
Dokumentasi: Diskusi tentang sustainability dalam Bumi Berseru Fest 2025
Naratia.id — Isu sustainability atau keberlanjutan kini semakin dekat dengan kehidupan anak muda. Di tengah meningkatnya krisis iklim, cuaca ekstrem, hingga persoalan sampah yang terus bertambah, gaya hidup ramah lingkungan perlahan berubah menjadi kebutuhan untuk bertahan hidup di masa depan.
Pandangan tersebut disampaikan oleh Owen dalam webinar lingkungan yang diselenggarakan Telkom Indonesia melalui program Bumi Berserface. Dalam diskusi tersebut, ia membagikan pengalaman pribadinya saat tinggal di Belanda dan bagaimana budaya masyarakat di sana membentuk kesadaran terhadap lingkungan.
Menurut Owen, kesadaran masyarakat Belanda terhadap pengelolaan sampah jauh berbeda dibandingkan dengan Indonesia. Perbedaan itu bahkan terasa dari kebiasaan sederhana sehari-hari.
“Di Indonesia orang gampang banget buang sampah. Kalau di Belanda, buang sampah itu susah karena ada aturan dan prosedurnya,” ujarnya.
Menurut Owen, kesadaran masyarakat Belanda terhadap pengelolaan sampah jauh berbeda dibandingkan dengan Indonesia. Perbedaan itu bahkan terasa dari kebiasaan sederhana sehari-hari.
“Di Indonesia orang gampang banget buang sampah. Kalau di Belanda, buang sampah itu susah karena ada aturan dan prosedurnya,” ujarnya.
Krisis Iklim dan Cara Bertahan Hidup
Ia menilai bahwa perubahan pola pikir masyarakat menjadi hal penting di tengah ancaman krisis iklim yang semakin nyata. Baginya, sustainability kini tidak lagi bisa dipandang sebagai tren media sosial atau sekadar gaya hidup estetik.
“Kalau kita enggak hidup ramah lingkungan, kita enggak bisa survive ke depannya. Ini bukan lagi tren, tapi harus jadi inti dari kehidupan kita,” katanya.
Pernyataan tersebut muncul karena ia melihat berbagai dampak perubahan iklim yang kini semakin terasa, mulai dari bencana alam, kenaikan suhu, hingga persoalan lingkungan yang terus meningkat setiap tahunnya.
Pernyataan tersebut muncul karena ia melihat berbagai dampak perubahan iklim yang kini semakin terasa, mulai dari bencana alam, kenaikan suhu, hingga persoalan lingkungan yang terus meningkat setiap tahunnya.
Menurutnya, jika masyarakat masih mempertahankan pola konsumsi yang berlebihan tanpa memikirkan dampak lingkungan, generasi mendatang akan menghadapi kondisi yang jauh lebih sulit.
Peran Gen Z di Era Digital
Dalam webinar tersebut, Owen juga menyoroti peran Gen Z dalam membangun kesadaran sustainability di Indonesia. Ia menyebut generasi muda memiliki kekuatan besar karena tumbuh bersama media sosial dan perkembangan teknologi digital.
“Gen Z itu paling melek sosial media dan digital. Kekuatan kita ada di komunikasi dan platform digital,” ujarnya.
Ia menilai media sosial kini bukan hanya menjadi tempat berbagi informasi, tetapi juga ruang advokasi yang mampu mendorong perubahan sosial hingga kebijakan publik. Ketika isu lingkungan ramai dibicarakan di internet, masyarakat hingga pemerintah akan lebih mudah memberikan perhatian terhadap persoalan tersebut.
Karena itu, ia percaya anak muda memiliki posisi penting dalam menyebarkan kesadaran lingkungan melalui konten digital, kampanye sosial, hingga aksi nyata di kehidupan sehari-hari.
Langkah Kecil yang Bisa Dilakukan
Meski begitu, Owen mengingatkan bahwa menjalani hidup ramah lingkungan tidak harus dilakukan secara sempurna. Menurutnya, setiap orang memiliki kemampuan dan proses yang berbeda dalam memulai kebiasaan baru.
Ia mencontohkan bahwa sebagian orang mungkin merasa mudah membawa tumbler atau tote bag, tetapi bagi orang lain kebiasaan tersebut bisa saja terasa sulit untuk diterapkan secara konsisten.
“Yang bisa dibandingkan itu diri kita yang sekarang dengan diri kita sebelumnya,” jelasnya.
Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk fokus pada perubahan kecil yang dilakukan secara bertahap dibandingkan memaksakan kesempurnaan. Baginya, sustainability adalah proses belajar yang terus berkembang seiring waktu.
Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan antara lain membawa tumbler untuk mengurangi botol plastik sekali pakai, menggunakan tote bag saat berbelanja, menolak sedotan plastik, hingga membawa wadah makanan sendiri saat membeli makanan take away.
Selain itu, Owen juga mengapresiasi hadirnya program seperti Bumi Berserface yang dinilai mampu mendorong anak muda untuk lebih aktif dalam isu lingkungan. Menurutnya, kegiatan semacam itu tidak hanya meningkatkan kesadaran, tetapi juga melahirkan aksi nyata dan inovasi baru berbasis sustainability.
Ia berharap semakin banyak komunitas dan bisnis ramah lingkungan yang tumbuh di Indonesia, terutama yang digerakkan oleh generasi muda.
Di akhir diskusi, Owen menegaskan bahwa menjadi “pahlawan bumi” tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten justru bisa memberikan dampak besar di masa depan.
“Mulai aja dari hal yang paling simpel dan enggak bikin ribet,” tutupnya.