
Foto: Dok Pribadi/Natera
Malang, ampas gorengan yang biasanya dibuang kini dibeli oleh PALIM (Pahlawan Limbah) dengan skema kompensasi tunai yang berjalan setiap hari di berbagai permukiman. Program ini muncul karena banyak warga belum tahu cara mengelola limbah dapur, sehingga PALIM menawarkan cara sederhana: kumpulkan, setor, dan langsung dapat uang.
Di banyak dapur rumah dan warung gorengan, sisa remahan tepung yang menghitam biasanya tidak lebih dari gangguan kecil. Ia jatuh ke dasar wajan, mengeras, lalu dibuang tanpa pikir panjang. Tapi di Malang, limbah dapur kecil itu mulai punya cerita baru: ia bisa berubah menjadi uang tunai.
Cerita ini dimulai dari langkah sederhana seorang pria bernama Hari Supriyatno, pendiri PALIM (Pahlawan Limbah), Selain dengan minyak jelantah nya yang diekspor kebelanda, Dari security menjadi pendiri Pahlawan Limbah , dari sisa ampas gorengan bisa jadi cuan .
“Berapa pun adanya, tetap saya ambil,” katanya sambil tersenyum, mengingat masa-masa awal ketika banyak orang ragu dengan idenya
Skema PALIM sangat sederhana, warga mengumpulkan minyak bekas dan ampas gorengan dalam wadah, lalu ketika Hari datang, ia menimbang dan langsung memberi kompensasi tunai.
“Orang maunya langsung pegang uangnya. Kalau sistemnya ribet, mereka nggak akan ikut.” Ujar hari supriyatno
Ampas Gorengan yang Mengubah Kebiasaan

Foto; Dok Pribadi/Natera
Untuk minyak jelantah, rata-rata kompensasinya Rp5.000 per liter atau Rp6.000 per kilogram. Pola serupa juga diterapkan pada ampas gorengan, karena keduanya sama-sama limbah yang bisa diolah kembali di jaringan mitra PALIM
Jumlahnya tidak besar, tapi terasa. Ibu-ibu rumah tangga bilang uang itu cukup untuk menambah belanja sayur. Pedagang gorengan merasa lebih lega karena limbah mereka tidak numpuk. Sementara mahasiswa kos ya, mereka senang karena bisa dapat uang ngopi dadakan.
Di titik ini, perubahan kecil mulai terjadi warga yang dahulu membuang ampas gorengan ke selokan kini menyimpannya di wadah kecil. Wadah itu ditempatkan di dekat kompor agar limbah tidak bercampur dengan sampah lain sebelum PALIM datang.
“Dulu dibuang sembarangan. Sekarang disimpan karena tahu bisa ditukar, Kalau cuma dibilang merusak lingkungan, biasanya nggak terlalu didengar.” Ujar Hari
Apa yang dilakukan PALIM bukan kebetulan. Penelitian menunjukkan bahwa insentif ekonomi kecil adalah pendorong paling efektif dalam meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah. Banyak penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa kampanye lingkungan tanpa insentif jarang efektif. Studi dari Journal of Material Cycles and Waste Management (2020) menegaskan bahwa kompensasi finansial memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku memilah sampah.
Sampah Dapur Memang Serius
Menurut data KLHK, limbah minyak dan sisa gorengan yang dibuang sembarangan dapat menyumbat saluran air dan mencemari sungai karena sifatnya yang sulit terurai..
Selain itu, data SIPSN KLHK mencatat bahwa limbah dapur merupakan penyumbang terbesar sampah organik rumah tangga di Indonesia sebuah masalah yang selama ini jarang tersentuh.
Di Malang sendiri, sebagian besar sampah dapur masih menyatu dengan sampah umum. Padahal, jika dikelola, minyak dan ampas gorengan bisa masuk ke rantai ekonomi sirkular seperti yang dilakukan PALIM.
Dan di sinilah nilai unik dari gerakan ini: PALIM bekerja tanpa fasilitas besar, tanpa dukungan institusi, hanya mengandalkan kebiasaan harian warga. Jika satu kota kecil saja bisa memulai model seperti ini, mengapa kota lain tidak?
Rantai Kecil yang Berputar: Dari Dapur ke Dompet
Setiap hari, PALIM melakukan sekitar 20–25 titik pengambilan limbah dari perkampungan sampai kawasan kos mahasiswa.
Warga menyerahkan limbah, menerima uang tunai. Yang paling menarik bukan sekadar alurnya, melainkan ekosistem sosialnya. Warga merasa dihargai, bukan digurui. Hari juga melihat para penyetor sebagai “mitra”, bukan “pemberi sampah”.
Kadang ia menyebut penyetor sebagai “ATM berjalan”bukan dalam makna merendahkan, tapi mengakui bahwa setiap rumah adalah bagian dari roda ekonomi kecil yang memberikan manfaat timbal balik
Inilah ekonomi sirkular versi paling dasar: tanpa slogan, tanpa teknologi canggih, hanya kebiasaan warga yang perlahan berubah.
Gen Z Juga Mulai Tersulut
Tak hanya ibu rumah tangga atau pedagang gorengan, tetapi juga ada anak-anak muda terutama yang tinggal di kos-kosan mulai ikut menyetor minyak dan ampas gorengan. Bagi mereka, skema PALIM terasa “Gen Z banget”: cepat, praktis, dan tidak memerlukan komitmen panjang.
Bukan hanya soal uang. Ada rasa puas karena bisa berkontribusi pada lingkungan dengan cara yang sederhana dan tidak menyulitkan. Sustainable lifestyle versi warga urban ternyata bisa dimulai dari hal yang sesederhana mengumpulkan sisa tepung di dasar wajan.
Harapan dari Sebuah Ampas Gorengan
Ketika ditanya apa mimpinya ke depan, Hari tidak berbicara soal program besar atau rencana ekspansi.Ia hanya ingin masyarakat sadar bahwa limbah rumah tangga punya nilai.
“Sampah itu ada gunanya. Kalau ditangani benar, bisa bantu lingkungan dan bantu ekonomi juga,” ujar hari
Dan dari ribuan dapur kecil di Malang, perubahan itu memang sedang berjalan pelan, tetapi nyata. Siapa sangka, semuanya berawal dari sesuatu yang sesederhana sisa tepung di dasar wajan?