Triftin, Cara Jessica Laihad Agar Buku Tak Berakhir Jadi Limbah

Desember lalu, Jalin Mimpi berkolaborasi dengan TRIFTIN menggelar Donasi dan Tukar Buku, mengajak publik berbagi buku bekas untuk saling dipertukarkan. Buku yang tersisa dijual, dengan hasilnya mendukung inisiatif berkelanjutan kedua komunitas.
Foto : Instagram/@jalin.mimpi

Kertas selalu menyimpan jejak pengetahuan, tetapi tak semua buku berakhir di rak. Banyak halaman berhenti di sudut ruang, terlipat debu, atau masuk tumpukan di tempat sampahmu. 

Buku yang sempat menemani kita di waktu luang kerap terabaikan ketika pembacanya merasa telah menuntaskan cerita dan pengetahuan di dalamnya.

Di tengah siklus itu, Jessica Laihad melihat celah berbeda. Ia tidak memandang buku sebagai barang sekali pakai. Lewat Triftin, ia mencoba memperpanjang usia cerita dan menjaga akses baca tetap terbuka.

Triftin, Memperpanjang Usia Buku

Triftin hadir sebagai online store yang menjual barang-barang secondhand. Platform ini menawarkan beragam produk, tetapi buku menjadi fokus utama yang terus tumbuh. Buku berpindah tangan, bukan berakhir sebagai limbah.

Jessica Laihad atau yang akrab disapa Jessica ini percaya masalah buku bukan hanya soal sisa konsumsi. Harga yang tinggi sering menjadi penghalang orang untuk membaca lebih banyak. Dari situ, Ia menempatkan buku sebagai pintu masuk ekonomi sirkular yang sederhana.

“Selain kita mau mengurangi limbah buku, kita juga percaya bahwa semua orang itu patut membeli buku.” Ujarnya.

Pernyataan itu lahir dari pengalaman sehari-hari. Banyak orang mengaku ingin membaca lebih banyak, tetapi harga buku sering terasa berat. Buku lalu menjadi barang mewah, bukan kebutuhan pengetahuan.

“And we think that education should be affordable, so that’s why we more focus on book gitu”

Triftin tidak berjalan sendirian. Di dalamnya tumbuh komunitas kolektor buku yang saling berbagi rekomendasi, cerita, dan minat baca. Buku bekas menjadi medium pertemuan, bukan sekadar transaksi.

Model ini memotong rantai konsumsi baru. Buku lama menemukan pembaca baru, sementara pembaca mendapat akses yang lebih ramah. Sirkulasi terjadi tanpa produksi tambahan.

Perjalanan Panjang Jessica Laihad

Perjalanan Jessica menuju sustainability tidak terjadi seketika. Semua bermula saat ia menempuh studi magister pertama di Monash University. Di sana, mata kuliah sustainability menjadi syarat kelulusan.

Dalam webinar GreenSkillID, Jessica Laihad mengingatkan bahwa solusi krisis sampah tak cukup mengandalkan recycling, tetapi perlu memahami ekonomi sirkular sejak hulu konsumsi
Foto : Dok Pribadi/Natera

“Sebelum aku ambil course itu tuh, aku ingat banget, aku kayak mikir, aduh, males banget, gitu, pikiranku, ini apa sih nih, sustainability, gitu. Karena kan di Indonesia kita enggak terlalu aware ya itu apa, gitu. Dan setelah aku ambil course itu, aku kaget sendiri.”

Pemahaman itu membawa rasa tidak nyaman. Jessica melihat dampak industri terhadap lingkungan dan kelompok rentan. Kesadaran itu menyentuh, tetapi belum sepenuhnya membentuk langkah.

Ia lalu kembali ke Indonesia dan bekerja di Tokopedia sebagai growth marketer. Di sana, ia menemukan peluang pertama untuk menghubungkan pekerjaan dengan nilai keberlanjutan.

“Aku ingat banget pas di Tokopedia, aku sampai bikin landing page khusus untuk produk-produk yang sustainable yang ada di Tokopedia. Udah excited banget kan tuh, mikir, wah udah deh ini aku bisa make an impact, gitu.”

Namun realitas pasar memberi pelajaran lain. Produk ramah lingkungan hanya menarik sebagian kecil pengguna. Antusiasme belum sebanding dengan jumlah konsumen besar.

Wah, ternyata cuman ribuan dari jutaan orang yang peduli tentang sustainability. Dari situ langsung nekatin diri dan hatinya makin tergerak lagi, gitu.

Jessica merasa tidak bisa berhenti pada kekecewaan. Ia mencari jalur belajar baru sambil tetap bekerja. Ia lalu mengajukan aplikasi ke Harvard untuk program master paruh waktu.

Kesempatan lain datang dari Meta. Jessica menerima peran sebagai policy auditor di Eropa. Meski begitu, ia tetap meluangkan waktu untuk aktivitas lingkungan.

“Jadi aku educate Meta employees about sustainability. Aku juga hold workshops, dan lain-lain, gitu. Jadi tetap sustainability-nya itu nggak pernah leave my heart, gitu.”

Di semester akhir, ia menulis tesis tentang model bisnis sirkular. Ide itu tidak berhenti sebagai dokumen akademik. Jessica membawa konsep tersebut ke Indonesia untuk uji langsung.

Ia memilih keluar dari Meta meski peluang karier terbuka lebar. Keputusan itu membuka jalan bagi startup pertamanya, Luxloop, bisnis sewa pakaian harian dan pesta. Namun, Luxloop tidak berjalan sesuai harapan.

Harapan yang Terus Bergerak

Kegagalan itu tidak memadamkan langkahnya. Jessica lalu beralih ke jual beli barang secondhand. Dari sanalah Triftin tumbuh sebagai bentuk baru perjuangan sirkular.

Triftin menjadi ruang belajar berkelanjutan. Buku, pakaian, dan barang bekas membuktikan bahwa nilai tidak selalu lahir dari produksi baru. Sirkulasi bisa berjalan lewat pilihan sederhana.

Ke depan, Jessica ingin memperluas dampak Triftin. Ia merancang berbagai workshop untuk mengajarkan upcycle dan keterampilan kreatif.

“ Jadi, di tahun depan, selain Driftin, bisnis kita juga akan expand ke workshops upcycling, gitu. Yang mungkin siapa tau nanti bisa collab juga ya guys”

Lewat langkah ini, Jessica berharap semakin banyak orang melihat barang bekas sebagai peluang. Bukan hanya solusi lingkungan, tetapi juga jalan berbagi pengetahuan dan nilai. Buku, sekali lagi, menjadi awal cerita yang terus bergerak.

Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.