Kota Malang – Halo Naters! Di tengah perbincangan soal krisis tanah, pupuk kimia, dan pertanian yang makin mahal, jarang ada yang melirik makhluk kecil yang hidup di bawah kaki kita yaitu cacing tanah. Padahal, dari tubuh lunaknya yang sering dianggap menjijikkan, tersimpan peran besar dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Di Malang Raya, praktik budidaya cacing dari Lumbricus rubellus hingga African Night Crawler (ANC) pelan-pelan menunjukkan bahwa pemulihan tanah tak selalu butuh teknologi rumit. Cukup dengan mengembalikan alam pada siklus alaminya.
Budidaya cacing kini tak lagi sekadar urusan pakan ternak atau bisnis sampingan. Ia menjadi bagian dari gerakan ekologis yang lebih luas, mengolah sampah organik, mengurangi ketergantungan pupuk kimia, dan memulihkan kesuburan tanah yang kian tergerus.
Dari Sampah Organik ke Siklus Kehidupan
Semua berawal dari sesuatu yang sering dianggap tak bernilai, sampah organik dapur. Sisa sayur, nasi basi, hingga limbah makanan yang biasanya berakhir di tempat pembuangan, justru menjadi makanan utama bagi cacing. Sisa makanan, sayur, dan limbah dapur yang biasanya berakhir di tempat pembuangan, justru menjadi bahan awal dalam proses penguraian alami.
Sampah organik terlebih dahulu diolah menggunakan magot. Larva ini dikenal cepat dan efisien dalam mengurai limbah organik. Hasil dari proses magot kemudian dimanfaatkan sebagai media lanjutan untuk budidaya cacing tanah. Dari sinilah siklus berlapis itu berjalan.
“Magot membantu mengurai sampah organik dengan cepat. Setelah itu, hasilnya bisa dimanfaatkan lagi untuk budidaya cacing,” ujar Adel, Marketing Capunglam.
“Dari cacing, kita dapat dua output sekaligus yaitu cacingnya dan kascing.”
Kascing pupuk alami hasil ekskresi cacing menjadi kunci dalam pemulihan tanah. Teksturnya menyerupai tanah gembur, kaya mikroorganisme, dan mampu memperbaiki struktur tanah yang rusak akibat pemakaian pupuk kimia jangka panjang.
Dalam praktiknya, kascing langsung diaplikasikan ke lahan pertanian. Tanpa tambahan bahan kimia, tanah perlahan kembali hidup. Air lebih mudah meresap, akar tanaman tumbuh lebih kuat, dan produktivitas lahan menjadi lebih stabil.
Cacing Tanah sebagai Pemulihan Ekosistem
Peran cacing tanah dalam pertanian sebenarnya sudah lama dikenal. Di alam, cacing membantu menggemburkan tanah, meningkatkan porositas, dan mempercepat dekomposisi bahan organik. Namun dalam sistem pertanian modern yang sarat pupuk kimia, peran ini kerap terpinggirkan.
Padahal, penggunaan pupuk kimia berlebihan justru membuat tanah menjadi tidak bagus. Struktur tanah rusak, mikroorganisme mati, dan produktivitas jangka panjang menurun. Di titik inilah cacing tanah kembali relevan.
“Kascing itu bisa jadi alternatif pupuk. Tanah jadi lebih sehat, nggak bergantung terus sama pupuk kimia,” kata Adel.
Jenis cacing yang dibudidayakan pun beragam. Lumbricus rubellus dikenal efektif dalam menghasilkan kascing berkualitas, sementara ANC unggul dalam kecepatan reproduksi dan ukuran tubuhnya. Kombinasi keduanya membuat sistem budidaya lebih adaptif terhadap kebutuhan.
Menariknya, biomassa cacing juga dimanfaatkan sebagai pakan protein. Campuran cacing untuk lele dan ayam membantu menekan biaya pakan hingga hampir 50 persen. Hasilnya bukan hanya lebih hemat, tetapi juga lebih berkelanjutan.
Merawat Cacing, Merawat Ekosistem
Meski terlihat sederhana, budidaya cacing bukan tanpa tantangan. Cacing adalah organisme hidup yang sensitif. Suhu, kelembapan, dan kualitas pakan harus dijaga ketat. Sedikit kesalahan bisa mengganggu seluruh siklus.
“Cacing itu harus diperlakukan seperti makhluk hidup, bukan mesin, kalau salah rawat, siklusnya bisa terganggu dan efeknya ke mana-mana ” ujar Adel.
Pengelolaan populasi juga penting. Jumlah cacing yang terlalu padat bisa menurunkan kualitas media, sementara jumlah yang terlalu sedikit membuat proses penguraian tak optimal. Semua harus dihitung dan disesuaikan dengan kebutuhan.
Namun justru di situlah letak nilai edukasinya. Budidaya cacing mengajarkan bahwa keberlanjutan bukan soal hasil instan, melainkan soal merawat proses. Setiap tahap saling terhubung sampah, cacing, ternak, tanah, dan tanaman.
Di tengah perubahan iklim dan krisis pangan global, praktik seperti ini menjadi contoh bahwa solusi bisa datang dari skala kecil. Dari halaman belakang, dari limbah dapur, dari cacing tanah yang bekerja tanpa suara.
Budidaya cacing bukan sekadar soal produksi. Ia adalah upaya mengembalikan keseimbangan. Ketika tanah kembali sehat, tanaman tumbuh lebih baik, air terserap lebih optimal, dan ekosistem perlahan pulih.
Di Malang, dari magot yang lembap dan cacing yang menggeliat pelan, harapan itu tumbuh. Bahwa masa depan pertanian tak harus bergantung pada bahan kimia, tapi bisa berakar pada kerja sama manusia dengan alam dimulai dari makhluk kecil yang sering luput dari perhatian.