
Kota Malang – Di tengah persoalan sampah plastik yang terus menumpuk, Trash Hero Tumapel memilih bergerak lewat cara-cara sederhana yang bisa dilakukan siapa saja. Tidak hanya mengandalkan aksi bersih-bersih, komunitas ini mendorong perubahan kebiasaan lewat program refill, pemilahan sampah, dan penggunaan tas pakai ulang. Bagi Trash Hero Tumapel, mengurangi sampah jauh lebih penting daripada sekadar memungutnya.
“Program botol ulang ini tujuannya memang untuk mengurangi sampah plastik sekali pakai. Tidak ada skema bisnis di dalamnya, karena kami ingin gerakan ini tetap murni sebagai gerakan sosial,” ujar Kak Basil, perwakilan Trash Hero Tumapel.
Refill: Mengurangi Sampah dari Sumbernya
Program refill menjadi salah satu upaya utama Trash Hero Tumapel untuk menekan penggunaan botol plastik sekali pakai. Masyarakat diajak menggunakan botol minum yang bisa dipakai berulang kali, khususnya botol stainless yang terhubung dengan jaringan Trash Hero secara lebih luas.
Menurut Kak Basil, botol refill ini biasanya disediakan oleh pusat Trash Hero. Namun yang terpenting bukan pada botolnya, melainkan kebiasaan yang ingin dibangun. “Kami ingin orang terbiasa membawa botol sendiri, sehingga tidak lagi bergantung pada botol plastik sekali pakai,” jelasnya.
Pendekatan ini sengaja dibuat tanpa target angka besar atau klaim dampak instan. Trash Hero Tumapel menyadari bahwa perubahan perilaku membutuhkan waktu, terutama di tengah sistem yang masih memudahkan penggunaan plastik sekali pakai.
Pemilahan Sampah: Tidak Sempurna, Tapi Diusahakan
Selain refill, Trash Hero Tumapel juga melakukan pemilahan sampah dalam setiap kegiatan, termasuk saat aksi bersih-bersih. Meski dilakukan secara terbatas, proses pilah ini tetap dianggap penting sebagai bentuk tanggung jawab lanjutan terhadap sampah yang dikumpulkan.
“Ada pemilahan dasar setelah kegiatan, tapi memang tantangannya lokasi yang panjang dan kondisi relawan yang sudah lelah. Jadi kami sesuaikan dengan kemampuan di lapangan,” kata Kak Basil.
Pemilahan ini biasanya dilakukan untuk memisahkan jenis sampah yang masih bisa dikelola lebih lanjut. Sebagian sampah kemudian dibawa ke mitra atau bank sampah, sementara sisanya dibuang sesuai sistem yang tersedia. Meski tidak ideal, langkah ini menjadi bagian dari upaya Trash Hero Tumapel agar sampah tidak kembali bercampur tanpa arah.
Tas Pakai Ulang: Kebiasaan Kecil yang Terus Diulang
Program tas pakai ulang berjalan seiring dengan program refill. Konsepnya sederhana: mendorong masyarakat untuk tidak lagi menggunakan kantong plastik sekali pakai. “Konsepnya sama, mendorong orang agar beralih ke tas yang bisa digunakan berulang kali,” ujar Kak Basil.
Menurutnya, dampak program ini memang belum besar jika diukur secara kuantitas. Namun, perubahan mulai terlihat pada orang-orang yang terlibat langsung dalam kegiatan Trash Hero. “Secara kesadaran, sudah mulai terlihat, terutama dari mereka yang ikut kegiatan dan terpapar langsung,” tambahnya.
Trash Hero Tumapel tidak memaksakan standar atau aturan ketat. Mereka lebih memilih pendekatan persuasif, dengan memberi contoh dan membuka ruang diskusi di lapangan.
Gerakan Sosial, Bukan Sekadar Aksi
Yang membedakan Trash Hero Tumapel adalah konsistensinya menjaga program tetap sebagai gerakan sosial, bukan aktivitas berbasis keuntungan. Tidak ada transaksi dalam program refill maupun tas pakai ulang. Semua dilakukan untuk membangun kesadaran, bukan mengejar capaian angka.
“Kami hadir bukan untuk menggantikan peran masyarakat, tapi untuk mengingatkan dan memberi contoh,” kata Kak Basil. Prinsip ini juga menjadi alasan mengapa Trash Hero Tumapel tidak terus-menerus membersihkan lokasi yang sama. Harapannya, masyarakat sekitar bisa melanjutkan kebiasaan baik tersebut.
Menanam Kebiasaan Jangka Panjang
Di tengah keterbatasan dukungan sistem dan fasilitas, Trash Hero Tumapel memilih fokus pada apa yang bisa dilakukan sekarang. Program refill, pilah sampah, dan tas pakai ulang mungkin terlihat sederhana, tetapi menjadi langkah awal menuju perubahan yang lebih besar.Bagi Trash Hero Tumapel, keberhasilan tidak hanya diukur dari berkurangnya sampah, tetapi dari tumbuhnya kesadaran untuk bertanggung jawab atas pilihan sehari-hari. Dari botol yang diisi ulang, tas yang dipakai berkali-kali, hingga sampah yang dipilah semampunya semua menjadi bagian dari proses panjang menuju lingkungan yang lebih lestari.