bermanfaat bagi tanaman kopi.
Melihat Lebih Jauh di Dalam Bar
Di dapur Retrorika, sampah sudah terpilah rapi menjadi tiga bagian berbeda. Tak jauh dari situ, di bar, Retrorika tak membiarkan sisa ampas kopi luput dari pengelolaan. Ismi wahid, CEO Retrorika menarik sebuah tong di bawah meja, dan menunjukkan ampas-ampas yang terkumpul di dalam tong tersebut.

Foto : Dok Pribadi/Natera
“Iya, disimpan dulu di tong gitu. Kalau udah penuh, baru diambil sama petani di bar,” jelasnya.
Tong itu biasanya penuh dalam dua bulan, lalu petani datang mengangkutnya untuk diolah menjadi pupuk alami.
Jadi selain mitra roastery mereka menjual produk kopinya, mereka juga menerima limbah ampas tersebut. Ampas yang terkumpul kemudian disalurkan kepada petani lokal untuk dijadikan pupuk, menciptakan siklus timbal balik, dari kebun, lalu kembali lagi menyuburkan kebun.

Foto : Dok Pribadi/Natera
Konsep “Green Barista” ala Retrorika
“Retrorika mau membranding bahwa baristanya dan roastery kami adalah green barista,” kata Ismi.
Mereka punya kebun kopi sendiri di UB Forest Karangploso, dan dikelola petani lokal dengan teliti. Sehingga kopi dari kebun masuk roastery, lalu disajikan di bar, dan kembali lagi pada siklus sirkular mereka.
“Jadi, sirkular ekonomi, itu jalan gitu loh,” tambahnya.
Retrorika dari awal sudah konsisten mengelola 85% sampahnya sendiri. Mereka juga membuat alur untuk ampas kopi, dan membuktikan ekonomi sirkular bisa berjalan dengan mudah, asal ada niat dan konsisten. Mereka membangun ekosistem yang menghubungkan konsumen, kedai kopi, roastery, dan petani.
Kenapa Kopi Lokal Arjuna?
Sebagian besar pelanggan Retrorika adalah wisatawan, yang tentunya mencari kopi otentik dari petani lokal.
“Jadi kalau itu Arjuna nih, yang otentik,” Ujar Ismi bangga sambil menunjuk minuman kopi di meja.
Kemudian, pemilihan Arjuna ini juga dikarenakan Petani mendapat kembali ampas kopinya, yang mereka olah menjadi pupuk alami untuk kebun mereka sendiri.

Foto : Dok Pribadi/Natera
“Pengolahannya kayaknya fermentasi aja,” tambahnya menjelaskan proses sederhana yang dilakukan oleh kemitraannya.
Apa yang bisa dilakukan dengan Ampas Kopi
Pertanyaan muncul, apakah ampas kopi benar-benar pupuk efektif dan aman untuk semua tanaman?
Ampas kopi kaya nitrogen dan bersifat asam, cocok untuk beberapa jenis tanaman tertentu.
Namun, kandungan garam dan jamur bisa berbahaya jika digunakan berlebihan. sehingga penggunaannya memerlukan pengetahuan yang tepat dan dosis yang pas.
Sebelum meneguk kopi berikutnya, berhentilah sejenak dan tanya kepada dir kita “ke mana ampas itu pergi?” Setiap cangkir yang kita habiskan bisa menjadi awal perubahan jika kita lebih bijak memikirkan limbah dan lingkungannya.