
Foto: iLitterless
Gerakan lingkungan sering kali datang dengan wajah yang serius: poster penuh data, jargon teknis, dan narasi krisis. Di satu sisi, semua itu penting. Tapi di kota seperti Malang yang hidup dari kampus, kafe, dan budaya nongkrong bahasa semacam itu sering terasa jauh dari keseharian. iLitterless membaca jarak itu sejak awal, dan memilih untuk menutupnya dengan cara yang tidak lazim yaitu membangun gerakan pengelolaan sampah dengan wajah anak muda.
Sejak berdiri, iLitterless tidak pernah memposisikan diri sebagai lembaga yang datang dari atas. Mereka justru sengaja tampil sebagai bagian dari generasi yang sama dengan para konsumennya.
“Kami ingin terlihat seperti organisasi anak muda,” kata tim iLitterless dalam wawancara.
Bukan sekadar soal gaya visual, tetapi tentang cara berkomunikasi, memilih ruang, dan membangun hubungan dengan publik.
Sampah Kota dan Gaya Hidup Urban
Pilihan ini berangkat dari pemahaman yang sangat konkret tentang sumber masalah. Dari data yang mereka kumpulkan lewat sistem ICOS di puluhan kafe mitra, iLitterless melihat bahwa sebagian besar sampah kota datang dari gaya hidup urban anak muda: kopi susu, minuman kemasan, dan makanan praktis yang dibungkus sekali pakai. Dari rumah kos dan ruang personal, botol plastik, skincare, dan kemasan body care mendominasi.
Artinya, krisis sampah tidak datang dari ruang yang asing. Ia lahir dari rutinitas yang sangat dekat dengan generasi muda. Dan jika sumber masalahnya ada di sana, maka pintu masuk solusinya juga harus berada di tempat yang sama.
Mobi sebagai Simbol Gerakan
Karena itu, iLitterless memilih kafe, kampus, dan ruang komunitas sebagai titik intervensi. Mereka tidak hanya datang membawa tempat sampah, tetapi juga membawa cerita dan identitas. Mobi jaringan recycling station milik iLitterless dirancang bukan sebagai benda utilitarian, melainkan sebagai karakter. Ada Mobi RS untuk botol plastik, Mobi Plate untuk HDPE, dan Mobi Girl untuk limbah skincare dan make up. Bahkan Mobi Girl memiliki karakter turunan: Luma, Hana, dan Kira, yang “tinggal” di ruang-ruang yang akrab bagi anak muda, dari beauty space hingga sport area.
Pendekatan ini sengaja dibuat agar terasa ramah dan tidak mengintimidasi.
“Kami ingin orang merasa sedang berinteraksi dengan sesuatu yang menyenangkan, bukan sedang diadili karena membuang sampah,” ujar mereka.
Dalam konteks ini, branding bukan soal citra, tetapi soal psikologi.
Hal yang sama terlihat dalam strategi kampanye. iLitterless jarang memakai pendekatan larangan. Mereka lebih sering menggunakan reward. Green Consumer Day, misalnya, mengajak orang membawa sampah dan menukarnya dengan kopi di kafe mitra. Mobi RS memberi poin. Mobi Girl memberi voucher. Semua dikemas sebagai pengalaman yang menyenangkan, bukan kewajiban yang berat.
Pendekatan ini mengakui satu hal penting: anak muda hidup dalam budaya insentif. Mereka terbiasa dengan poin, reward, dan gamifikasi. Daripada melawannya, iLitterless memilih memanfaatkannya untuk tujuan lingkungan.
Dari Sampah ke Kesadaran
Dampaknya mulai terlihat dari perubahan kecil tapi konsisten. iLitterless mencatat bahwa semakin banyak anak muda yang menyetor sampah dalam kondisi bersih, bahkan melepas label dan tutupnya. Ini menunjukkan bahwa yang berubah bukan hanya perilaku, tetapi juga cara pandang. Sampah tidak lagi diperlakukan sebagai sesuatu yang menjijikkan dan harus segera dibuang, melainkan sebagai material yang punya nilai jika diperlakukan dengan benar.
Di media sosial, iLitterless juga menggunakan bahasa yang sama dengan audiensnya. Mereka berbicara tentang ngopi, skincare, dan gaya hidup, lalu mengaitkannya dengan dampak lingkungan. Isu besar seperti ekonomi sirkular dan tanggung jawab produsen diterjemahkan ke dalam percakapan sehari-hari.
Di tengah krisis sampah yang sering terasa terlalu besar untuk ditangani, iLitterless menunjukkan bahwa perubahan bisa dimulai dari pendekatan yang sederhana: membuat orang merasa dilibatkan, bukan disalahkan. Dengan menjadikan anak muda sebagai wajah, bahasa, dan energi gerakan, mereka sedang membangun ekologi baru dalam pengelolaan sampah satu di mana kesadaran tumbuh bukan dari rasa bersalah, tetapi dari rasa memiliki.
Di kota yang hidup dari generasi muda, mungkin memang hanya mereka yang bisa mengubah cara kota ini memperlakukan sampahnya.