
Foto/Dok: Feyzion.id
Di tengah derasnya tren fast fashion yang berubah secepat timeline media sosial, pakaian bekas masih sering dianggap tidak menarik. Sebagian orang memandang baju hasil daur ulang sebagai sesuatu yang lusuh, murahan, atau sekadar pakaian yang sudah kehilangan nilai.
Pandangan itu yang perlahan coba dipatahkan oleh Zizi melalui brand fashion miliknya, Feyzion by Zizi. Bukan lewat kampanye lingkungan yang menggurui, tetapi melalui desain yang dibuat terlihat eksklusif, artistik, dan modern.
Di ruang kerjanya, tumpukan jeans bekas justru terlihat seperti bahan mentah yang penuh kemungkinan. Ada denim yang warnanya memudar, ada yang memiliki lipatan khas karena terlalu lama dipakai, hingga potongan kain dengan tekstur yang sudah berubah. Hal-hal yang bagi sebagian orang dianggap cacat, justru menjadi identitas penting dalam desainnya.
Namun Zizi sadar, mengubah stigma terhadap pakaian bekas tidak bisa dilakukan secara frontal. Jika sejak awal ia langsung menjual isu limbah fashion, orang mungkin sudah lebih dulu menolak.
Karena itu, ia memilih pendekatan yang berbeda.
“Kalau aku nggak jelasin, mereka nggak tahu sebenarnya itu limbah,” ujar Zizi.
Menjual Nilai Artistik Sebelum Isu Lingkungan
Perjalanan brand itu dimulai sejak 2019, ketika Zizi masih bereksperimen secara online sambil bekerja di dunia korporat. Baru pada 2022 ia mulai serius membangun identitas brand dan mengikuti berbagai fashion show di Malang.
Meski tumbuh di keluarga yang dekat dengan dunia fashion, Zizi sempat mengambil jalur pendidikan di luar mode. Namun ketertarikannya terhadap desain akhirnya membawanya kembali ke dunia fashion.
Saat mulai membangun brand sendiri, ia sudah memiliki satu prinsip, fashion yang ia buat harus minim dampak lingkungan.
Dari situlah eksperimen menggunakan denim bekas dimulai.
Awalnya sederhana, hanya dari koleksi jeans pribadi yang menumpuk di lemari. Tetapi semakin lama, Zizi menemukan bahwa denim lama justru memiliki karakter yang tidak dimiliki kain baru.
Ia lalu mulai memasukkan potongan denim bekas sebagai elemen khas dalam hampir setiap desainnya. Denim itu bukan dijadikan pusat perhatian secara gamblang, melainkan dilebur ke dalam visual streetwear yang modern.
Bagi Zizi, pendekatan visual jauh lebih penting untuk membuka ketertarikan audiens muda terhadap sustainable fashion. Orang perlu melihat produknya sebagai sesuatu yang keren terlebih dahulu sebelum memahami pesan lingkungannya.
“Aku mainnya di gimana aku ngeliatin ini sesuatu hal yang seni, bernilai seni tinggi, artistik,” ujarnya.
Pendekatan itu membuat sustainable fashion terasa lebih dekat dengan cara Gen Z melihat fashion hari ini bukan hanya soal fungsi, tetapi juga identitas dan visual yang kuat.
Denim Bekas yang Dibuat Terlihat Mahal
Di tangan Zizi, denim bekas bukan sekadar bahan tambahan. Ia menjadi karakter utama yang membuat setiap pakaian terasa unik.
Setiap jeans yang masuk akan disortir berdasarkan tekstur, ketebalan, hingga pola warnanya. Denim dengan karakter tertentu digunakan untuk koleksi fashion show, sementara bahan lainnya diolah menjadi produk daily wear seperti pouch, tas, hoodie, hingga aksesoris.
Menurutnya, semakin lama usia jeans, justru semakin menarik karakter visualnya. Warna yang memudar alami dan detail bekas pemakaian membuat setiap potongan denim terasa hidup.
Karena itu, tidak ada produk yang benar-benar identik meski dibuat dalam desain yang sama. Setiap potongan denim memiliki detail berbeda yang membuat tiap pakaian terasa personal.
Di tengah budaya fast fashion yang seragam dan diproduksi massal, pendekatan itu justru memberi kesan eksklusif. Orang tidak hanya membeli pakaian, tetapi juga cerita dan karakter yang melekat di dalamnya.
Fashion yang Dibuat Dekat dengan Gen Z
Alih-alih membuat pakaian yang terlalu konseptual, Zizi justru memilih gaya urban streetwear yang lebih fleksibel dipakai sehari-hari. Siluet oversized, desain unisex, dan konsep multifungsi menjadi identitas yang terus ia pertahankan.
Satu pakaian bisa dipakai untuk fashion show, tampil di panggung musik, hingga dipadukan sebagai daily outfit. Sebagian koleksinya juga dibuat agar mudah di-styling ulang dengan persona yang berbeda.
Pendekatan itu sengaja dibuat agar sustainable fashion tidak terasa kaku atau eksklusif hanya untuk komunitas tertentu.
Bagi Zizi, anak muda tidak selalu tertarik pada jargon lingkungan yang terlalu serius. Tetapi mereka akan lebih mudah terhubung lewat fashion yang terlihat keren dan relevan dengan keseharian mereka.
“Jangan cuma ikut tren aja, tapi menciptakan tren yang lebih keren,” ujarnya.
Lewat desain yang urban dan dekat dengan kultur anak muda, ia mencoba menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan tetap bisa tampil stylish.
Dari Lemari Pribadi Menjadi Gerakan Kolektif
Seiring berkembangnya brand, denim bekas yang digunakan Zizi tidak lagi hanya berasal dari koleksi pribadinya. Ia kemudian membuka program donasi jeans bernama “Regeneration”.
Lewat program itu, masyarakat bisa menyumbangkan jeans bekas yang sudah tidak dipakai untuk diolah kembali menjadi produk fashion baru.
Sebagian besar donatur datang dari kalangan mahasiswa yang mulai sadar bahwa pakaian lama mereka sebenarnya masih bisa memiliki nilai baru. Program tersebut berkembang menjadi gerakan kreatif yang melibatkan komunitas, kampus, hingga ruang kreatif di Malang.
Konsepnya dibuat santai tukar jeans dengan souvenir eco-friendly, workshop upcycle fashion, hingga showcase produk hasil daur ulang.
Lewat cara itu, isu sustainability terasa lebih cair dan dekat dengan keseharian anak muda.
Dan di tengah budaya konsumsi fashion yang serba cepat, Zizi sedang mencoba menghadirkan cara pandang baru bahwa pakaian bekas tidak selalu berarti usang.
Kadang, ia hanya sedang menunggu diubah menjadi sesuatu yang lebih bernilai.