
Kota Malang – Upaya mengurangi sampah skincare sekali pakai terus berkembang dengan pendekatan yang semakin dekat dengan gaya hidup masyarakat. Di Kota Malang, iLitterless menghadirkan MOBI GI-RL, sebuah dropbox mobile khusus beauty waste yang dikemas melalui tiga karakter berbeda: Luma, Hana, dan Kira. Meski hadir dengan persona dan zona aktivasi yang berbeda, ketiganya memiliki misi yang sama mengumpulkan sampah skincare agar tidak berakhir di tempat pembuangan akhir atau mencemari lingkungan.
Nina, perwakilan dari iLitterless, menjelaskan bahwa MOBI GI-RL dirancang untuk menjawab kebingungan masyarakat, khususnya generasi muda, dalam mengelola kemasan skincare bekas.
Satu Jenis Sampah, Pendekatan Berbeda
Berbeda dari program pengelolaan sampah yang memisahkan berdasarkan material atau nilai ekonomi, MOBI GI-RL secara spesifik berfokus pada sampah skincare, body care, dan make up empties. Seluruh karakter menerima jenis sampah yang sama botol plastik, tube, jar kaca, dan kemasan karton produk kecantikan dengan syarat kering, minim residu, dan tidak berbau.
Perbedaannya terletak pada zona aktivasi.
“Karakter ini kami sesuaikan dengan ruang hidup orang-orang. Jadi pendekatannya bukan cuma soal buang sampah, tapi juga soal di mana dan bagaimana orang beraktivitas,” kata Nina sebagai Education and Outreach Coordinator
Luma: Beauty Space dan Tren Peduli Lingkungan
Luma hadir sebagai karakter yang tenang dan charming. Ia ditempatkan di beauty space seperti toko skincare, salon, studio nail art, hingga event kecantikan. Luma menyasar para beauty enthusiast yang secara rutin menggunakan produk perawatan diri.
Menurut iLitterless, Luma berperan membangun kebiasaan menyetor empties sebagai bagian dari rutinitas kecantikan.
“Lewat Luma, kami ingin menunjukkan bahwa peduli lingkungan bisa jadi bagian dari tren, bukan sesuatu yang merepotkan,” jelas Nina.
Identitas visual Luma yang lembut dan ikonik juga membantu menarik partisipasi tanpa kesan menggurui
Hana: Ruang F&B sebagai Titik Temu Konsumen
Berbeda dengan Luma, Hana aktif di area food and beverage (F&B) seperti kafe, restoran, hingga kelas memasak. Hana memanfaatkan ruang sosial yang akrab dengan generasi muda tempat nongkrong dan berkumpul sebagai titik penyetoran sampah skincare.
Nina menilai pendekatan ini efektif karena tidak mengubah kebiasaan, hanya menambahkan opsi.
“Orang datang ke cafe untuk ngopi, bukan untuk pilah sampah. Tapi kalau dropbox-nya ada di sana, mereka jadi kepikiran untuk sekalian setor,” ujarnya.
Kehadiran Hana membuktikan bahwa lokasi yang tepat dapat meningkatkan partisipasi tanpa paksaan.
Kira: Aktivasi di Zona Olahraga dan Gaya Hidup Aktif
Sementara itu, Kira merepresentasikan karakter energik dan sporty. Ia ditempatkan di zona olahraga seperti gym, pilates, padel, dan event lari. Kira menyasar individu dengan gaya hidup aktif yang juga memiliki konsumsi produk perawatan tubuh cukup tinggi.
Menurut Nina, Kira menjadi jembatan antara gaya hidup sehat dan kepedulian lingkungan. “Orang yang peduli kesehatan tubuh biasanya lebih terbuka juga pada isu keberlanjutan. Kira hadir di situ untuk menghubungkan dua hal tersebut,” jelasnya.
Pendekatan ini membuat pesan pengelolaan sampah terasa lebih relevan secara personal.

Sistem yang Sama, Fleksibel Sesuai Event
Meski memiliki zona berbeda, ketiga karakter MOBI GI-RL bersifat fleksibel. Dalam satu event olahraga, penyelenggara bisa memilih Kira. Namun jika event tersebut berada di kafe atau festival kuliner, Hana bisa dihadirkan. Pada acara kecantikan, Luma menjadi pilihan utama.
“Intinya, sampah yang dikumpulkan tetap skincare. Yang menyesuaikan hanya pendekatannya,” kata Nina.
Setiap penyetoran juga terhubung dengan sistem aktivasi digital. Peserta memindai QR, mengunggah momen setor ke media sosial, dan berkesempatan mendapat reward. Data dari aktivitas ini kemudian diolah menjadi laporan jumlah sampah dan brand audit, sebagai bagian dari upaya mendorong tanggung jawab produsen.
Mengubah Kebiasaan Lewat Pendekatan Ruang
Melalui MOBI GI-RL, iLitterless tidak sekadar menyediakan tempat sampah alternatif, tetapi juga menguji cara baru mengubah perilaku. Dengan satu jenis sampah dan tiga pendekatan ruang, program ini menunjukkan bahwa pengelolaan beauty waste bisa dilakukan secara sederhana dan kontekstual.
“Target kami bukan hanya jumlah kilo sampah yang terkumpul, tapi perubahan kebiasaan. Kalau orang sudah terbiasa setor empties, itu langkah besar,” tutup Nina sebagai Education and Outreach Coordinator.