
Kota Malang – Di sebuah rumah di kawasan Bunul, Kota Malang, tumpukan sampah pernah mendapat hidup baru yang jauh lebih megah dari sekadar berakhir di tempat pembuangan. Di tangan Yustin, pemilik Yust Collection sekaligus pendiri brand daur ulang TSUY, plastik kresek, koran bekas, hingga kain perca berubah menjadi kostum karnaval yang tampil di panggung besar, mulai dari Malang Flower Carnival hingga Jambore Sampah Nasional di Bali.
Bagi Yustin, sampah bukan penutup cerita melainkan titik awal kreativitas.
Dari Karang Taruna ke Panggung Festival
Perjalanan Yustin tidak langsung bermula dari panggung megah. Semua berawal ketika ia menghadiri peringatan Hari Kartini di RW sebagai Ketua Karang Taruna. Saat melihat karya daur ulang di acara itu, ia merasa gelisah.
“Daur ulang ini ibu-ibu yang bikin, atau anak-anak yang bikin ya?” begitu ia membatin.
Setelah pulang, ia menyiapkan dua kardus dan mengisinya dengan sekitar sepuluh jenis sampah yang masih bisa diolah. Selama seminggu, ia bereksperimen di kamar. Bungkus deterjen, kardus, hingga plastik sekali pakai ia ubah menjadi berbagai bentuk kerajinan.
Hasilnya membuat keluarganya heboh. Yustin lalu membawa karya-karya itu ke ibu-ibu PKK RT, kemudian ke PKK RW, hingga akhirnya ke kelurahan. RW tempat tinggalnya ditunjuk mewakili lomba “Kampung Bersinar”, dan Yustin resmi bergabung sebagai kader lingkungan.
Dari ruang tamu kampung, jalannya menuju dunia kostum karnaval mulai terbuka.
Kostum dari Koran, Plastik, dan Perca
Setelah membuat banyak kerajinan kecil, Yustin mulai naik level. Ia memasuki dunia kostum karnaval berbahan daur ulang.
Pada 2016–2018, Yustin rutin mengikuti Malang Flower Carnival dengan kostum kreasi sendiri. Setiap busana memiliki struktur lengkap: rok besar, sayap, mahkota, tongkat, hingga aksesori kecil yang seluruhnya ia rancang dari barang bekas.
Ia membuat salah satu kostum dari ratusan gulungan koran. Setiap lembar ia linting, warnai, lalu susun menjadi tekstur rumit. Kostum lain berasal dari plastik kresek yang ia iris menjadi tali panjang sebelum dirajut menjadi sayap raksasa.
Seri “Power of Perca” hadir ketika Yustin ingin menghabiskan limbah tekstil dari konveksi. Potongan kecil kain sisa ia satukan menjadi satu busana penuh energi.
Di balik satu kostum, ada ratusan bahkan ribuan potongan sampah yang terselamatkan dari timbunan limbah.

Sekolah, Hotel, hingga Ajang Lomba
Kostum daur ulang milik Yustin tidak hanya tampil di festival besar. Banyak sekolah terutama SMK menyewa kostum TSUY untuk lomba karnaval. Ada satu kostum koran yang membuat siswi pemakainya menang lomba, lalu sekolah memutuskan membeli kostum itu sebagai inventaris.
Sebuah hotel juga pernah membeli kostum usai dipakai dalam acara. Yustin tidak tahu apakah pembelinya turis atau orang lokal, namun ia tahu satu hal: karyanya dihargai.
Beberapa kostum plastik juga berpindah tangan setelah tampil di lomba. Banyak pembeli membayar bukan hanya karena bentuknya yang indah, tetapi karena memahami rumitnya proses kreatif di baliknya.
“Yang mereka lihat itu tingkat kerumitannya,” kata Yustin.
Lelah Ruang & Waktu: Saat Memilih Berhenti
Meski perjalanan kostum daur ulang itu berkilau, Yustin menghadapi tantangan besar. Satu kostum saja sudah memakan begitu banyak ruang karena terdiri dari rok lebar, sayap besar, hingga tongkat. Jika dikalikan sepuluh, bengkel kecil di rumahnya langsung penuh sesak.
Selain itu, stok sampah yang ia kumpulkan terserap habis untuk kebutuhan kostum, sementara ia juga membutuhkan bahan untuk membuat tas, suvenir, hingga modul pelatihan.
Tahun ini, Yustin akhirnya memilih berhenti membuat kostum karnaval. Pada Agustus, ia meminjamkan beberapa kostum terakhir, lalu memberikan kostum itu kepada peminjam. Keputusan melepaskan karya bukan karena ia tidak menghargainya sebaliknya, keputusan itu memberi ruang baru untuk fokus pada produk yang lebih fungsional dan berkelanjutan.
Yustin kini mengalihkan fokus pada tas dan produk sehari-hari, namun jejak “fashion dari sampah” tetap menjadi tonggak penting dalam perjalanan kreatifnya.
Daur Ulang sebagai Ruang Belajar, Bukan Sekadar Gaya
Di balik semua karya itu, ada satu benang merah: edukasi. Hampir setiap proses kreatif Yustin berujung pada kegiatan berbagi ilmu. Ia pernah mengisi pelatihan gratis se-RW, menerima undangan dari dinas dan kampus, serta membimbing mahasiswa magang yang kemudian mendirikan usaha daur ulang sendiri di Kalimantan dan kota lainnya.
Bagi Yustin, fashion berbahan limbah bukan tren “eco-chic”. Ia adalah cara untuk memperlihatkan bahwa sampah punya peluang kedua.
Kostum itu memang sudah tidak ia buat lagi, tetapi dampaknya tetap menyebar: kepada siswa yang memakainya, penonton yang terkagum-kagum, hingga pembeli yang rela membayar lebih karena menghargai prosesnya.
Dari sudut pandang Natera, apa yang dilakukan Yust Collection dan TSUY menegaskan bahwa fashion berkelanjutan tidak selalu lahir dari studio besar. Kadang, ia tumbuh pelan-pelan di sebuah rumah kecil di kampung, dari kresek merah yang tidak seragam warnanya, dari koran yang dilinting hingga jari pegal, dan dari keberanian seorang perempuan untuk berkata, “Sampah ini bisa jadi sesuatu.”
Dan mungkin, di masa depan, panggung karnaval akan menampilkan lebih banyak karya daur ulang yang lahir dari kampung-kampung seperti Bunul tempat di mana pakaian megah pernah tercipta dari hal yang paling sederhana: sampah yang tidak disia-siakan.