Gerakan Upcycle Malang

Taufiq Saguanto menyampaikan sambutan dalam acara pameran upcycle plastik Sarwo Migunani.
Taufiq Saguanto memberikan sambutan tentang transformasi sampah menjadi karya bernilai estetika dan ekonomi. 
Foto: Dok Pribadi/Natera

Pameran upcycle plastik Sarwo Migunani hadir sebagai ruang bertemunya seni, lingkungan, dan gerakan komunitas di Kota Malang. Melalui pameran upcycle plastik ini, berbagai limbah residu diolah menjadi karya kreatif yang memiliki nilai guna, estetika, dan ekonomi. Tidak hanya menghadirkan pameran karya, Sarwo Migunani juga menjadi simbol lahirnya budaya baru yang mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk melihat sampah sebagai peluang kreativitas dan gerakan lingkungan berkelanjutan.

Digelar di Nogogeni Sudimoro, acara ini mempertemukan komunitas, akademisi, pegiat lingkungan, pemerintah, hingga generasi muda dalam satu ruang kolaborasi. Tidak hanya menampilkan karya dari sampah residu plastik, kegiatan ini juga menghadirkan sarasehan, diskusi budaya lingkungan, hingga peluncuran komunitas kreatif berbasis gerakan keberlanjutan.

Penggagas kegiatan, Taufiq Saguanto, mengatakan bahwa Sarwo Migunani lahir dari gagasan sederhana tentang bagaimana manusia memperlakukan alam dan sampah di sekitarnya.

“Visi kami sederhana namun mendalam, menciptakan transformasi budaya dalam memperlakukan alam. Kami ingin membangun peradaban di mana setiap individu memiliki kesadaran bahwa tidak ada ciptaan Tuhan yang sia-sia,” ujar Taufiq dalam sambutannya.

Ia menjelaskan, nama Sarwo Migunani sendiri memiliki arti “segala harus berguna”. Filosofi tersebut menjadi dasar gerakan mereka untuk mengubah paradigma masyarakat dari budaya membuang menjadi budaya mencipta.

“Kami ingin membuktikan bahwa sampah residu yang dianggap sebagai ancaman bagi bumi, jika disentuh tangan kreatif dan hati yang peduli, bisa bertransformasi menjadi mahakarya seni yang memiliki nilai estetika sekaligus nilai ekonomi,” tambahnya.

Pameran Karya Upcycle Jadi Ruang Edukasi dan Kreativitas

Karya seni berbahan limbah plastik dipajang dalam pameran lingkungan di Kota Malang.
Seni dan lingkungan bertemu di Sarwo Migunani.
Foto: Dok Pribadi/Natera

Puluhan karya dalam pameran ini dibuat dari limbah plastik sekali pakai yang diolah menjadi dekorasi seni, instalasi visual, hingga produk kreatif bernilai guna. Banyak pengunjung tidak menyangka bahwa karya-karya tersebut berasal dari sampah residu yang biasanya hanya dibuang dan berakhir di tempat pembuangan akhir.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Malang, Drs. Gamaliel, mengapresiasi pameran tersebut karena dinilai mampu menghadirkan pendekatan baru dalam pengelolaan sampah.

“Pameran Sarwo Migunani merupakan wujud nyata inovasi dalam pengelolaan sampah residu berbasis kearifan lokal dan kreativitas masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, pendekatan kreatif seperti ini penting karena persoalan sampah tidak bisa diselesaikan hanya dengan sistem kumpul-angkut-buang. Dibutuhkan perubahan perilaku masyarakat agar lebih sadar terhadap prinsip pengurangan dan pemanfaatan kembali limbah.

Selain pameran, kegiatan ini juga menghadirkan sarasehan bersama pegiat lingkungan dan tokoh kreatif Kota Malang. Diskusi tersebut membahas bagaimana budaya lingkungan harus dibangun melalui kolaborasi lintas komunitas, akademisi, pemerintah, hingga anak muda.

Perwakilan Indonesia Creative Cities Network (ICCN), Anwar, menyebut bahwa gerakan kreatif lingkungan seperti ini menjadi bagian penting dari ekosistem kota kreatif.

“Di kota kreatif itu tidak ada istilah superman, yang ada adalah Avengers. Semua pergerakan hanya bisa diselesaikan melalui kolaborasi,” ujarnya.

Ia juga menyoroti konsistensi gerakan Taufiq yang telah mengembangkan gerakan Hotbottles selama lebih dari sepuluh tahun.

“Saya mengenal Mas Taufiq sejak 10 tahun lalu memulai Hotbottles ini dan luar biasa konsistensinya sampai hari ini,” katanya.

Community Launch dan Gerakan Kolektif Anak Muda

Tidak hanya menjadi ruang pamer karya, acara ini juga menjadi simbol lahirnya komunitas dan budaya baru di kalangan generasi muda Kota Malang. Semangat tersebut terlihat dari keterlibatan pelajar, mahasiswa, komunitas kreatif, hingga pegiat lingkungan yang hadir dan ikut berdiskusi dalam kegiatan.

Aktivis lingkungan sekaligus penerima Kalpataru, Ir. Bambang, menyebut bahwa krisis iklim dan global warming saat ini membutuhkan keterlibatan seluruh masyarakat, terutama generasi muda.

“Global warming harus dihadapi oleh seluruh umat manusia di bumi. Kita semua wajib menurunkan suhu bumi dengan cara mengelola sampah dengan bijak,” ujarnya.

Ia menilai gerakan kreatif berbasis pengolahan sampah plastik seperti yang dilakukan dalam Sarwo Migunani merupakan pendekatan baru yang jarang ditemui di daerah lain.

“Terus terang, hanya di Kota Malang yang bisa mengolah plastik kemudian direkayasa menjadi karya-karya yang sangat kreatif,” katanya.

Bambang juga menekankan pentingnya perubahan pola pikir atau mindset dalam melihat sampah.

“Perubahan mindset inilah yang perlu direplikasi, terutama untuk generasi milenial,” tambahnya.

Semangat kolektif tersebut menjadi salah satu pesan utama dalam pameran ini. Sampah tidak lagi hanya dipandang sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga sebagai media kreativitas, edukasi, dan gerakan sosial.

Melalui community launch dan pameran ini, anak muda Kota Malang mencoba menunjukkan bahwa menjaga lingkungan tidak harus selalu dimulai dari hal besar. Dari plastik bekas yang dianggap tidak berguna, lahir karya, komunitas, hingga gerakan yang perlahan membangun budaya baru: budaya peduli lingkungan yang kreatif, kolaboratif, dan berkelanjutan.

Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.