Malang – Halo Naters! Setiap hari, dapur-dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) bekerja tanpa henti. Minyak goreng dipanaskan, lauk dimasak, dan ribuan porsi makanan disiapkan untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat. Namun, ada satu residu yang selalu tersisa di akhir proses: minyak jelantah. Selama ini, keberadaannya kerap dipinggirkan, dianggap sekadar limbah yang merepotkan.
Di Malang Raya, cerita itu mulai berubah. Melalui kolaborasi dengan Capunglam, minyak jelantah dari dapur-dapur SPPG kini tidak lagi berakhir di saluran air atau tempat pembuangan sembarangan. Ia dikumpulkan, disetorkan, dan yang paling penting ditukar dengan uang tunai. Kolaborasi ini menjadikan SPPG bukan hanya penyedia layanan gizi, tetapi juga bagian dari rantai ekonomi sirkular yang berkontribusi pada pengelolaan lingkungan perkotaan.
Dari Dapur Layanan Gizi ke Rantai Ekonomi Sirkular
Bagi Capunglam, bekerja sama dengan SPPG adalah langkah strategis. Dapur layanan gizi menghasilkan volume minyak jelantah yang konsisten dan terkelola, berbeda dengan rumah tangga yang jumlahnya kecil dan tersebar. Minyak bekas ini kemudian dikumpulkan oleh pihak SPPG dan diserahkan langsung ke Capunglam.
“Sebetulnya juga ada SPPG. Jadi kalau SPPG itu kita ke arah lebih ke uang sih, nukernya.” Ujar Adel, Marketing Capunglam.
Dalam skema ini, SPPG bertindak sebagai penyetor minyak jelantah, sementara Capunglam menjadi pihak yang membeli dan mengelolanya lebih lanjut. Uang hasil penukaran masuk kembali ke SPPG dan dapat digunakan untuk mendukung operasional atau kebutuhan lain yang berkaitan dengan layanan gizi.
Pendekatan ini sengaja dipilih. Alih-alih menukar minyak dengan produk, Capunglam membaca kebutuhan SPPG yang lebih fleksibel dalam pengelolaan dana. Uang memberi ruang gerak yang lebih luas, sekaligus memperkuat keberlanjutan program.
Mengurangi Masalah Kota dari Sumbernya
Masalah minyak jelantah di perkotaan seringkali luput dari perhatian. Ketika dibuang ke saluran air, minyak akan membeku dan menempel di pipa. Dalam jangka panjang, ia menyebabkan penyumbatan, bau tak sedap, dan pencemaran air. Dapur-dapur skala besar seperti SPPG, jika tidak dikelola dengan baik, berpotensi mempercepat masalah ini.
Kolaborasi dengan Capunglam menjadi solusi praktis. Minyak jelantah tidak lagi dibuang, melainkan dikumpulkan dalam wadah khusus dan disalurkan ke jalur pengelolaan yang jelas. Bagi kota, ini berarti mengurangi risiko penyumbatan saluran air.
“Awalnya memang ada keraguan. Banyak yang mikir ini cuma program sementara atau kampanye aja,” kata Adel.
Capunglam tidak hanya datang untuk mengambil minyak. Edukasi tentang dampak minyak jelantah terhadap lingkungan kota juga menjadi bagian penting dari kerja sama ini. Dengan begitu, SPPG memahami bahwa peran mereka bukan sekadar penyetor, tetapi bagian dari solusi.
Ketika Limbah Mendukung Keberlanjutan Layanan Gizi
Di balik skema jual beli minyak jelantah ini, ada dampak sosial yang tidak kecil. Uang dari hasil penukaran minyak dapat membantu menopang keberlanjutan SPPG. Meski nominalnya tidak selalu besar, aliran dana ini menjadi tambahan yang nyata.
Model ini juga memperlihatkan bahwa isu lingkungan dan gizi tidak harus berjalan sendiri-sendiri. Lewat kolaborasi yang tepat, keduanya bisa saling menguatkan. Minyak jelantah yang sebelumnya dianggap tak bernilai kini menjadi penghubung antara dapur layanan publik dan ekosistem pengelolaan limbah yang lebih bertanggung jawab.
Di tengah kota yang terus bertumbuh, kerja sama Capunglam dan SPPG menawarkan sudut pandang baru solusi lingkungan tidak selalu harus dimulai dari teknologi besar atau kebijakan rumit. Kadang, ia lahir dari dapur, dari limbah yang dikumpulkan, dan dari keputusan sederhana untuk tidak lagi membuang minyak ke wastafel.
Dari minyak jelantah, mengalir uang. Dari limbah dapur, tumbuh kesadaran. Dan dari kolaborasi ini, kota belajar bahwa keberlanjutan bisa dibangun lewat kerja sama yang saling menguntungkan.