Metode Takakura, Solusi Kompos Rumah Tangga ala Trash Hero Tumapel

Relawan Trash Hero Tumapel saat kegiatan penanaman dan edukasi kompos rumah tangga di Malang.
Relawan Trash Hero Tumapel melakukan penanaman dan edukasi kompos
Foto: TrashHero

Malang- Trash Hero Tumapel Malang mengajarkan metode kompos Takakura kepada warga dan pelajar di Malang Raya sebagai solusi pengelolaan sampah organik dari rumah, melalui edukasi rutin yang dilakukan sejak beberapa tahun terakhir di sekolah, komunitas, hingga permukiman padat.

Metode asal Jepang ini dipilih karena praktis, minim bau, dan cocok diterapkan di rumah dengan lahan terbatas, sekaligus menjadi pintu masuk perubahan perilaku warga terhadap sampah.

Di tengah persoalan sampah kota yang terus membesar, Trash Hero Tumapel Malang memilih jalan yang tak selalu terlihat spektakuler mengajarkan warga mengolah sampah organik sendiri, dari dapur mereka masing-masing. Salah satu metode yang konsisten mereka kenalkan adalah kompos Takakura teknik pengomposan sederhana yang dapat dilakukan tanpa halaman luas, tanpa alat mahal, dan tanpa teknologi rumit.

Dalam wawancara dengan tim Natera, Coki Basil, Ketua Trash Hero Tumapel, menjelaskan bahwa Takakura dipilih bukan karena tren, tetapi karena realistis.

“Ini metode yang bisa dipakai di rumah kecil, kos, bahkan apartemen. Tidak butuh lahan luas,” ujarnya.


Apa Itu Metode Takakura dan Mengapa Dipilih?

Takakura merupakan metode pengomposan asal Jepang yang menggunakan keranjang berlubang, lapisan kardus atau kertas, kain penutup, serta starter kompos aktif. Sampah organik seperti sisa sayur, buah, dan nasi dimasukkan setiap hari, lalu diaduk secara berkala agar proses dekomposisi tetap berjalan.

Menurut Coki, keunggulan Takakura terletak pada kesederhanaannya.

“Komposnya tidak basah, tidak bau, dan bisa dilakukan di rumah-rumah dengan ruang terbatas. Itu penting buat konteks kota seperti Malang,” Ujar Coki.

Field notes tim Natera mencatat bahwa Trash Hero Tumapel tidak memproduksi kompos secara massal, melainkan menempatkan Takakura sebagai alat edukasi perubahan perilaku. Fokusnya bukan hasil kompos, tetapi proses memahami sampah sejak sumbernya.

Edukasi yang Dimulai dari Sekolah

Pendekatan Trash Hero Tumapel terhadap Takakura banyak dilakukan lewat edukasi langsung ke sekolah-sekolah, kampus, dan kelompok masyarakat. Mereka datang membawa contoh keranjang Takakura, menjelaskan cara kerja, lalu mempraktikkan langsung bersama peserta.


“Kami datang ke sekolah, jelaskan dulu kenapa sampah organik itu masalah. Baru setelah itu kami ajarkan Takakura,” tutur Coki.

Menurut catatan wawancara, edukasi ini sering menyasar pelajar dan mahasiswa, karena dianggap lebih terbuka terhadap perubahan kebiasaan. Dalam beberapa program, Trash Hero Tumapel juga mendampingi peserta selama beberapa minggu untuk memastikan metode ini benar-benar dipraktikkan, bukan sekadar dipahami secara teori.

Pendekatan ini sejalan dengan temuan berbagai studi yang menyebut bahwa pengelolaan sampah paling efektif dimulai dari sumbernya. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sendiri mendorong pengurangan sampah organik dari rumah tangga melalui komposting skala kecil karena menyumbang lebih dari 50 persen timbulan sampah nasional

Metode Takakura sebagai Alat Kesadaran, Bukan Solusi Tunggal

Perwakilan Trash Hero Tumapel menjelaskan metode Takakura sebagai solusi kompos rumah tangga di Malang.
Coki Basil menjelaskan metode Takakura untuk kompos rumah tangga.
Foto: Dok Pribadi/Natera

Trash Hero Tumapel tidak memosisikan Takakura sebagai solusi tunggal persoalan sampah. Justru sebaliknya. Dalam wawancara, Coki menegaskan bahwa metode ini hanya salah satu pintu masuk.

“Kami sadar, tidak semua orang bisa langsung konsisten. Tapi dari Takakura, orang jadi paham bahwa sampah itu tanggung jawab pribadi,” ujarnya.

Field notes tim Natera juga mencatat bahwa Trash Hero Tumapel menghindari menyalahkan warga yang belum bisa menerapkan Takakura. Menurut mereka, banyak warga sebenarnya ingin berubah, tetapi tidak punya pilihan, akses, atau pengetahuan.

Pandangan ini selaras dengan riset jurnal Science Direct yang menyebut bahwa rendahnya partisipasi pengelolaan sampah bukan semata karena kurangnya kesadaran, tetapi juga keterbatasan infrastruktur dan pendampingan

Tantangan di Lapangan, Konsistensi dan Ruang Sosial

Meski sederhana, Takakura bukan tanpa tantangan. Salah satu kendala utama adalah konsistensi. Banyak warga semangat di awal, tetapi berhenti setelah beberapa minggu.

“Makanya kami tekankan pendampingan. Tanpa itu, metode apa pun sulit bertahan,” kata Coki.

Selain itu, tidak semua lingkungan sosial mendukung. Di beberapa permukiman padat, mengelola sampah sendiri masih dianggap aneh atau merepotkan. Namun Trash Hero Tumapel memilih tetap hadir, pelan pelan, lewat edukasi berulang.

Dari Edukasi ke Sistem

Dari praktik di lapangan, Trash Hero Tumapel melihat bahwa Takakura akan lebih efektif jika didukung sistem yang lebih luas. Beberapa rekomendasi yang mereka soroti antara lain

  • Integrasi edukasi Takakura ke kurikulum sekolah
  • Dukungan RT/RW agar kompos bisa dimanfaatkan bersama
  • Insentif non-tunai bagi warga yang konsisten mengelola sampah organik

Upaya ini dinilai penting agar pengelolaan sampah tidak berhenti sebagai aktivitas individu, tetapi menjadi budaya bersama.

Metode Takakura Lebih dari Sekadar Kompos

Bagi Trash Hero Tumapel, Takakura bukan tentang kompos semata. Ia adalah alat belajar tentang kesabaran, tanggung jawab, dan relasi manusia dengan sisa konsumsi sehari-hari.

“Kami selalu bilang, bersih itu bukan soal sehari bersih. Tapi kebiasaan,” tutup Coki.

Di tengah narasi besar soal TPA, teknologi, dan kebijakan, praktik kecil seperti Takakura mungkin tampak sepele. Namun dari dapur-dapur kecil itulah, perubahan sering kali benar-benar dimulai.

Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.