
Foto : Dok Pribadi/Natera
Ardhiana Malrasari (44), atau yang lebih akrab disapa Sari, dikenal lewat D’belel, sebuah brand fesyen upcycle. Melalui D’belel, ia mengolah limbah tekstil sambil merangkai cerita kolaborasi bersama teman-teman disabilitas.
Pertemuan D’Belel yang Membuka Kolaborasi
Kolaborasi sering lahir dari pertemuan yang tidak direncanakan. Bagi Sari, awal cerita itu bermula dari sebuah pemutaran film di Asosiasi Kreatif Indonesia (AKI).
Di ruang itu, Sari bertemu seorang peserta yang juga bergerak di dunia film dan kebetulan sama-sama berumah di Blitar. Percakapan sederhana tentang seni dan keresahan sosial perlahan membuka kemungkinan kerja sama keduanya.
“Akhirnya kita coba lah kolaborasi.”
Kalimat singkat itu menjadi titik temu antara D’belel, brand upcycle milik Sari, dan ARTHUP, sebuah gerakan seni kolaboratif berbasis pemberdayaan penyandang disabilitas mental.
Dari Batik Ciprat ke Bordir Cerita
Sebelum bertemu ARTHUP, Sari telah lama bekerja bersama teman-teman disabilitas dari Rumah Kinasih Gadis di Surabaya. Kala itu, mereka memproduksi batik ciprat sebagai aktivitas sekaligus ruang ekspresi.
“Karena bagi mereka kan buat batik ciprat tuh kayak main main, jadi ada kesibukannya.”
Teman-teman disabilitas di sana membuat batik lalu menjul beberapa lembarannya. Sari melihat proses membatik bukan hanya soal produk, tetapi juga soal semangat dan rutinitas. Ia lalu mengambil peran lebih jauh dengan memesan kain dan mengombinasikannya menjadi tas.
“Biar mereka ada semangatnya, jadi saya pesan kainnya terus coba bikin tasnya.”
Pengalaman itu menjadi bekal penting ketika Sari berkolaborasi dengan ARTHUP. Yang membedakan kolaborasinya kali ini adalah mereka memilih bordir sebagai medium utama.

Foto : Dok Pribadi/Natera
“Itu yang kita bikin berupa bordiran.”
Patch bordir tersebut kemudian menjadi bagian dari tas upcycle D’belel. Menariknya, setiap potongan bordir membawa cerita personal dari pembuatnya.
Seni, Cerita, dan Keberlanjutan
ARTHUP sendiri merupakan gerakan seni dan wirausaha sosial yang melibatkan penyandang disabilitas mental. Mada Ariya Putra, seorang lulusan ISI Surakarta, yang memprakarsai gerakan ini melalui metode art therapy berbasis gambar.
Bagi ARTHUP, menggambar menjadi ruang aman bagi para seniman untuk meluapkan emosi. Gambar-gambar itu kemudian menjadi karya visual dan bordiran yang memuat cerita personal.

Foto : Dok Pribadi/Natera
Setiap patch dilengkapi postcard berisi storytelling tentang siapa yang menggambar karya tersebut. Proses ini menjadi salah satu cara agar suara mereka benar-benar terdengar .
Beberapa karya memuat mimpi sederhana, seperti keinginan mereka yang ingin menjadi bos atau memiliki pekerjaan tetap. Semua itu hadir dalam bentuk visual yang jujur dan tanpa filter.
Kolaborasi ini juga memperhitungkan keberlanjutan ekonomi. Produk hasil kolaborasi dijual dengan harga lebih tinggi, terutama saat pameran.
“10% nya itu untuk proses operasionalnya mereka, untuk teman-teman di sana itu.”
Bagi Sari, kolaborasi ini bukan hanya soal estetika atau tren fesyen berkelanjutan. Ia melihatnya sebagai upaya menjaga ekosistem sosial agar seni, lingkungan, dan kemanusiaan dapat berjalan bersama—tanpa meninggalkan siapa pun di belakang.