
Foto: Radar Malang
Coba bayangkan dua lemari penuh jeans koleksi bertahun-tahun, mulai dari yang skinny hingga yang cutbray, dari yang masih mulus sampai yang sudah luntur warnanya. Bagi kebanyakan orang, itu cuma tumpukan baju yang menunggu giliran dibuang atau dijual kiloan. Tapi bagi Zizi Rafika, dua lemari itu adalah titik awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.
“Gimana caranya jeans bekasku itu aku upcycle jadi sesuatu yang bernilai jual tinggi,” ujar Zizi, founder di balik brand sustainable fashion Feyzion by Zizi asal Malang.
Hari ini, Zizi mengembangkan Feyzion by Zizi lewat desain artistik berbasis upcycle denim dan kampanye sustainable fashion yang melibatkan mahasiswa, komunitas, hingga program donasi jeans bekas. Zizi memulai semua gerakan itu dari keresahan pribadi dan keberaniannya untuk membangun ulang cara pandang terhadap limbah fesyen.
Bermula dari Eksperimen Kecil
Zizi sebenarnya tidak langsung masuk ke dunia fashion secara serius. Meski tumbuh di keluarga yang dekat dengan dunia jahit dan desain, ia sempat memilih jalan berbeda. Ibunya seorang fashion designer sekaligus dressmaker, tetapi Zizi justru mengambil pendidikan di luar fashion.
“Aku nggak mau ngikutin saran ibuku waktu itu. Aku pengen cari jalanku sendiri,” katanya.
Namun setelah menjalani berbagai fase pendidikan dan pekerjaan korporat, ia menyadari bahwa dirinya selalu kembali ke dunia fashion yang sudah akrab sejak kecil.
Pada 2019, Feyzion by Zizi mulai dibangun secara perlahan. Saat itu brand tersebut masih sebatas online store kecil. Zizi bereksperimen sendiri mencari identitas brand, menjual produk secara online, sambil tetap bekerja di tempat lain.
Semua masih terasa sederhana. Belum ada fashion show. Belum ada tim. Bahkan belum benar-benar memiliki karakter desain yang kuat.
Sampai akhirnya tahun 2022 menjadi titik balik penting.
Di tahun itu, Zizi memutuskan untuk benar-benar fokus membangun brand-nya sendiri. Ia mulai memberanikan diri mengikuti fashion show seperti Malang Fashion Week dan Malang Fashion Runway. Dari sana, karya-karyanya mulai dilirik oleh komunitas fashion designer di Malang.
“Tiba-tiba ada senior designer yang bilang, ‘Ini siapa? Aku belum pernah lihat kamu sebelumnya di dunia fashion,’” kenangnya.
Pertemuan-pertemuan kecil itu kemudian membuka jalan lebih besar. Zizi mulai terhubung dengan komunitas Indonesian Fashion Designer hingga akhirnya terlibat dalam pengembangan fashion di Malang Creative Center (MCC).
Dari Koleksi Pribadi Jadi Gerakan Re-JEANeration

Foto: RRI Malang
Seiring berkembangnya brand, upcycle denim akhirnya tidak lagi berhenti sebagai eksplorasi pribadi. Feyzion by Zizi mulai tumbuh menjadi ruang kolaborasi dan edukasi.
Melalui program bernama Re-JEANeration Zizi mengajak masyarakat mendonasikan jeans bekas yang sudah tidak terpakai. Ia kemudian mengolah kembali jeans-jeans bekas itu menjadi berbagai produk baru, mulai dari aksesori, pouch, dasi, hingga daily wear.
Program ini juga melibatkan mahasiswa fashion design dari berbagai kampus di Malang, Surabaya, hingga Yogyakarta melalui sistem internship dan kolaborasi kreatif.
Setiap chapter dalam program Re-JEANeration memiliki konsep berbeda. Ada yang fokus membuat aksesori, ada yang khusus membuat pakaian berbasis 100 persen limbah denim.
Menariknya, sebagian besar donasi jeans datang dari anak muda, terutama mahasiswa.
“Sekitar 70 persen itu mahasiswa,” kata Zizi.
Bagi Zizi, hal itu menjadi sinyal bahwa generasi muda mulai lebih sadar terhadap isu fashion berkelanjutan. Bahwa pakaian lama tidak selalu harus berakhir di tempat sampah.
Gerakan kecil yang awalnya lahir dari dua lemari pribadi kini berkembang menjadi ruang belajar bersama tentang bagaimana fashion bisa lebih panjang umur.
Di tengah industri fashion yang bergerak cepat dan terus memproduksi tren baru, Zizi justru memilih bergerak ke arah sebaliknya: memperpanjang hidup pakaian lama, memberi cerita baru pada denim bekas, dan membuktikan bahwa limbah bisa berubah menjadi sesuatu yang bernilai.
Bukan sekadar pakaian, tetapi juga cara baru memandang fashion.
Saat Limbah Fashion Jadi Keresahan
Di tengah proses membangun brand, ada satu hal yang terus mengganggu pikirannya: limbah fashion.
Latar belakang pendidikannya yang dekat dengan sains membuat isu lingkungan terasa personal baginya. Ia mulai berpikir bahwa fashion tidak bisa terus berjalan tanpa memikirkan dampak sampah tekstil yang dihasilkan.
Dari keresahan itu, konsep sustainable fashion mulai menjadi fondasi Feyzion by Zizi.
Awalnya sederhana. Zizi hanya mencoba mengolah ulang jeans-jeans bekas miliknya sendiri. Ia memang mengaku punya kebiasaan mengoleksi denim hingga memenuhi dua lemari.
“Aku suka banget jeans. Sampai punya dua lemari sendiri,” katanya.
Alih-alih membuang atau menumpuknya, ia mulai bertanya pada dirinya sendiri.
“Gimana caranya jeans bekasku itu aku upcycle jadi sesuatu yang bernilai jual tinggi.”
Pertanyaan itu kemudian menjadi eksperimen panjang. Potongan denim bekas mulai masuk ke desain-desain buatannya. Tidak selalu menjadi bahan utama, tetapi hadir sebagai elemen khas dalam setiap karya.
Ada yang hanya 30 persen denim bekas, ada yang lebih dari setengahnya. Namun semuanya membawa karakter yang sama: artistik dan tidak terlihat seperti “baju limbah”.
Zizi sengaja tidak langsung menjual narasi “produk dari sampah”. Ia memilih memperlihatkan sisi artistik dan desainnya terlebih dahulu, baru kemudian membawa audiens pada cerita di balik bahan yang digunakan.
“Aku nggak mau orang langsung mikir ini baju bekas atau baju sampah. Aku pengen mereka lihat dulu ini karya seni,” ujarnya.
Pendekatan itu perlahan berhasil mengubah cara pandang orang terhadap pakaian hasil upcycle. Denim bekas yang sebelumnya dianggap tidak bernilai mulai terlihat sebagai material kreatif dengan cerita baru.