
Foto : Dokumentasi Talkshow Telkom Sustainability
Ada satu momen yang mungkin pernah kamu rasain scroll TikTok, nonton video tentang banjir besar, kebakaran hutan, atau pulau yang tenggelam perlahan. Kamu berhenti sebentar. Miris. Lalu… lanjut scroll.
Itu bukan salahmu sepenuhnya. Tapi di sinilah masalahnya.
Jerhemy Owen, content creator sekaligus pegiat lingkungan, menyoroti kebiasaan generasi muda yang sudah sadar isu lingkungan tetapi belum mulai mengambil aksi nyata. Awareness tanpa action. Kepedulian tanpa langkah.
“Enggak cuma sadar doang. Tapi ada action-nya juga,” ujar Owen dalam Webinar Awarding Day Bumi Berseru Fest yang diselenggarakan Telkom Indonesia (25/04/2026)
Dan ia tidak asal bicara.
Dari Peduli Jadi Bergerak
Bagi banyak anak muda, isu lingkungan dulu sering terasa jauh. Climate change terdengar seperti topik laporan PBB, bukan sesuatu yang hadir di sekitar mereka.
Namun media sosial perlahan mengubah itu.
TikTok dan Instagram kini mendorong anak muda membahas thrifting, eco living, sustainable fashion, hingga gaya hidup minim sampah sebagai bagian dari tren digital sehari-hari.
Owen melihat perubahan itu sebagai peluang besar.
“Anak muda sekarang punya privilege buat ngomong di media sosial,” ujarnya
Jerhemy Owen menilai generasi muda punya akses besar untuk menyebarkan gagasan lingkungan lewat media sosial karena satu unggahan dapat menjangkau ribuan orang dengan cepat. Satu video pendek bisa memicu percakapan panjang.
Karena itu, ia percaya media sosial tidak harus selalu jadi ruang hiburan semata. Platform digital juga bisa menjadi alat membangun kebiasaan baru.
“Sekarang tuh semua orang bisa punya impact lewat internet,” katanya.
Bagi Owen perubahan besar sering kali lahir dari hal sederhana yang dilakukan terus-menerus. Ia tidak percaya semua orang harus langsung hidup zero waste atau menjadi aktivis lingkungan penuh waktu.
Justru menurutnya, tekanan untuk menjadi “sempurna” sering membuat orang takut memulai.
Mulai dari yang Paling Mungkin
Lalu bagaimana memulai aksi yang nyata tanpa harus langsung jadi aktivis penuh waktu?
Owen punya jawabannya, dan jawabannya mengejutkan karena begitu sederhana.
Tumbler. Totebag. Nolak sedotan di restoran. Bawa tempat makan sendiri kalau mau takeaway.
“Daripada kita konsumsi tiga botol plastik sekali pakai, lebih baik kita bawa satu tumbler dan ngurangin satu dulu. Step by step,” jelasnya.
Hal serupa berlaku untuk tote bag, menolak sedotan plastik, membawa tempat makan sendiri, atau mengurangi konsumsi barang sekali pakai.
Ia menyadari setiap orang punya kemampuan berbeda untuk memulai hidup lebih ramah lingkungan.
“Apa yang mudah buat aku belum tentu mudah buat orang lain,” katanya.
Karena itu, ia menolak standar tunggal dalam sustainability. Menurutnya, perjalanan setiap orang berbeda-beda dan tidak perlu dibandingkan.
“Yang bisa kita bandingin itu diri kita yang sebelumnya.”
Cara pandang itu membuat isu lingkungan terasa lebih manusiawi. Tidak lagi penuh rasa bersalah atau tuntutan menjadi sempurna, tetapi tentang proses belajar yang terus berjalan.
Owen juga mengingatkan bahwa dunia sustainability terus berkembang. Banyak hal yang dulu dianggap ramah lingkungan bisa saja berubah setelah muncul riset baru.
Karena itu, yang paling penting bukan menjadi paling benar, melainkan tetap terbuka untuk belajar dan terus bergerak.
“Jangan stagnan di situ,” ujarnya.
Generasi Internet dan Masa Depan Lingkungan

Foto : Dokumentasi Talkshow Telkom Sustainability
Di mata Owen, generasi muda hari ini sebenarnya punya kekuatan yang belum pernah dimiliki generasi sebelumnya.
Internet membuat anak muda lebih mudah membangun komunitas, mengumpulkan dukungan, bahkan memulai gerakan sosial dari kamar sendiri.
“Kita tuh sebenarnya punya power lebih besar daripada yang kita pikir,” katanya.
Hal itu pula yang membuat program seperti Bumi Berseru Fest Awarding Day terasa penting baginya. Menurut Owen, ruang seperti ini bukan hanya membuat orang sadar soal isu lingkungan, tetapi juga mendorong aksi nyata lewat kolaborasi dan pendanaan.
Ia percaya semakin banyak anak muda yang terlibat, semakin besar kemungkinan lahir bisnis, komunitas, dan gerakan baru berbasis lingkungan.
“Anak muda sekarang lebih gampang buat mulai gerakan,” ujarnya.
Di tengah dunia digital yang bergerak cepat, Owen melihat sustainability bukan lagi sekadar kampanye, tetapi perlahan berubah menjadi gaya hidup baru generasi muda.
Mulai dari memilih produk lokal, thrifting, mengurangi plastik, hingga membuat konten edukasi lingkungan, semuanya menjadi bagian dari cara baru anak muda memandang masa depan.
Karena bagi generasi ini, isu lingkungan bukan cuma tentang bumi yang rusak.
Tetapi juga tentang kehidupan yang akan mereka tinggali nanti.
Dan mungkin, perubahan memang tidak selalu dimulai dari aksi besar. Kadang, ia lahir dari satu tumbler yang dibawa ke kampus, satu unggahan media sosial, atau satu keputusan kecil untuk mulai peduli hari ini.