
Foto : Dok Pribadi/Natera.
Di Desa Jatinom Kabupaten Blitar, Jawa Timur, Ahmad Redam Sunalis atau lebih akrab disapa Sunalis memulai sesuatu yang awalnya terasa mustahil. Memulai pengolahan sampah terpadu (TPST). Di saat banyak orang memilih menjauh dari bau dan kotoran, Sunalis justru mendekat. Ia tahu, ada masalah yang harus diurus.
Kisah Awal Sunalis
Semua bermula pada tahun 2014. Saat itu, desanya mengikuti program Lomba Desa Berseri yang diadakan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Blitar. Salah satu indikator penilaian adalah keberadaan bank sampah atau sistem pengelolaan sampah desa. Sunalis melihat peluang sekaligus masalah, Sampah rumah tangga di desanya belum terkelola dengan baik, sementara kesadaran warga masih rendah. Ia mencoba mengajak anak-anak muda di sekitarnya untuk ikut terlibat dalam pengolahan sampah. Hasilnya nihil. Tidak ada satu pun yang mau.
Alih-alih mundur, Sunalis memilih jalannya sendiri. Ia nekat mempelopori TPST, sesuatu yang bahkan sudah menjadi target pemerintah desa, tapi belum ada yang benar-benar menjalankan. Tanpa tim, tanpa modal besar, tanpa dukungan penuh.
Hari-hari awalnya diisi dengan pemandangan yang mungkin dianggap kurang enak oleh banyak orang. Sunalis berkeliling desa membawa gerobak sampah yang ditarik motor. Ia mengambil sampah dari rumah ke rumah. Bau, kotor, dan melelahkan. Tiga bulan pertama sejak TPST itu berjalan, hasilnya hanya 11 kepala keluarga yang mau menyetor sampah. Mungkin jika itu dialami oleh sebagian orang, itu bisa menjadi tanda untuk berhenti. Tapi bagi Sunalis, itu alasan untuk bertahan.
Di balik Nama Punakawan
Sunalis tidak pernah menutup-nutupi apa yang ia rasakan di awal saat merintis TPST. Rasa jijik, Bau sampah menusuk hidung, tangannya selalu kotor, dan rasa malu sering muncul setiap kali ia berpapasan dengan tetangga. Tak jarang cibiran datang bertubi-tubi. Ada yang menuduhnya cari muka ke pemerintah desa. Ada pula yang menyebutnya sok sibuk, sok bisa, bahkan terlalu ambisius. TPST yang ia rintis dianggap tidak penting, mengganggu, dan tidak akan bertahan lama.

Foto : Istimewa Galery Sunalis
Namun di tengah semua itu, Sunalis memilih untuk tetap fokus. Ia tahu, tidak semua pekerjaan baik akan langsung dipahami oleh banyak orang. Ia memberi nama tempat pengolahan sampah itu Punakawan. Bukan tanpa alasan dalam pewayangan Jawa, Punakawan adalah tokoh-tokoh sederhana yang setia, jujur, dan selalu hadir membantu, meski jarang mendapat sorotan. Mereka tidak mencari panggung, tapi justru menjadi penopang cerita.
Nama itu terasa pas. Di masa awal, TPST Punakawan hanya dijalankan oleh empat orang, termasuk Sunalis sendiri. Tanpa seragam, tanpa fasilitas mewah. Mereka bekerja dengan alat seadanya, mengandalkan keyakinan bahwa apa yang mereka lakukan punya arti, meski belum terlihat hasilnya.
“TPST Punokawan memang sempat berhenti kurang lebih satu setengah tahun lah, karena pergantian tempat” ujarnya kepada Natera.
Walaupun berhenti Sunalis tidak hanya diam ia memulai usaha lainya dengan membuat patung dari abu bekas bakaran sampah TPST. Tak berselang lama tahun 2018 pertengahan TPST Punokawan kembali aktif.
Sampah dan kepercayaan
Pada tahun 2018 Sunalis mulai dibantu tiga orang rekannya. Mereka bukan relawan biasa. Mereka adalah orang dengan gangguan kejiwaan yang sering dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Keputusan Sunalis ini kembali membuat banyak orang bertanya. Tapi ia percaya satu hal jika diberi pekerjaan berarti diberi kepercayaan. Dan kepercayaan bisa menyembuhkan.
Ia melibatkan mereka dalam pengolahan sampah dari memilah hingga mengelola. Perlahan, perubahan terlihat. Mereka menjadi lebih teratur, lebih memahami tanggung jawab, dan lebih stabil secara emosional. Apa yang diyakini Sunalis terbukti bahwa bekerja bukan hanya soal produktivitas, tapi juga soal nilai sosial.
Seiring berjalannya waktu, TPST Punakawan tumbuh. Dari 11 kepala keluarga, kini jumlah pelanggannya mencapai 437. Angka yang tidak kecil untuk sebuah inisiatif desa yang dulu dicibir. Sampah tidak lagi hanya jadi masalah, tapi juga sistem yang dikelola bersama. Sekarang, Sunalis tidak lagi sendirian. Ia dibantu tiga rekannya dalam operasional harian. TPST Punakawan menjadi bagian penting dari ekosistem desa bukan hanya mengelola sampah, tapi juga membangun kesadaran dan solidaritas sosial.
Pada November 2025, Sunalis resmi berhenti bertugas dari TPST Punakawan yang ia rintis. Ia berpindah tugas ke DLH Kabupaten Blitar.