
Foto: Kaliku
Fokus isu lingkungan yang diangkat Kaliku semakin relevan di tengah meningkatnya krisis lingkungan di Malang Raya. Komunitas ini tidak hanya menyoroti persoalan sampah, tetapi juga kondisi sungai, edukasi lingkungan, hingga perubahan perilaku masyarakat yang menjadi akar berbagai kerusakan alam. Berangkat dari realitas di lapangan, Kaliku melihat sungai masih sering dijadikan tempat pembuangan akhir akibat rendahnya kesadaran kolektif masyarakat terhadap lingkungan.
Komunitas Kaliku hadir sebagai gerakan berbasis masyarakat yang berfokus pada pemberdayaan sekaligus pelestarian lingkungan, khususnya di wilayah sungai. Sejak awal berdiri pada 2019, Kaliku memulai gerakan dari aksi sederhana, yaitu membersihkan sungai yang penuh sampah di Desa Wagir. Dari aksi kecil tersebut, gerakan ini berkembang menjadi upaya yang lebih sistematis, mencakup edukasi, advokasi, hingga kolaborasi lintas sektor.
Menurut Sugeng Widodo selaku inisiator Kaliku, persoalan lingkungan tidak bisa dilepaskan dari perilaku manusia yang masih abai terhadap dampak jangka panjang.
“Sekaya apapun, sepintar apapun, kalau alam ini rusak, kita mau ngapain? Bumi ini cuma satu. Rusak di mana pun, kita semua terdampak,” ujar Sugeng.
Sungai sebagai Cermin Krisis Lingkungan

Foto: Kaliku
Salah satu fokus utama yang diangkat Kaliku adalah kondisi sungai yang semakin memprihatinkan. Sungai tidak lagi dipandang sebagai sumber kehidupan, melainkan sebagai tempat pembuangan limbah, baik sampah rumah tangga maupun limbah cair.
Dalam berbagai kegiatan seperti susur sungai, Kaliku melakukan pendataan secara detail terhadap kondisi sungai. Mulai dari volume sampah, titik pencemaran, debit air, hingga kondisi ekosistem di sekitar sungai. Pendekatan ini dilakukan untuk memastikan bahwa setiap aksi yang dilakukan berbasis data, bukan sekadar simbolik.
Sugeng menjelaskan bahwa persoalan utama bukan hanya pada sampah yang terlihat, tetapi pada sistem pengelolaan yang belum optimal serta perilaku masyarakat yang masih menganggap sungai sebagai “tempat terakhir”.
“Kita bersih-bersih sungai mungkin sebulan sekali, tapi masyarakat buang sampah itu tiap detik. Jadi kalau tidak ada perubahan perilaku, masalah ini tidak akan selesai,” jelasnya.
Selain itu, kondisi hulu sungai juga menjadi perhatian serius. Alih fungsi lahan di kawasan hulu menyebabkan berkurangnya daya serap air, yang berujung pada meningkatnya risiko banjir dan longsor di wilayah hilir. Hal ini menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan bersifat sistemik dan saling terhubung.
Kaliku juga menyoroti fakta bahwa sebagian besar air yang dikonsumsi masyarakat berasal dari sungai yang telah melalui proses pengolahan. Namun, tingginya tingkat pencemaran tetap menjadi ancaman bagi kualitas air tersebut.
Edukasi dan Pemberdayaan sebagai Kunci Perubahan
Selain fokus pada sungai, Kaliku juga menempatkan edukasi sebagai inti dari gerakan mereka. Edukasi tidak hanya dilakukan melalui sosialisasi formal, tetapi juga melalui pendekatan informal yang lebih dekat dengan masyarakat.
Kaliku aktif melakukan edukasi ke sekolah-sekolah, komunitas, hingga kelompok masyarakat melalui diskusi santai dan kegiatan langsung di lapangan. Pendekatan ini dinilai lebih efektif dibandingkan metode formal yang cenderung kaku dan sulit diterima oleh masyarakat.
“Kita tidak bisa memaksa masyarakat berubah dengan cara formal. Kita harus ngobrol, duduk bareng, supaya mereka paham dampaknya,” ungkap Sugeng.
Edukasi ini juga diimbangi dengan program pemberdayaan, seperti pelatihan pembuatan kompos, pemanfaatan limbah, hingga pengembangan pertanian sederhana. Salah satu inovasi yang dilakukan adalah pemanfaatan eceng gondok menjadi kompos, yang sebelumnya dianggap sebagai hama.
Langkah ini menunjukkan bahwa limbah dapat diolah menjadi sumber daya jika dikelola dengan tepat. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya diajak untuk menjaga lingkungan, tetapi juga mendapatkan manfaat ekonomi dari kegiatan tersebut.
Namun, Kaliku menyadari bahwa perubahan tidak bisa terjadi secara instan. Dibutuhkan waktu panjang dan konsistensi untuk membangun kesadaran kolektif.
“Gerakan yang kami lakukan ini bukan jawaban, tapi upaya. Jawabannya ada pada kesadaran masyarakat itu sendiri,” tegas Sugeng.
Kolaborasi dan Harapan ke Depan
Dalam menjalankan kegiatannya, Kaliku tidak bergerak sendiri. Komunitas ini активно menjalin kolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, akademisi, hingga komunitas lain. Kolaborasi ini menjadi penting karena isu lingkungan tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja.
Program-program seperti penanaman pohon, bersih sungai, hingga pengelolaan sampah dilakukan secara kolaboratif untuk memperluas dampak yang dihasilkan. Bahkan, Kaliku telah menjangkau berbagai daerah di luar Malang, seperti Pasuruan dan Blitar.
Ke depan, Kaliku memiliki visi untuk mengembangkan konsep “sekolah sungai”, yaitu ruang edukasi lingkungan yang terintegrasi dengan praktik langsung. Program ini diharapkan dapat menjadi sarana pembelajaran bagi generasi muda untuk lebih memahami pentingnya menjaga lingkungan.
Sugeng berharap semakin banyak masyarakat yang mulai peduli dan mengambil peran dalam menjaga lingkungan.
“Kalau mau melihat sebuah wilayah itu maju atau tidak, lihat saja sungainya. Kalau sungainya bersih, berarti masyarakatnya sadar,” pungkasnya.
Dengan berbagai upaya yang dilakukan, Kaliku menjadi contoh bahwa perubahan dapat dimulai dari langkah kecil. Meski tantangan masih besar, gerakan ini menunjukkan bahwa harapan untuk lingkungan yang lebih baik tetap ada, selama kesadaran terus dibangun bersama.