
Foto : Freepik
Halo Naters! Di tengah rutinitas mencuci yang biasanya identik dengan aroma deterjen dan busa melimpah, ada cerita berbeda dari seorang perempuan bernama Rere. Di rumahnya, tidak ada botol deterjen mencolok atau cairan pembersih penuh bahan kimia. Sebagai gantinya, ia mengandalkan cairan berwarna cokelat bening dari buah lerak warisan lama yang kini ia hidupkan kembali.
Apa sih Air Lerak Itu?
Di tengah kebiasaan kita yang serba instan termasuk urusan mencuci nama “lerak” mungkin terdengar asing bagi sebagian Gen Z. Padahal, sebelum deterjen modern membanjiri pasar, masyarakat Indonesia sudah lebih dulu mengenal buah kecil berwarna cokelat ini sebagai pembersih alami.

Foto : Trubus.id
Lerak berasal dari pohon Sapindus rarak, yang banyak tumbuh di wilayah Asia Tenggara. Buah ini mengandung saponin, senyawa alami yang bisa menghasilkan busa ketika terkena air. Sifatnya mirip seperti sabun, tapi tanpa tambahan bahan kimia sintetis. Dulu, lerak identik dengan perawatan kain batik karena dianggap lebih lembut dan tidak merusak serat maupun warna.
Namun, di tangan orang-orang yang mau bereksperimen, fungsi lerak ternyata jauh lebih luas. Tidak hanya untuk batik, lerak bisa digunakan untuk mencuci pakaian sehari-hari, bahkan peralatan dapur. Sayangnya, seiring berkembangnya industri deterjen, pengetahuan ini perlahan tenggelam.
Di sinilah cerita Rere dimulai seseorang yang memilih untuk kembali ke akar, bukan sekadar tren.
Perjalanan 12 Tahun Rere
Rere, seorang team lead manager di Zona Bening, sudah lebih dari satu dekade hidup berdampingan dengan air lerak. Bukan sebagai eksperimen sesaat, tapi sebagai pilihan hidup yang konsisten.
“Aku sudah 12 tahun nyuci pakai lerak,” katanya santai, seolah itu hal biasa.
Tapi di tengah dominasi deterjen berbahan kimia, keputusan itu jelas bukan sesuatu yang umum.

Foto : Dok Pribadi/Natera,
Perjalanan Rere dimulai ketika ia belajar langsung dari Kristien Yuliarti, founder Omah Hijau, yang memperkenalkan konsep hidup lebih ramah lingkungan. Dari sana, Rere tidak hanya belajar cara membuat air lerak, tapi juga memahami filosofi di baliknya bahwa apa yang kita gunakan sehari-hari punya dampak langsung pada bumi.
Air lerak dibuat dengan cara sederhana: buah lerak direbus hingga mengeluarkan cairan berbusa, lalu disaring dan digunakan sebagai sabun cair. Tanpa pewangi sintetis, tanpa bahan kimia keras, tapi tetap efektif membersihkan.
Menariknya, Rere tidak sepenuhnya anti deterjen. Ia masih menggunakan deterjen untuk mencuci pakaian berwarna putih yang membutuhkan pembersihan ekstra. Namun, untuk sebagian besar kebutuhan rumah tangga, air lerak jadi pilihan utama.
Bagi Rere, ini bukan soal menjadi sempurna, tapi soal mengurangi dampak sebisa mungkin.
“Orang dulu sebenarnya pakai lerak cuma buat batik. Padahal nggak harus gitu,” jelasnya.
Ia percaya bahwa pengetahuan lama ini bisa diadaptasi ke kebutuhan modern, tanpa kehilangan esensinya.
Keputusan kecil seperti mengganti deterjen mungkin terlihat sepele. Tapi jika dilakukan terus-menerus selama 12 tahun, dampaknya jelas tidak kecil.
Lerak sebagai Gerakan Kecil Jaga Bumi
Kita sering lupa bahwa deterjen yang kita pakai setiap hari tidak benar-benar hilang setelah kita bilas. Limbahnya mengalir ke sungai, laut, lalu kembali ke ekosistem tempat kita hidup.
Kandungan fosfat dan bahan kimia lain dalam deterjen memicu pencemaran air sekaligus merusak keseimbangan lingkungan.
Air lerak menawarkan alternatif yang jauh lebih ramah. Bahan alaminya membuat limbahnya mudah terurai dan tidak mencemari air secara signifikan. Hal ini membuat Rere semakin yakin dengan pilihannya. Manfaatnya pun tidak berhenti di situ.
“Nggak cuma cuci baju, cuci gelas piring itu juga bisa,” kata Rere saat wawancara bersama tim Natera.
Dalam praktik sehari-hari, air lerak menjadi solusi multifungsi satu bahan mampu menggantikan beberapa produk rumah tangga sekaligus.
Bagi Gen Z yang mulai sadar terhadap isu lingkungan, pendekatan ini terasa lebih masuk akal. Mereka tidak perlu melakukan perubahan besar secara instan, tetapi bisa memulai dari langkah kecil yang realistis dan konsisten.
Cerita Rere membuktikan bahwa kearifan lokal tidak hanya berhenti sebagai warisan masa lalu. Kearifan ini terus berkembang, menyesuaikan diri dengan zaman, dan menjawab persoalan modern seperti polusi serta ketergantungan pada bahan kimia.
Di tengah maraknya label “eco-friendly” yang sering menjadi strategi marketing, air lerak hadir secara sederhana tanpa gimmick.
Mungkin kita belum siap meninggalkan deterjen sepenuhnya besok pagi. Namun, seperti Rere, kita bisa memulai satu perubahan kecil karena menjaga bumi bisa kita mulai dari hal paling dekat: cucian di rumah sendiri.