
Foto: Dokumentasi Kaliku
Malang — Tidak banyak gerakan lingkungan yang lahir dari langkah sederhana seorang individu. Namun, itulah yang terjadi pada KALIKU, Kelompok Aktivis Lingkungan Hidup dan Kelestarian Lingkungan, yang bermula dari keresahan pribadi seorang warga Desa Pakisaji, Kabupaten Malang.
Sugeng Widodo, pendiri KALIKU, mengaku bahwa keinginannya muncul dari kondisi lingkungan sekitar yang kurang terkelola. Ia ingin menghadirkan ruang yang tidak hanya menjaga alam, tetapi juga memberdayakan masyarakat.
Sungai kotor jadi awal titik keresahan
Pada 2019, Sugeng mulai turun langsung ke sungai yang berada di dekat pemukiman warga. Sungai tersebut sebenarnya memiliki nilai historis sebagai sumber kehidupan masyarakat di masa lalu. Namun, kondisinya kini jauh dari layak.
Ia menemukan sungai yang dipenuhi sampah rumah tangga akibat kebiasaan masyarakat membuang sampah sembarangan. Padahal, secara alami sungai tersebut masih memiliki potensi yang baik.
“Awalnya itu memang dari pribadi saya sendiri. Karena kepingin di Desa Pakisaji ini ada sebuah tempat yang bisa dijadikan untuk pemberdayaan masyarakat,” ujarnya.
“Melihat pertama kali ternyata sungainya bagus, cuma banyak sampah. Masyarakat banyak yang buang sampah di sungai itu,” katanya.
Tanpa menunggu dukungan, Sugeng mulai membersihkan sungai seorang diri. Ia mengangkat sampah secara manual, bahkan hingga malam hari, sebagai bentuk komitmen terhadap lingkungan.
Dari Aksi Individu ke Gerakan Bersama
Konsistensi yang dilakukan Sugeng perlahan menarik perhatian warga sekitar. Generasi muda, termasuk karang taruna setempat, mulai ikut serta dalam kegiatan bersih sungai.
Dari sinilah, komunitas KALIKU mulai terbentuk. Gerakan yang awalnya dilakukan sendiri berkembang menjadi aksi kolektif yang melibatkan lebih banyak orang.
Momentum penting terjadi pada 2020 ketika KALIKU mendapatkan dukungan dari program CSR Bank BNI. Dukungan ini memungkinkan pengelolaan sungai dilakukan lebih maksimal, termasuk penataan tebing sungai menggunakan batu.
Menariknya, penataan tersebut dilakukan tanpa semen agar tidak merusak ekosistem alami.
“Harapan kita membangun juga tidak boleh merusak ekosistem yang ada. Kalau bisa malah memperbaiki,” jelas Sugeng.
Pemulihan Ekosistem dan Edukasi Masyarakat
Upaya pemulihan lingkungan yang dilakukan KALIKU mulai menunjukkan hasil. Ekosistem sungai perlahan membaik, ditandai dengan kembalinya biota seperti udang dan ikan lokal.
Selain itu, KALIKU juga menghadirkan pendekatan edukatif kepada masyarakat. Saat pandemi COVID-19, sungai dimanfaatkan sebagai ruang belajar alternatif bagi anak-anak.
Konsep ini dikenal sebagai “sekolah sungai”, di mana anak-anak tidak hanya belajar teori, tetapi juga praktik langsung menjaga lingkungan.
“Waktu itu kita tarik anak-anak untuk sekolah di sungai. Jadi mereka belajar di situ, sambil bersih-bersih juga,” ujar Sugeng.
Pendekatan ini menjadi langkah penting dalam menumbuhkan kesadaran lingkungan sejak dini.
Gerakan yang Terus Meluas

Foto: Dokumentasi Kaliku
Seiring waktu, kegiatan KALIKU tidak lagi terbatas di Desa Pakisaji. Komunitas ini mulai berkembang ke berbagai wilayah di Malang Raya, bahkan hingga Blitar dan Pasuruan.
Pengembangan ini dilakukan melalui pembinaan kelompok masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan. KALIKU membantu mereka membangun gerakan lokal berbasis pemberdayaan.
Namun, tantangan terbesar tetap pada kesadaran masyarakat yang masih rendah terhadap pengelolaan lingkungan.
“Komunitas membersihkan mungkin sebulan sekali, tapi masyarakat membuang sampah ke sungai itu tiap detik,” kata Sugeng.
Sungai sebagai Cermin Kesadaran Lingkunga
Bagi KALIKU, sungai bukan sekadar objek konservasi, melainkan cerminan kesadaran masyarakat terhadap lingkungan.
Sugeng menilai bahwa kondisi sungai bisa menjadi indikator apakah suatu masyarakat sudah peduli terhadap alam atau belum.
“Sungai itu titik terakhir pelampiasan ketidaksadaran. Kalau sungainya kotor, berarti kita belum beradab,” tegasnya.
Langkah Kecil untuk Perubahan Besar
KALIKU menjadi bukti bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari program besar. Dari satu orang yang peduli, gerakan ini tumbuh menjadi komunitas yang terus bergerak menjaga lingkungan.
Meski berbagai tantangan masih dihadapi, KALIKU tetap konsisten menjalankan misinya: membangun kesadaran masyarakat untuk menjaga alam.
Menurut Kacamata Natera. Gerakan ini mungkin bukan solusi utama atas krisis lingkungan, tetapi menjadi bagian penting dari upaya perubahan yang berkelanjutan.