Trash Ranger Ajak Refleksi Krisis Lingkungan dari Rumah Sendiri

Dalam webinar “Youth Powered Circular Future: Implementasi Ekonomi Sirkular Indonesia Berbasis Strategi Global” oleh GreenSkill ID, Dimas ajak peserta merefleksikan kebiasaan harian yang membentuk krisis lingkungan. Diskusi ini menegaskan peran tindakan kecil sebagai fondasi perubahan berkelanjutan.
Foto : Dokumen Pribadi

Banjir, kebakaran TPA, dan krisis iklim sering muncul sebagai berita besar yang terasa jauh dari rutinitas harian. Padahal, banyak kerusakan lingkungan lahir dari kebiasaan kecil yang manusia anggap wajar.

Plastik sekali pakai terus terpakai karena alasan praktis. Makanan tersisa karena rasa sayang berhenti sebelum piring benar-benar kosong. Listrik menyala sepanjang malam karena lupa atau merasa tidak berdampak besar.

Dimas Dwi Pangestu memandang pola itu sebagai bentuk kelalaian kolektif. Ia melihat bencana bukan sekadar peristiwa alam, melainkan cermin dari tanggung jawab manusia terhadap ruang hidupnya sendiri.

“Kita berdosa atas kematian mereka. Kita juga bagian atas kematian mereka. Karena tanpa kita sadar, udara yang kita hirup, makanan yang kita makan, tanah yang kita pijak, bahkan ir yang kita minum itu semuanya diberikan secara gratis oleh alam kita.”

Kesadaran itu tidak muncul tiba-tiba. Ia mengaku tertarik pada isu keberlanjutan karena rasa ingin belajar, bukan karena merasa paling paham. Ketertarikan itu tumbuh dari pengamatan terhadap realitas sosial dan ekologis.

“Nah, yang aku ingin pelajari itu.isu keberlanjutan. Aku belum jago, tapi aku sangat senang kalau belajar. Nah, yang menjad kesukaan aku isu lingkungan.”

Dalam pandangannya, banyak orang merasa perubahan lingkungan terlalu besar untuk dilakukan sendiri. Alasan terus muncul, sementara kebiasaan lama tetap berulang tanpa refleksi.

“Tapi, kita selalu banyak beralasan punya terlalu banyak menyalahkan orang lain tanpa kita sadar kita sangat sulit untuk berkontribusi pada lingkungan kita sekitar.”

Trash Ranger dan Filosofi Bergerak dari Rasa Bersalah

Dari kegelisahan itu, Trash Ranger tumbuh sebagai ruang belajar sekaligus ruang refleksi. Komunitas ini tidak berangkat dari narasi heroik, melainkan dari pengakuan bahwa manusia sering gagal menjaga lingkungannya.

Ia menyebut filosofi Trash Ranger lahir dari kesadaran moral yang sederhana. Kalimatnya singkat, tetapi menuntut konsistensi dalam praktik sehari-hari.

“Dan satu filosofi yang kita angkat, yaitu mari bergerak, ayo berdampak. Let’s move, let’s make an impact. Jadi, mostly kita mengkampanyekan isu lingkungan secara berlanjutan.”

Ia menyadari filosofi itu tidak mudah terwujud. Banyak gerakan lingkungan berhenti pada kampanye visual tanpa perubahan perilaku yang nyata.

“Nah, ini kata-kata yang simpel tapi sulit diimplementasikan ya.”

Trash Ranger mencoba menghindari jebakan itu. Komunitas ini menekankan keberlanjutan gerakan melalui kedekatan nilai dan visi bersama. Siapa pun bisa terlibat tanpa menunggu status atau gelar.

“Oleh karena itu salah satu filosofi yang kita bangun di Trash Ranger, itu adalah tentang mari bergerak, ayo berdampak. Nggak peduli kalian belum jadi siapapun, kalian bisa berdampak. Asalkan punya satu hal.”

Baginya, gerakan lingkungan bukan soal siapa paling lantang. Gerakan yang kuat lahir dari konsistensi, keterlibatan, dan arah yang jelas.

“Setiap orang itu bisa bikin gerakan. Setiap orang bisa bikin apapun, tapi nggak semua orang bisa bikin gerakan yang sustain dan juga tepat sasaran.”


Dari Refleksi Pribadi ke Gerakan Kolektif

Trash Ranger memposisikan lingkungan sebagai ruang belajar bersama, bukan panggung pencitraan. Komunitas ini mendorong anggota untuk melihat ulang kebiasaan personal sebelum mengkritik sistem besar.

Dalam banyak forum, Ia mengajak anak muda memulai dari hal paling dekat. Perubahan tidak selalu hadir dari aksi besar, tetapi dari keputusan harian yang konsisten.

Komunitas ini juga membuka ruang kolaborasi lintas latar belakang. Anggota datang dari berbagai profesi dan minat, lalu bertemu dalam satu visi keberlanjutan.

Dimas sendiri aktif berbagi pengetahuan melalui berbagai forum dan organisasi. Ia tercatat sebagai konten kreator, Vice President Indonesia Geopark Youth Forum, serta aktif dalam jejaring kepemudaan nasional.

Pengalaman itu membentuk pendekatan Trash Ranger yang inklusif. Gerakan tidak memaksa, tetapi mengajak dengan refleksi moral dan logika sebab-akibat.

Bagi Trash Ranger, lingkungan bukan isu abstrak. Ia hadir dalam napas, makanan, air, dan ruang hidup sehari-hari. Ketika manusia abai, dampaknya akan kembali pada dirinya sendiri.

Melalui refleksi kolektif, Trash Ranger menegaskan satu pesan utama: perubahan tidak menunggu sempurna. Ia tumbuh dari kesadaran, bergerak bersama, dan keberanian mengakui peran dalam krisis lingkungan.

Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.