
Foto: Dok Pribadi/Natera
Malang – Halo Naters! Sekitar 2009–2010, persoalan sampah di Kota Malang kian terasa nyata. Timbunan sampah terus bertambah, sementara pola pengelolaannya masih bertumpu pada tempat pembuangan akhir (TPA). Situasi itu menjadi kegelisahan tersendiri bagi Rahmat, yang saat itu menjabat sebagai sekretaris di Dinas Lingkungan Hidup Kota Malang.
Bagi Rahmat, sampah bukan sekadar urusan buang dan angkut. Ia melihat persoalan ini sebagai masalah kebiasaan, kesadaran, dan sistem. Jika terus dibiarkan, TPA akan semakin penuh dan masyarakat tidak pernah belajar mengelola sampahnya sendiri. Dari kegelisahan itulah, ide tentang bank sampah mulai tumbuh.
Namun, ide saja tidak cukup. Rahmat merasa perlu belajar langsung dari sumber yang sudah lebih dulu berjalan. Ia pun berangkat ke Bantul, Yogyakarta, untuk belajar kepada Bambang Suwerda, pelopor bank sampah pertama di Indonesia.
Pulang Membawa Gagasan
Dari Bantul, Rahmat tidak hanya membawa teori, tetapi juga gambaran nyata bagaimana sampah bisa dikelola dari tingkat rumah tangga. Konsep bank sampah yang memandang sampah anorganik sebagai barang bernilai ekonomi menjadi titik balik cara pandangnya.
Sekembalinya ke Malang, gagasan itu disampaikan kepada kepala dinas. Responsnya di luar dugaan yaitu positif. Pemerintah kota melihat potensi bank sampah sebagai solusi alternatif dalam menekan laju timbulan sampah.
Maka, bank sampah pertama di Kota Malang pun dibuka di kawasan Sawojajar. Namun, perjalanan awalnya tidak mudah. Masyarakat saat itu masih awam dengan konsep bank sampah. Banyak yang mengira bank sampah justru akan membawa tumpukan sampah dan bau tak sedap ke lingkungan mereka.
Padahal, sampah yang diterima hanyalah sampah anorganik kering, seperti plastik, kertas, dan logam. Persepsi keliru itu menjadi tantangan besar di masa awal berdirinya bank sampah.
Dari Sawojajar ke Sukun
Bank Sampah Malang pertama kali dibuka di kawasan Sawojajar. Namun, perjalanan awal tidak berjalan mulus. Konsep bank sampah masih asing bagi masyarakat. Banyak warga menganggap keberadaan bank sampah justru akan membawa bau dan tumpukan sampah baru ke lingkungan mereka.
“Warga sempat mengira bank sampah itu menampung semua jenis sampah. Padahal yang kami terima hanya sampah anorganik kering,” ujar karyawan bank sampah
Seiring waktu dan proses sosialisasi, pemahaman perlahan terbentuk. Bank sampah kemudian berpindah dan menetap di Jalan S. Supriadi Nomor 38, Kecamatan Sukun sebuah lokasi yang menyimpan sejarah panjang. Tempat itu dulunya merupakan area pemakaman dan ruang persemayaman jenazah sejak masa kolonial.
Perubahan fungsi ruang ini menjadi simbol tersendiri. Dari ruang yang identik dengan kematian, tumbuh upaya memberi “kehidupan kedua” pada barang-barang yang dianggap tak bernilai.
Pada 15 November 2011, Bank Sampah Malang di Sukun diresmikan oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup saat itu, Prof. Dr. Balthasar Kambuaya. Sejak saat itu, BSM Sukun menjadi rujukan pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Kota Malang.
Lingkungan Lebih Dulu, Ekonomi Menyusul
Sejak awal, tujuan utama berdirinya BSM Sukun adalah lingkungan menekan timbulan sampah dari sumbernya dan mengurangi beban TPA. Prinsip Reduce, Reuse, Recycle (3R) menjadi landasan utama gerakan ini.
Namun, pendekatan ekonomi dipilih sebagai pintu masuk. Sampah anorganik diposisikan sebagai “tabungan” agar warga terdorong memilah secara konsisten. BSM Sukun kini menerima 73 jenis item sampah, terbagi dalam empat kategori: plastik, kertas, logam, dan kaca, termasuk minyak jelantah.
“Soal uang itu sebenarnya pemicu saja. Tujuan utamanya supaya masyarakat mau memilah sampah dari rumah,” kata Isa karyawan BSM Sukun
Peran BSM Sukun juga tak terlepas dari upaya membantu pemerintah kota. Dengan hanya tersisa satu TPA aktif di Malang, pengurangan sampah dari hulu menjadi semakin krusial. Bank sampah dipandang sebagai simpul penting yang menghubungkan kebijakan pemerintah dengan praktik sehari-hari warga.
Lebih dari satu dekade sejak berdiri, BSM Sukun bukan sekadar tempat menabung sampah. Ia menjadi ruang belajar, titik temu komunitas, dan bukti bahwa perubahan besar bisa berawal dari keresahan kecil asal dikelola dengan konsisten dan melibatkan banyak tangan.