SLEMAN, DIY – Webinar Green Jobs Talks: Sustainable Tourism for Youth to Discover, Protect, and Empower yang digelar pada 30 Desember 2025 melalui Zoom Meeting membahas bagaimana green jobs pariwisata berkelanjutan dapat menjadi jalur karier baru bagi anak muda melalui praktik nyata pengelolaan desa wisata. Acara ini menghadirkan Dwi Wahyu Setia Budi dan Dani Fauzi sebagai pembicara utama.
Desa Wisata sebagai Ruang Kerja Hijau
Dalam pemaparannya, Dwi Wahyu Setia Budi menjelaskan bahwa Desa Wisata Pentingsari tidak dibangun sebagai destinasi wisata instan, melainkan melalui proses panjang berbasis partisipasi warga sejak 2008. Desa ini mengandalkan kekuatan alam, pertanian, budaya, dan gotong royong sebagai fondasi pengembangan pariwisata.
Pendekatan tersebut menjadikan Pentingsari bukan hanya tujuan wisata, tetapi ruang kerja hijau tempat masyarakat terutama generasi muda terlibat langsung dalam pengelolaan lingkungan dan ekonomi desa.
“Pariwisata berkelanjutan itu bukan soal ramai atau tidaknya kunjungan, tapi bagaimana aktivitas wisata tetap memberi ruang hidup bagi warga dan alamnya,” ujar Dwi.
Green Jobs dari Desa, Bukan dari Kota
Dwi menekankan bahwa peluang kerja hijau tidak selalu lahir dari kota besar atau industri skala nasional. Di Pentingsari, green jobs tumbuh dari aktivitas sehari-hari warga desa seperti pemandu wisata berbasis edukasi lingkungan, pengelola homestay ramah lingkungan, pengolah pangan lokal, hingga fasilitator kegiatan pertanian dan budaya.
Anak muda dilibatkan sejak tahap perencanaan hingga pengelolaan. Dengan demikian, mereka tidak hanya menjadi tenaga kerja, tetapi aktor pengambil keputusan dalam pembangunan desa wisata.
“Kalau anak muda hanya jadi penonton, desa wisata akan berhenti. Tapi kalau mereka jadi aktor, pariwisata bisa hidup puluhan tahun,” kata Dwi.
Pengendalian Wisata sebagai Etika Keberlanjutan
Salah satu praktik penting yang disorot dalam webinar adalah kebijakan pengendalian hijau. Desa Wisata Pentingsari menerapkan pembatasan kunjungan harian, sistem reservasi terpusat, serta edukasi perilaku ramah lingkungan bagi wisatawan.
Kebijakan ini bertujuan menjaga daya dukung lingkungan dan mencegah eksploitasi berlebihan. Dalam konteks green jobs pariwisata berkelanjutan, langkah ini menunjukkan bahwa keberlanjutan harus menjadi prinsip kerja, bukan sekadar jargon promosi.
Ekonomi Lokal yang Tumbuh Bersama Lingkungan
Materi webinar juga memaparkan dampak ekonomi dari pengelolaan desa wisata berkelanjutan. Pentingsari mencatat puluhan ribu kunjungan wisatawan setiap tahun dengan perputaran ekonomi yang dikelola secara kolektif dan transparan.
Lebih dari 80 homestay dikelola warga sebagian besar oleh perempuan serta puluhan UMKM bergerak di sektor kuliner, kriya, dan produk pertanian. Skema ini memperlihatkan bahwa green jobs tidak terpisah dari keadilan sosial dan ekonomi lokal.
Perspektif DESMA Center, Green Jobs sebagai Sistem
Dani Fauzi dari DESMA Center menegaskan bahwa green jobs di sektor pariwisata harus dipahami sebagai sistem jangka panjang.
“Green jobs di pariwisata itu bukan pekerjaan sementara. Ini soal membangun sistem yang adil, berkelanjutan, dan bisa diwariskan,” ujar Dani.
Menurutnya, banyak inisiatif pariwisata gagal bertahan karena mengejar pertumbuhan cepat tanpa mempertimbangkan dampak lingkungan dan sosial. Padahal, pendekatan berkelanjutan
Data Global, Pariwisata dan Lapangan Kerja Hijau
Secara global, Organisasi Pariwisata Dunia PBB (UNWTO) menyebut pariwisata berkelanjutan sebagai salah satu sektor strategis pencipta green jobs, khususnya di wilayah pedesaan dan negara berkembang.
Pendekatan ini sejalan dengan arah kebijakan pariwisata Indonesia yang mendorong quality tourism berbasis keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.
Relevansi bagi Generasi Muda
Webinar Green Jobs Talks menegaskan bahwa generasi muda tidak harus memilih antara idealisme lingkungan dan kebutuhan ekonomi. Melalui green jobs pariwisata berkelanjutan, keduanya dapat berjalan beriringan.
Desa Wisata Pentingsari menunjukkan bahwa desa bisa menjadi ruang masa depan tempat bekerja, belajar, dan merawat lingkungan secara bersamaan. Bagi Gen Z yang mencari karier bermakna, model ini menawarkan alternatif nyata dan kontekstual.
Webinar ini menjadi pengingat bahwa pariwisata tidak harus merusak untuk berkembang. Dengan menempatkan keberlanjutan sebagai fondasi, sektor ini justru membuka jalan kerja hijau yang adil dan tahan krisis. Di tangan generasi muda, desa wisata bukan hanya destinasi, tetapi ruang hidup yang berkelanjutan.