Harga Plastik Naik, Gen Z dan Kafe Mulai Terdampak

Suasana kafe di Kota Malang malam itu tetap ramai. Gelas-gelas kopi berjejer di meja, suara mesin espresso bersahutan dengan obrolan anak muda yang datang untuk mengerjakan tugas, meeting kecil, atau sekadar nongkrong setelah kuliah. Di tengah budaya ngopi yang makin lekat dengan keseharian Gen Z, ada satu hal yang diam-diam ikut berubah harga plastik.

Bukan sekadar isu industri atau persoalan pabrik kemasan, kenaikan harga plastik kini mulai terasa sampai ke meja kopi anak muda. Sedotan, cup, tutup minuman, hingga kantong kemasan yang selama ini dianggap benda kecil dan sepele, ternyata punya pengaruh besar terhadap harga minuman yang mereka beli setiap hari.

Dalam webinar bertajuk Plastik“ Naik, Siapa yang Terdampak?”, isu itu dibahas dari sudut yang dekat dengan keseharian generasi muda. Bukan soal geopolitik yang rumit, tetapi tentang kenapa harga kopi favorit tiba-tiba ikut naik.

Menurut Nina Amelia dari komunitas pengelolaan sampah iLitterless, beberapa kafe mitra di Malang mulai mempertimbangkan menaikkan harga produk karena biaya plastik melonjak drastis. Ada kemasan yang sebelumnya sekitar Rp11 ribu per pak kini naik hingga Rp20 ribu.

“Dampak dari kenaikan harga plastik tuh sangat terasa, jadi mau tidak mau mereka akhirnya berencana untuk menaikkan harga dari minuman mereka juga,” ujar Nina.

Fenomena ini memperlihatkan bagaimana isu global bisa turun langsung ke level paling personal. Konflik geopolitik dan distribusi minyak bumi yang terganggu membuat bahan baku plastik menjadi mahal. Indonesia yang masih bergantung pada impor bahan baku ikut terkena imbasnya.

Hasil akhirnya bukan hanya dirasakan industri besar, tetapi juga konsumen muda yang sedang membeli es kopi susu sepulang kuliah.

Gen Z Mulai Mengubah Kebiasaan

Di tengah harga minuman yang terus naik, kebiasaan baru perlahan muncul di kalangan anak muda. Membawa tumbler yang dulu identik dengan gaya hidup estetik kini berubah menjadi pilihan yang lebih masuk akal secara ekonomi sekaligus lingkungan.

Di banyak kafe, anak muda mulai datang dengan botol minum sendiri. Ada yang ingin lebih hemat, ada yang merasa lebih praktis, dan ada pula yang mulai sadar terhadap isu sampah plastik.

iLitterless melihat perubahan itu sebagai peluang. Mereka mendorong kafe-kafe mitra untuk memberi promo khusus bagi pelanggan yang membawa tumbler sendiri.

“Kami saat ini juga ingin mendorong dan mendukung kafe-kafe mitra kami untuk mengadakan promo khusus untuk teman-teman yang membawa tumbler,” kata Nina.

Bagi Gen Z, pendekatan seperti itu terasa lebih dekat dibanding kampanye lingkungan yang terlalu formal. Diskon kecil, voucher kopi gratis, atau promo Earth Day justru lebih efektif mengajak anak muda ikut terlibat.

“Kalau nggak fun tuh anak-anak nggak mau join,” lanjutnya.

Perubahan kecil itu perlahan membentuk kultur baru. Nongkrong di kafe bukan lagi sekadar soal tempat estetik atau kopi enak, tetapi juga mulai berkaitan dengan kebiasaan konsumsi yang lebih sadar lingkungan.

Sampah Plastik Masih Jadi Persoalan Besar

Meski tren membawa tumbler mulai meningkat, persoalan sampah plastik ternyata masih jauh dari selesai.

Aktivis lingkungan Sule mengatakan problem terbesar sebenarnya bukan hanya kenaikan harga plastik, melainkan ketergantungan masyarakat terhadap plastik itu sendiri.

Penggunaan plastik masih dianggap sebagai pilihan paling praktis dalam kehidupan sehari-hari. Pergi ke pasar, membeli makanan, hingga membeli minuman takeaway hampir selalu melibatkan kantong dan kemasan plastik.

Di tingkat masyarakat akar rumput, edukasi pengelolaan sampah juga masih menjadi pekerjaan panjang. Sule bercerita bagaimana sebagian warga masih menganggap membakar sampah atau membuangnya ke sungai sebagai hal biasa.

Pendekatan kepada masyarakat pun tidak bisa dilakukan dengan cara yang sama seperti kampanye ke anak muda di media sosial. Banyak warga yang lebih fokus pada nilai ekonomi dari sampah dibanding isu lingkungan itu sendiri.

Karena itu, perubahan perilaku harus dilakukan secara perlahan dengan pendekatan yang sederhana dan dekat dengan keseharian warga.

Dari Tren Lifestyle Jadi Titik Balik

Bagi sebagian orang, membawa tumbler mungkin terlihat sebagai tren kecil yang lewat begitu saja. Tetapi bagi komunitas lingkungan dan pelaku usaha F&B, kebiasaan itu bisa menjadi awal perubahan yang lebih besar.

Kenaikan harga plastik justru dianggap membuka ruang baru untuk membicarakan ulang hubungan masyarakat dengan budaya konsumsi sekali pakai. Anak muda yang sebelumnya cuek mulai merasa terdampak ketika harga kopi favorit mereka ikut naik.

“Kayak harga kopinya udah di atas 20 ribu tapi naik lagi itu kan mungkin akan cukup kerasa,” kata Nina.

Dari sana, isu lingkungan yang dulu terasa jauh perlahan menjadi lebih personal. Gen Z mulai menyadari bahwa masalah sampah plastik ternyata tidak hanya berakhir di tempat pembuangan akhir atau laut yang tercemar, tetapi juga hadir dalam pengeluaran harian mereka sendiri.

Dan mungkin, perubahan besar memang sering dimulai dari hal kecil yang paling dekat dengan keseharian. Sesederhana membawa tumbler saat membeli kopi.

Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.