
Foto : Dokumentasi oleh Kaliku
Kaliku bergerak dari keresahan sederhana di sungai. Komunitas ini melihat eceng gondok bukan sekadar gulma, tapi peluang yang sering terabaikan.
Di Bendungan Sengguruh, Kaliku mengubah masalah jadi solusi. Mereka mengajak relawan dan warga untuk mengolah eceng gondok menjadi kompos ramah lingkungan.
Eceng gondok selama ini tumbuh liar dan tak terkendali. Tanaman ini menutup permukaan air dan mengganggu ekosistem sungai.
“Nah karena dalam jumlah besar eceng gondok itu juga mengganggu proses pembangkit listrik tenaga air yang ada di bendungan.” Sugeng Widodo, Founder Kaliku, menjelaskan dampaknya dengan tegas saat wawancara bersama dengan Tim Natera.
Kaliku tidak tinggal diam melihat masalah itu. Mereka justru mengolah eceng gondok melalui proses sederhana dan terukur. Relawan mengangkat tanaman dari permukaan air. Mereka lalu mengeringkan dan mencacahnya sebelum masuk proses pengomposan.
Langkah ini bukan sekadar aksi bersih sungai. Tetapi pendekatan berbasis solusi yang berkelanjutan. Sugeng menekankan bahwa potensi eceng gondok sering disalahpahami.
“Jadi diri semua tanaman yang daunnya itu mengandung chlorophyll. Chlorophyll itu kan bagus ya.” Tambahnya
Kaliku lalu menguji hasil kompos tersebut secara ilmiah. Hasilnya menunjukkan kualitas yang baik untuk media tanam.
“Kemudian ditest lab juga oleh PLN Pembangkit Nusantara Power hasilnya bagus,” ujarnya
Dari situlah mulai merancang langkah lebih besar. Mereka menyiapkan workshop dan basecamp pengolahan di area bendungan.
Program ini tidak berdiri sendiri. Kaliku menggandeng berbagai pihak untuk memperluas dampak lingkungan. Kolaborasi ini melibatkan sektor industri dan pengelola sumber daya air. Dukungan tersebut membuka jalan bagi pengembangan skala lebih luas.
“Maka di tahun ini kita sudah disupport anggaran 75 juta untuk melanjutkan proses itu.” Sugeng menyebut program ini sebagai bagian dari rencana jangka panjang.
Dana tersebut digunakan untuk membeli alat dan menyiapkan lahan. Kaliku juga merancang workshop sebagai pusat edukasi.
Edukasi menjadi kunci dalam setiap gerakanya. Mereka tidak hanya membersihkan sungai, tapi juga mengubah cara pandang masyarakat.
Kaliku Garap Proyek Eceng Gondok
Kompos dari eceng gondok menjadi pintu masuk edukasi lingkungan. Masyarakat diajak melihat limbah sebagai sumber daya.

Foto : Dokumentasi oleh Kaliku
Kaliku juga mengaitkan program ini dengan ekonomi sirkular. Kompos yang dihasilkan bisa dimanfaatkan untuk pertanian lokal. Langkah kecil ini membuka peluang besar. Sungai yang bersih dan produktif memberi manfaat langsung bagi warga sekitar.
Namun tantangan tetap ada. Kesadaran masyarakat belum merata dan perubahan butuh waktu panjang.
“Gerakan-gerakan kecil seperti yang kami lakukan itu adalah sebagai upaya.” Sugeng menilai solusi lingkungan tidak bisa instan.
Kaliku memilih terus bergerak di tengah keterbatasan. Mereka percaya perubahan lahir dari konsistensi.
Program eceng gondok ini menjadi bukti nyata. Bahwa solusi lingkungan bisa lahir dari masalah yang sama.
Di tangan mereka, gulma berubah jadi harapan. Sungai tidak lagi hanya jadi tempat pembuangan, tapi ruang kehidupan yang harus dijaga bersama.