
Malang – Bagaimana layanan ICOS iLitterless dikembangkan sebagai solusi pengelolaan sampah kemasan di kafe dibahas dalam liputan bersama iLitterless melalui wawancara dengan Nina Amelia, Education and Outreach Coordinator iLitterless. Melalui layanan ini, iLitterless berupaya mengurangi sampah bernilai rendah yang selama ini berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) dengan pendekatan edukasi, penjemputan, dan pelaporan berbasis data.
Berangkat dari realitas lapangan, iLitterless melihat kafe sebagai salah satu sumber sampah kemasan minuman yang konsisten, terutama kemasan berlapis seperti kotak susu dan minuman siap saji. Jenis sampah ini kerap terpinggirkan dalam sistem daur ulang karena dianggap tidak bernilai dan sulit diolah.
Dari Aktivisme ke Sistem Layanan
Menurut Nina Amelia, layanan ICOS iLitterless lahir dari pengalaman panjang mendampingi pelaku usaha kuliner di Malang. Banyak kafe sebenarnya sudah memiliki niat untuk memilah sampah, tetapi tidak memiliki sistem lanjutan setelah pemilahan dilakukan.
“Selama ini, kemasan bekas minum hampir selalu dibuang ke TPA karena pengepul jarang mau menerima. Padahal, secara material masih bisa didaur ulang, hanya prosesnya memang lebih kompleks,” ujar Nina kepada tim Natera.
Kemasan berlapis terdiri dari karton, plastik, dan aluminium foil yang membutuhkan fasilitas khusus untuk memisahkannya. Tanpa sistem yang jelas, sampah tersebut akhirnya keluar dari rantai daur ulang sejak awal.
ICOS kemudian dirancang bukan sekadar sebagai program kampanye, tetapi sebagai product and service yang bisa diakses kafe secara berkelanjutan.
Cara Kerja Layanan ICOS iLitterless

Dalam praktiknya, ICOS berjalan melalui tiga komponen utama yaitu edukasi, penjemputan terjadwal, dan pelaporan data. Pada tahap awal, tim iLitterless memberikan pendampingan kepada staf kafe mulai dari barista hingga manajer untuk memahami pemilahan sampah yang sesuai standar daur ulang.
Sampah yang sudah dipilah kemudian dijemput secara rutin, umumnya satu kali dalam sepekan. Penjemputan ini menjadi kunci agar sampah tidak kembali tercampur dan berakhir di TPA.
Yang membedakan ICOS dari layanan pengangkutan sampah biasa adalah laporan bulanan yang diberikan kepada kafe.
“Kami kirim waste report ke PIC kafe setiap bulan. Dari situ mereka bisa tahu berapa kilo sampah yang dihasilkan dan mulai mengevaluasi kebiasaan operasionalnya,” kata Nina.
Pendekatan berbasis data ini membuat layanan ICOS iLitterless berfungsi sebagai alat refleksi, bukan sekadar solusi logistik.
Kolaborasi dengan Produsen dan Prinsip EPR
ICOS juga dijalankan dengan dukungan Tetra Pak Indonesia sebagai bagian dari penerapan Extended Producer Responsibility (EPR). Dalam skema ini, kemasan bekas minum yang dikumpulkan dari kafe mitra dikirim ke fasilitas daur ulang rekanan produsen.
Model ini menunjukkan bagaimana tanggung jawab produsen tidak berhenti di tahap produksi, tetapi diperpanjang hingga pascakonsumsi. ICOS menjadi contoh konkret kolaborasi antara organisasi masyarakat sipil, pelaku usaha, dan industri dalam mendorong ekonomi sirkular.
Informasi resmi mengenai layanan ini dapat diakses melalui laman iLitterless
Menjawab Masalah Sampah Bernilai Rendah
Di banyak kota, termasuk Malang, sampah kemasan berlapis menjadi penyumbang beban TPA karena tidak memiliki nilai ekonomi di tingkat pengepul. Nina menilai, tanpa intervensi langsung di sumber sampah, persoalan ini akan terus berulang.
“Botol plastik masih punya nilai, tapi kotak susu tidak. Padahal volumenya besar di kafe. Kalau tidak ada sistem seperti ICOS, ya ujungnya dibuang,” ujarnya.
Dengan masuk langsung ke kafe sebagai sumber sampah, layanan ICOS iLitterless mencoba mengurangi aliran sampah ke TPA sekaligus memastikan material bernilai rendah tetap masuk ke jalur daur ulang.
Edukasi yang Relevan untuk Anak Muda
iLitterless menyadari bahwa perubahan perilaku tidak bisa dipaksakan. Edukasi dilakukan dengan pendekatan yang dekat dengan keseharian anak muda nongkrong di kafe, bekerja sebagai barista, dan berinteraksi dengan kemasan sekali pakai.
“Memilah sampah itu tidak harus langsung sempurna. Bisa mulai dari yang paling sering dipakai,” kata Nina.
Pendekatan ini membuat isu lingkungan terasa lebih realistis dan tidak mengintimidasi.
ICOS juga terhubung dengan program iLitterless lain seperti dropbox Mobi dan aktivasi komunitas, sehingga membentuk ekosistem edukasi yang saling melengkapi.
Lebih dari Sekadar Penjemputan Sampah
Bagi iLitterless, ICOS bukan solusi instan untuk krisis sampah perkotaan. Layanan ini diposisikan sebagai alat transisi membantu pelaku usaha dan konsumen beralih dari pola buang ke pola kelola.
Ke depan, iLitterless berharap layanan ICOS iLitterless dapat direplikasi di kota lain dengan konteks yang disesuaikan.
“Kalau sistemnya ada dan mudah diikuti, orang sebenarnya mau ikut. Tantangannya justru di membangun sistem itu,” ujar Nina.
Di tengah persoalan sampah yang kian kompleks, ICOS menunjukkan bahwa inovasi pengelolaan tidak selalu harus berteknologi tinggi. Dengan edukasi, data, dan kolaborasi lintas sektor, layanan ini menawarkan langkah konkret untuk memperkuat praktik daur ulang . dimulai dari tempat orang paling sering berkumpul.