
Foto: Dok Pribadi/Natera
Ardhiana Malrasari, pendiri D’Belel asal Blitar, merintis usaha upcycle dengan mengolah limbah tekstil sejak bertahun lalu untuk menjawab persoalan sampah kain yang kian menumpuk. Lewat D’Belel, ia mengubah bahan sisa menjadi produk bernilai sekaligus menginspirasi masyarakat agar lebih peduli pada dampak limbah tekstil.
Bagi banyak orang, seragam bekas, celana jeans lusuh, atau potongan kain tak terpakai hanyalah sampah. Namun bagi Ardhiana Malrasari, benda-benda itu justru menjadi awal perjalanan panjang yang mengubah cara pandang orang terhadap limbah tekstil.
Krisis Pandemi yang Mengubah Arah Produksi
Perjalanan Ardhiana merintis D’Belel tidak dimulai dari mimpi besar tentang bisnis ramah lingkungan. Ia berangkat dari kegelisahan sederhana saat melihat limbah tekstil terus menumpuk tanpa solusi, sementara industri fashion terus memproduksi barang baru. Saat itu, Ardhiana masih menggunakan bahan kain impor untuk produksinya. Ketergantungan tersebut terasa wajar hingga pandemi Covid-19 datang.
Ketika kebijakan pembatasan impor diberlakukan, pasokan bahan terhenti. Produksi nyaris berhenti total. Di titik itu, Ardhiana dihadapkan pada pilihan sulit yaitu menunggu impor kembali dibuka atau mencari jalan lain agar usahanya tetap hidup.
“Waktu impor dibatasi, saya sadar kalau terus bergantung ke bahan dari luar, usaha kecil seperti kami sangat rentan,” tuturnya. Dari situlah Ardhiana mulai melirik apa yang selama ini terabaikan: limbah tekstil di sekelilingnya.
Ia mulai mengumpulkan seragam kerja bekas, jeans usang, hingga kain sisa pabrik. Bahan-bahan tersebut dipilah secara manual mana yang masih bisa diolah, mana yang perlu diproses lebih lanjut. Proses ini tidak mudah dan memakan waktu, tetapi justru di sanalah Ardhiana menemukan makna baru dalam berproduksi.
“Barang bekas itu bukan berarti tidak berguna. Kalau diolah dengan tepat, nilainya bisa jauh lebih tinggi,” ujarnya.
Dari limbah-limbah itulah D’Belel mulai dikenal sebagai produk upcycle. Tas, dompet, dan aksesori yang dihasilkan tidak hanya fungsional, tetapi juga membawa cerita tentang perjalanan materialnya. Setiap produk menjadi pengingat bahwa sampah tekstil bukan akhir dari sebuah barang.
Nama D’Belel sendiri lahir dari filosofi Better, Environment, Live, Love. Bagi Ardhiana, memberi kehidupan kedua pada limbah berarti juga menunjukkan rasa cinta pada lingkungan dan manusia. Prinsip ini ia pegang kuat sejak awal merintis hingga kini.
Tak hanya soal bahan, Ardhiana juga membangun D’Belel sebagai ruang pemberdayaan. Ia melibatkan penjahit lokal, pemilah kain, hingga komunitas disabilitas seperti pembatik ciprat. Kolaborasi ini memperluas dampak D’Belel, bukan hanya pada lingkungan, tetapi juga secara sosial.
“Buat saya, dampak itu bukan cuma soal mengurangi sampah, tapi juga bagaimana usaha ini bisa memberi ruang dan kesempatan untuk banyak orang,” katanya.
Edukasi yang Masih Jadi Tantangan
Perjalanan D’Belel tak selalu mulus. Edukasi menjadi tantangan besar. Produk berbahan limbah kerap dipandang sebelah mata, terutama di daerah. Tak jarang Ardhiana mendapat pertanyaan mengapa barang dari bahan bekas bisa dijual dengan harga yang tidak murah.
“Masih banyak yang melihat dari bahannya saja, bukan dari proses dan dampaknya,” ujarnya.
Menariknya, justru dari kota-kota besar seperti Jakarta, produk D’Belel mendapat respons lebih positif. Konsumen di sana dinilai lebih memahami isu lingkungan karena merasakan langsung dampak krisis sampah dan banjir. Hal ini semakin menguatkan keyakinan Ardhiana bahwa edukasi lingkungan harus terus dilakukan, terutama di tingkat lokal.
Kini, D’Belel bukan hanya sebuah UMKM, tetapi juga medium inspirasi. Lewat pameran, diskusi, dan pelatihan, Ardhiana berbagi cerita tentang limbah tekstil dan pentingnya upcycle. Ia ingin menunjukkan bahwa setiap orang bisa berkontribusi, sekecil apa pun langkahnya.
“Kalau satu orang saja mulai peduli sama limbah tekstil, itu sudah berarti. Perubahan besar selalu dimulai dari hal kecil,” katanya.
Kisah Ardhiana Malrasari adalah tentang ketekunan, keberanian mengambil jalan berbeda, dan kepercayaan bahwa limbah bukan akhir. Dari Blitar, ia membuktikan bahwa kepedulian terhadap lingkungan bisa dirintis dari usaha kecil dan menginspirasi banyak orang untuk ikut menjaga bumi dengan cara mereka sendiri.