
Kota Blitar – Dari tumpukan celana jeans bekas dan seragam lama yang biasanya berakhir di lemari atau tempat sampah, D’ Belel memilih jalur yang berbeda: mengubahnya menjadi tas dan souvenir yang siap dipakai. Lewat pendekatan upcycle, setiap potongan kain diperlakukan seperti bahan berharga dipilah, dibongkar, dijahit ulang, sampai akhirnya punya nilai baru, bukan cuma estetik tapi juga berdampak.
Souvenir dari Limbah Jeans: Bukan Tren Sesaat
Buat sebagian orang, jeans bekas mungkin cuma dianggap pakaian lama: sudah pudar, molor, atau “tidak enak dipakai lagi”. Tapi bagi D’ Belel, bahan bekas justru punya potensi yang besar asal mau repot sedikit, dan konsisten.
“Kita orang kecil… apa-apa bisa kita lakukan secara konsisten,” begitu kira-kira prinsip yang dipegang. Dari kebiasaan rumah tangga yang sederhana memilah yang masih bisa dimanfaatkan muncul kesadaran bahwa limbah kain, terutama jeans, sebenarnya bisa diangkat jadi sesuatu yang nilainya lebih tinggi.
Karena itu, D’ Belel tidak melihat jeans bekas sebagai bahan “murahan”. Justru sebaliknya: bahan ini dianggap punya karakter, tekstur, dan cerita yang bikin produk akhirnya terasa beda.
Tidak Ada yang Diburu-buru: Dipilah, Dibongkar, Dikumpulkan
Prosesnya tidak langsung jadi tas. Ada tahap panjang yang sering tidak terlihat oleh pembeli.
Jeans yang masuk tidak langsung dipotong asal. Pertama, dipilah dulu berdasarkan kondisi: tingkat kotor, tingkat “molor”, dan ukuran. Setelah itu masuk tahap yang cukup melelahkan tapi penting: pendedelan membongkar jahitan, menarik benang, memisahkan bagian-bagian kecil.
Benang tidak dibuang. Kancing juga tidak langsung dilempar. Bahkan label dan aksesoris kecil lain ikut dikumpulkan. Beberapa masih belum punya “rumah” pengolahan, tapi tetap disimpan karena keyakinannya sederhana: nanti pasti ada solusi.
“Sebisa mungkin tidak dibuang… meskipun kita belum optimal semuanya bisa kita manfaatkan.”
Di titik ini, yang terasa bukan cuma soal produksi tas, tapi soal kebiasaan: mengurangi kebiasaan “cepat buang”, menggantinya dengan “cari cara pakai ulang”.
Dari Bahan Impor ke Jeans Bekas: Titik Balik yang Tidak Direncanakan
Awalnya, D’ Belel tidak langsung fokus pada jeans. Bahan yang dipakai sempat berupa linen impor (disebut berasal dari Jepang/Taiwan). Lalu pandemi datang, kebijakan impor berubah, dan bahan jadi sulit didapat.
Di situ muncul pertanyaan yang cukup realistis: kalau terus bergantung pada bahan dari luar negeri, bagaimana kalau kebijakan berubah lagi?
Dari situ D’ Belel mulai mencari bahan yang lebih “dekat” dan lebih masuk akal: material yang sudah ada di sekitar, termasuk seragam lama yang menumpuk di rumah. Dari keresahan seragam menumpuk, lalu bertemu kebutuhan lain: membantu teman-teman disabilitas (yang saat itu membuat batik ciprat) agar tetap punya kegiatan dan penghasilan.
Tapi dalam liputan ini, fokusnya ada di bagian jeansnya: jeans bekas yang biasanya hanya jadi keset, kini didorong naik kelas jadi souvenir yang layak dipakai dan dijual.
“Biar bisa dimanfaatkan, bukan jadi keset… tapi punya nilai yang lebih tinggi.”

Tas Jeans Bekas Itu Bisa “Naik Kelas” Asal Ceritanya Sampai
Menjual produk dari bahan bekas ternyata tidak semudah menjual barang baru. Apalagi di Indonesia, masih ada stigma “bekas orang kok mahal”.
D’ Belel mengaku tantangannya bukan cuma produksi, tapi edukasi. Produk upcycle butuh cerita: kenapa bahan bekas itu dipilih, apa dampaknya, dan kenapa harganya wajar.
Di Jakarta, katanya, pasar lebih “siap” karena mereka sudah merasakan isu lingkungan lebih dekat banjir, sulit membuang sampah, sampai kebiasaan warga yang mulai aware. Sementara di beberapa tempat lain, produk upcycle sering masih harus dijelaskan pelan-pelan.
“Menjual D’ Belel itu harus dengan edukasi… tantangan saya adalah membuat konten yang edukatif.”
Kalimat itu terasa penting, karena menjelaskan kenapa souvenir dari limbah jeans bukan sekadar “barang unik”. Ia butuh ekosistem: cerita yang kuat, branding yang jelas, dan cara komunikasi yang konsisten.
Produksi: Bisa Ready Stock, Bisa Pesanan, Bisa Kolaborasi
Untuk produksi harian, jumlahnya tergantung model dan tingkat kerumitan. Ukuran kecil bisa lebih cepat, sedangkan yang besar bisa sampai dua hari. Saat pesanan banyak, D’ Belel juga membuka sistem outsourcing: pola dipotong, lalu dijahit oleh beberapa penjahit yang bekerja sama.
Di balik itu, ada juga proses tambahan seperti treatment untuk jeans yang kotor atau berbau minyak. Menariknya, D’ Belel menyebut mereka pernah memakai sabun dari minyak jelantah untuk membantu mengurangi bau (karena sama-sama “minyak”), terutama untuk bahan yang terpapar oli.
Selain itu, D’ Belel juga beberapa kali kolaborasi misalnya pada bagian strap atau elemen pendukung produk. Tapi inti dari produk upcycle jeans tetap sama: membuat kain bekas punya bentuk baru yang lebih fungsional dan layak jadi souvenir.
Kenapa Souvenir dari Jeans Bekas Terasa Personal?
Souvenir biasanya identik dengan barang “seragam” dan massal. Tapi produk dari jeans bekas tidak bisa terlalu seragam karena setiap jeans punya kondisi yang berbeda. Ada yang bolong, ada yang pudar, ada yang teksturnya keras, ada yang lembut.
Tapi justru dari situ muncul nilai plusnya. Beberapa bagian yang “cacat” tidak ditutup-tutupi, malah diproses jadi detail: dijahit teknik tertentu, ditambah aksen, atau dibuat jadi ciri khas.
Bahkan, beberapa desain lahir dari masukan pelanggan: butuh tali panjang, butuh ruang untuk iPad, butuh cover kacamata. Dari pameran dan pertemuan langsung dengan pembeli, D’ Belel menangkap kebutuhan itu lalu mengembangkan produk.
Jadi souvenirnya bukan sekadar “cantik”, tapi fungsional dan punya cerita.
Penutup: Souvenir yang Membawa Pesan
Kalau disederhanakan, D’ Belel sedang melakukan hal yang kelihatannya kecil, tapi dampaknya bisa panjang: mengurangi limbah kain dengan mengubahnya jadi barang yang bisa dipakai ulang.
Mungkin tidak semua bagian jeans bisa langsung menemukan solusi hari ini (seperti kancing tertentu, atau material keras lainnya). Tapi cara berpikirnya sudah jelas: kalau masih bisa dipakai, kenapa dibuang?
Dari situlah souvenir limbah jeans ini punya makna lebih dari sekadar tren ia membawa pesan yang pelan-pelan membentuk kebiasaan baru.