
Kota Malang – Tumpukan jeans lama yang sudah kekecilan, robek, atau jarang dipakai sering kali hanya berakhir di sudut lemari. Namun di tangan Feyzion by Zizi, limbah denim justru diubah menjadi gerakan kreatif bernama Re-Jeaneration, sebuah kampanye donasi jeans bekas yang menggabungkan fashion, edukasi, dan kepedulian lingkungan.
Program ini lahir dari keresahan pribadi sang founder, Zizi, yang menyadari besarnya limbah fashion di sekitar anak muda. Berangkat dari kecintaannya terhadap jeans, ia mulai mencoba mengolah koleksi denim pribadinya menjadi karya fashion baru yang lebih bernilai.
Awalnya, Re-Jeaneration hanya dilakukan dalam lingkup kecil bersama teman-teman terdekat. Namun seiring berkembangnya awareness tentang sustainable fashion, program ini mulai meluas hingga menggandeng kampus, komunitas, radio, hingga Malang Creative Center (MCC).
Re-Jeaneration dan Misi Mengurangi Limbah Fashion
Bagi Zizi, sustainable fashion bukan sekadar tren visual yang terlihat estetik di media sosial. Ia ingin menunjukkan bahwa fashion juga bisa menjadi medium untuk mengurangi sampah tekstil yang jumlahnya terus meningkat setiap tahun.
Lewat Re-Jeaneration, jeans bekas yang awalnya dianggap tidak berguna diberi “hidup kedua” menjadi produk baru yang tetap fashionable.
“Program ini intinya mengurangi limbah fashion. Kita pengen menunjukkan kalau sampah denim itu masih bisa diolah jadi sesuatu yang bernilai,” ujarnya.
“Aku suka banget sama jeans sampai punya dua lemari sendiri. Akhirnya aku kepikiran, gimana caranya jeans bekas ini bisa di-upcycle jadi sesuatu yang punya nilai jual tinggi,” cerita Zizi saat diwawancarai.
Menariknya, Zizi tidak langsung mem-branding produknya sebagai “produk dari limbah”. Ia memilih membangun value artistik dan desain terlebih dahulu agar orang melihat sisi kreatifnya sebelum menyadari bahwa produk tersebut berasal dari jeans bekas.
Pendekatan ini membuat banyak orang terkejut ketika mengetahui bahwa outfit fashion show, pouch, hingga aksesori yang mereka lihat ternyata berasal dari limbah denim.
Jeans Bekas Disulap Jadi Produk Fashion dan Souvenir Eco-Friendly
Dalam program Re-Jeaneration, setiap jeans yang diterima akan melalui proses sortir terlebih dahulu. Denim dengan karakter unik dan kualitas bagus biasanya digunakan untuk produk fashion signature atau daily wear, sedangkan bahan lain dimanfaatkan untuk aksesori dan souvenir.
Produk yang dihasilkan pun cukup beragam, mulai dari:
- pouch denim,
- belt,
- gantungan kunci,
- karabiner multifungsi,
- tempat kacamata,
- dasi,
- hingga pakaian daily wear berbasis upcycle denim.
Setiap produk dibuat dengan karakter yang berbeda karena potongan denim dari tiap jeans tidak pernah benar-benar sama.
“Setiap potongan jeans itu unik. Jadi meskipun desain bajunya sama, karakter denimnya pasti beda,” jelas Zizi.
Hal tersebut justru menjadi nilai artistik tersendiri karena setiap produk terasa lebih personal dan eksklusif.
Sistem Donasi Jeans yang Gratis dan Kolaboratif
Salah satu hal yang membuat Re-Jeaneration menarik adalah konsep donasi dan barter yang diterapkan dalam kampanyenya. Masyarakat cukup membawa jeans bekas yang sudah tidak digunakan, lalu menukarkannya dengan souvenir eco-friendly hasil produksi tim Re-Jeaneration.
“Satu jeans yang dimasukkan ke kami itu kita partner satu souvenir,” kata Zizi.
Ia juga menambahkan bahwa program ini sepenuhnya terbuka untuk umum tanpa biaya apa pun.
“Kita barter jeans bekas dengan sesuatu yang sudah jadi.”
“Programnya benar-benar free, jadi kayak kita kolaborasi aja.”
Konsep tersebut membuat masyarakat merasa lebih dekat dengan isu lingkungan karena mereka bisa langsung melihat bagaimana limbah fashion diolah menjadi barang baru yang tetap menarik dan fungsional.
Kolaborasi dengan Kampus, Radio, dan Komunitas
Agar kampanye Re-Jeaneration semakin luas, Zizi aktif berkolaborasi dengan berbagai pihak. Salah satunya bersama Malang Creative Center yang turut membantu mempromosikan program donasi jeans kepada masyarakat.
Selain itu, mereka juga pernah bekerja sama dengan Radio UB, sekolah, hingga kampus-kampus seperti UM dan UNESA. Bentuk kolaborasinya tidak hanya berupa pengumpulan jeans bekas, tetapi juga workshop edukasi tentang sustainable fashion dan proses upcycle denim.
Dalam workshop tersebut, peserta diperlihatkan langsung bagaimana jeans bekas dipotong, dibuat pola, dijahit, hingga menjadi produk baru yang siap digunakan.
“Jadi mereka bisa lihat langsung proses dari limbah sampai jadi barang yang punya nilai jual,” ujar Zizi.
Beberapa sekolah bahkan mengajak siswanya membawa satu jeans bekas sebagai bagian dari kegiatan edukasi lingkungan.
Anak Muda Jadi Target Utama Kampanye
Sebagai brand yang dekat dengan streetwear dan fashion urban, Feyzion by Zizi memang menyasar anak muda sebagai target utama kampanye Re-Jeaneration.
Menurut Zizi, generasi muda punya peran besar dalam membentuk tren sekaligus menentukan arah industri fashion ke depan. Karena itu, ia berharap anak muda tidak hanya mengikuti tren, tetapi juga mulai peduli terhadap dampak lingkungan dari fashion yang mereka konsumsi.
“Jangan cuma ikut tren aja, tapi menciptakan tren yang lebih keren sambil mengurangi sampah lingkungan,” pesannya.
Ia juga berharap semakin banyak influencer, fashion enthusiast, dan content creator yang ikut menyuarakan sustainable fashion agar awareness tentang limbah tekstil bisa semakin meluas.
Menurut kaca mata Natera. Melalui Re-Jeaneration, Zizi ingin menunjukkan bahwa fashion ramah lingkungan tidak harus terlihat membosankan. Justru lewat kreativitas dan storytelling, limbah denim bisa berubah menjadi karya artistik yang tetap relevan dengan gaya anak muda masa kini.