Sapa Bumi,Gerakan Kolektif Memilah Sampah Dari Rumah

DK Wardhani
DK Wardhani saat berbincang bersama tim NATERA mengenai program Sahabat Alam Cilik dan Belajar Zero Wasteyang ia inisiasi untuk menanamkan kepedulian lingkungan sejak dini.
Foto : Dok/Pribadi Natera.

Kota Malang-gerakan kecil mulai mengubah cara orang memandang sampah. Bukan lagi sekadar dibuang atau ditumpuk, tapi dikumpulkan dan disetor bersama. Gerakan ini bernama Sapa Bumi, sebuah drop point sampah yang digagas oleh Dk Wardhani.

Perjalanannya tidak muncul tiba-tiba. Dk Wardhani lebih dulu membangun kesadaran lingkungan lewat dua program Sahabat Alam Cilik dan kelas Belajar Zero Waste. Dari sana ia melihat satu pola yang sama. Banyak orang ingin hidup lebih ramah lingkungan, tapi tidak tahu harus mulai dari mana.

Pada saat awal membuka kelas sapa bumi Hanya delapan orang yang bergabung. Jumlahnya memang sedikit, tapi cukup untuk membuktikan bahwa masih ada orang yang benar-benar mau bergerak.

Gerakan Setor Sampah 

Sapa Bumi bukan bank sampah. Dk Wardhani sengaja menegaskan itu sejak awal. Program ini lebih ia sebut sebagai gerakan setor sampah secara kolektif. Orang-orang yang tergabung menjadi member mengumpulkan sampah non-organik dari rumah masing-masing, lalu menyetorkannya di drop point yang telah ditentukan.

Modelnya sederhana, tapi konsisten. Drop point biasanya dibuka satu bulan sekali dan berlangsung selama tiga hari. Dalam waktu singkat itu, para member datang membawa sampah yang sudah mereka pilah dari rumah.

Jenis sampah yang diterima pun cukup beragam. Lebih dari 30 jenis sampah non-organik bisa di setor. Mulai dari plastik kemasan, botol, hingga berbagai limbah rumah tangga lain yang biasanya sulit dikelola.

Perlahan, jumlah orang yang ikut bergabung bertambah. Dari delapan orang, kini membership Sapa Bumi sudah mencapai 40 anggota. Mereka tersebar di beberapa wilayah Malang Raya.

Kecamatan Pakis memiliki 8 anggota. Lowokwaru 9 orang. Blimbing menjadi wilayah dengan anggota terbanyak, yaitu 11 orang.

Selain itu ada juga member dari Kedungkandang sebanyak 7 orang, Sukun 1 orang, Klojen 1 orang, Singosari 2 orang, dan Karangploso 1 orang.

Angka-angka ini mungkin terlihat kecil jika dibandingkan dengan gerakan lingkungan besar. Tapi bagi Dk Wardhani, pertumbuhan itu menunjukkan sesuatu yang lebih penting yaitu kesadaran bisa tumbuh dari komunitas kecil.

“Yang penting orang mulai memilah dari rumah,” cletuknya

Gerakan Setor Sampah 

Sapa Bumi tidak hanya mengumpulkan sampah. Program ini juga membangun rasa kepemilikan di antara para anggotanya.

Setiap sampah yang terkumpul akan dijual kembali ke pihak pengelola daur ulang. Hasil penjualannya masuk ke kas Sapa Bumi. Dari kas itu, komunitas membiayai operasional kegiatan sekaligus memberikan reward kepada para member.

“Jadi botol bekas diisi deterjen, terus nanti member aktif, artinya yang dia rutin 3 atau 4 bulan dalam setahun. Pokoknya saya punya cek list-nya. Jadi namanya siapa, store bulan apa saja itu saya punya.” Ujarnya saat wawancara bersama team Natera

Reward ini tidak selalu berbentuk hadiah pribadi, Dk Wardhani sering mengarahkan manfaatnya untuk kegiatan yang lebih luas.

Misalnya dengan mengedukasi anggota agar bisa mengelola sampah organik di rumah. Banyak member kemudian belajar membuat kompos dari sisa dapur mereka sendiri. Kulit sayur, sisa makanan, hingga limbah dapur lain tidak lagi berakhir di tempat sampah.

Sebagian member bahkan mulai membagikan praktik itu ke orang di sekitar mereka. Lingkaran kecil kesadaran lingkungan pun mulai meluas.

Di titik ini, Sapa Bumi berubah menjadi lebih dari sekadar drop point sampah namun menjadi ruang belajar bersama. Para anggota saling bertukar pengalaman tentang cara memilah sampah, mengurangi plastik, hingga memanfaatkan limbah rumah tangga. Percakapan sederhana itu sering terjadi saat mereka datang ke drop point setiap bulan.

Bagi Dk Wardhani, pendekatan komunitas seperti ini terasa lebih efektif. Ia tidak ingin orang merasa terbebani dengan aturan yang terlalu rumit. Ia ingin mereka merasa menjadi bagian dari gerakan.

Dan sejauh ini, cara itu berhasil.

Setiap botol yang didaur ulang juga berarti satu langkah kecil untuk bumi.

Bagi Dk Wardhani, perubahan memang tidak selalu datang dari gerakan besar. Kadang ia tumbuh dari hal sederhana dengan cara orang-orang yang mau menyapa bumi dengan cara yang lebih peduli.

Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.