Teknik Khusus Ciptakan Produk Fashion dari Galeri Daur Ulang

Produk hasil karya Alfi, pengerajin fashion daur ulang M212
Foto: Dok Pribadi/Natera

Di RW 02 Kelurahan Jajar, Kota Malang, sampah plastik tak selalu berakhir di tempat pembuangan. Di sudut permukiman padat itu, Galeri Daur Ulang M212 justru menjadikan sampah plastik sebagai bahan baku utama produk fashion. Sejak berdiri pada 2013, inisiatif berbasis warga ini tak hanya berupaya mengurangi timbunan sampah, tetapi juga membuka peluang penghidupan bagi masyarakat sekitar.

Cikal bakal Galeri Daur Ulang M212 berangkat dari pendirian bank sampah di tingkat RW. Kala itu, setiap wilayah didorong untuk mengelola sampah secara mandiri. Namun, tidak semua jenis sampah memiliki nilai jual. Dari sekitar 70 jenis sampah yang dikumpulkan, sebagian justru menumpuk karena tak laku di pasaran

“Awalnya itu kami cuma punya bank sampah. Ada sekitar 70 jenis sampah yang bisa dijual. Tapi ada juga yang nggak laku,” tutur Nur Alfiatul Khasanah, penggerak Galeri Daur Ulang.

Dari kondisi tersebut, muncul gagasan untuk mengolah sampah yang tak bernilai jual menjadi produk kerajinan.

“Daripada dibuang, ya kami olah jadi kerajinan, seperti tas, baju, dan dompet,” katanya.

Langkah-langkah produksi

Setiap produk fashion di galeri ini lahir dari proses yang panjang dan sabar. Langkah pertamanya adalah memilah. Sampah plastik yang basah, luntur, atau rusak yang akan dijadikan sebagai bahan baku utama produk fashion ini langsung disisihkan. Dalam pemilahannya kemasan yang bersih dan warnanya masih tajam yang akan dipakai.

“Pertama kita pilih dulu, kemudian kita cuci, kita keringkan, baru kita olah jadi kerajinan,” ujar Nur.

Tahap ini penting, sebab kualitas visual menjadi “wajah” utama produk fashion berbasis limbah.

Setelah bersih, plastik dipotong dalam ukuran seragam. Lalu masuk ke teknik khas dengan anyaman manual tanpa benang. Potongan plastik disusun saling mengunci, menciptakan lembaran baru yang kuat seperti kain.

“Kalau yang itu, anyam, tidak pakai benang. Benar-benar dianyam, disusup-susupin gitu,” kata Alfi.

Teknik ini membuat struktur busana kokoh tanpa bahan tambahan. Untuk bagian tertentu seperti alas tas atau penguat baju, tim menggunakan teknik jahit manual.

Proses ini menyita waktu yang cukup panjang. Satu rompi membutuhkan sekitar 300 hingga 600 bungkus kopi dengan waktu pengerjaannya bisa mencapai satu minggu, tergantung ukuran.

“Kalau kecil itu sekitar empat hari. Kalau besar ya bisa sampai satu minggu,” jelas Alfi.

Untuk kostum khusus, jumlahnya bahkan bisa jauh lebih besar.

“Yang cewek itu sekitar seribu lima ratus bungkus kopi,” tambahnya.

Uniknya, busana di sini tak berangkat dari pola rumit di atas kertas. Desainnya lahir langsung dari tangan. Kegiatan di galeri juga berdampak nyata secara ekonomi. Ada tim inti berjumlah empat orang, semuanya warga sekitar. Mereka terlibat langsung dalam produksi harian. Hasilnya bisa dijual atau disewakan. Sedangkan busana tertentu bisa dijual hingga ratusan ribu rupiah.

“Kalau disewa, harganya mulai dua puluh lima ribu sampai dua ratus lima puluh ribu,” kata Alfi

Lebih dari sekadar tempat produksi, Galeri Daur Ulang M212 juga menjadi ruang belajar. Sekolah, kelompok PKK, hingga komunitas dari berbagai daerah datang untuk melihat dan mempelajari prosesnya.

“Yang datang ke sini itu bukan cuma dari Malang. Ada yang dari Sulawesi, Kalimantan, Jombang, Surabaya. Mereka pengin lihat langsung caranya,” tutur Alfi.

Dilansir dari DeMalang.ID Busana daur ulang karya galeri ini sudah sering ikut serta dalam berbagai kegiatan fesyen show kriya maupun kegiatan bertema lingkungan di Kota Malang dan ajang nasional. 

Di Gallery Daur Ulang, sampah tak diposisikan sebagai akhir tapi awal. Dari tangan-tangan ibu rumah tangga, bungkus kopi bertransformasi menjadi rompi, kostum, dan tas. Pelan tapi pasti, galeri kecil ini membuktikan bahwa fashion bisa lahir dari sesuatu yang nyaris selalu kita buang.

Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.