MALANG, — Permasalahan sampah di Kota Malang terus menjadi isu yang semakin mendesak. Di tengah kondisi tempat pembuangan akhir (TPA) yang mulai penuh, hadirnya gerakan pengelolaan sampah berbasis masyarakat menjadi salah satu upaya yang mulai banyak dikembangkan. Salah satunya dilakukan oleh Bank Sampah Indah Lestari (BSIL) yang berdiri di kawasan Bandungrejosari, Kota Malang.
BSIL lahir dari kolaborasi antara iLitterless Indonesia dan TPS3R Basama Bandungrejosari. Tidak sekadar menjadi tempat pengumpulan sampah anorganik, BSIL juga berupaya membangun sistem pengelolaan sampah yang melibatkan masyarakat secara langsung, mulai dari edukasi hingga proses pengolahan sampah.
Co-Founder iLitterless Indonesia sekaligus pengelola BSIL, Mayedha Adifirsta, menjelaskan bahwa sebelum BSIL berdiri, iLitterless lebih dulu fokus pada edukasi pilah sampah dan pengelolaan sampah dari kafe-kafe di Kota Malang.
“Memang kami fokus di edukasi pilah sampah dan juga mengkoordinir cafe-cafe di Malang untuk melakukan pemilahan sampah dari cafe,” ujar Mayedha saat wawancara daring bersama tim Natera.id.
Berawal dari Edukasi Sampah hingga Kebutuhan Gudang
Mayedha menceritakan, awal mula BSIL terbentuk bermula ketika dirinya melakukan survei ke beberapa TPS di Kota Malang untuk proyek di luar yayasan iLitterless. Dari situ, ia bertemu dengan Ketua TPS3R Basama Bandungrejosari, Rusman.
Pertemuan tersebut kemudian membuka peluang kolaborasi. TPS3R Basama menawarkan bangunan yang bisa dimanfaatkan sebagai bank sampah, sementara iLitterless saat itu juga membutuhkan tempat penyimpanan sampah hasil pengumpulan dari kafe dan individu.
Sebelumnya, sampah-sampah yang dikumpulkan iLitterless masih disimpan di garasi rumah keluarga Mayedha. Namun, jumlah sampah yang terus bertambah membuat mereka membutuhkan ruang penyimpanan yang lebih besar.
Selain itu, edukasi yang rutin dilakukan ke kampus, sekolah, hingga warga juga memunculkan pertanyaan yang sama dari masyarakat.
“Pertanyaan dari orang yang kami edukasi adalah setelah dipilah, dikemanain Mas?” katanya.
Menurutnya, layanan penjemputan dan pengelolaan sampah akhirnya menjadi konsekuensi logis dari edukasi yang mereka lakukan. Dari situ, BSIL resmi berdiri pada 1 Juni 2024 di Bandungrejosari, Kota Malang.
Kolaborasi iLitterless dan TPS3R Basama
Dalam operasionalnya, BSIL dibangun melalui pembagian peran antara iLitterless dan TPS3R Basama. Mayedha menjelaskan, iLitterless lebih banyak bergerak pada sisi campaign, edukasi, dan pengembangan program kreatif.
Sementara TPS3R Basama berperan sebagai pengelola operasional dan pengolahan sampah rumah tangga warga sekitar.
“Kalau iLitterless itu lebih ke campaign, ide kreatif, dan manajemen program. Kalau TPS3R Basama itu pengelola tempat dan pengolahan sampah rumah tangga warga,” jelasnya.
Selain melayani penjemputan sampah dari masyarakat, BSIL juga menerima sampah dari sekolah, kampus, perkantoran, hingga pelaku usaha.
Sampah yang masuk kemudian dipilah berdasarkan jenis materialnya. Bahkan, proses pemilahan dilakukan secara detail, mulai dari warna tutup botol hingga jenis plastik yang berbeda.
“Kalau di BSIL itu label botol dilepas, tutupnya dipisahkan. Jadi badan botol dan tutup berbeda, itu beda harga,” ujar Mayedha.
Mengembangkan Program Edukasi Lingkungan
Selain fokus pada pengelolaan sampah, BSIL juga aktif membangun edukasi lingkungan melalui berbagai program kolaborasi. Salah satunya program Road to Zero Waste bersama Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) Negeri 16 Malang.
Program tersebut bertujuan membangun sekolah percontohan yang mampu mengelola sampah secara mandiri. Sampah organik diolah menjadi kompos, sementara sampah anorganik dipilah dan disetorkan ke bank sampah.
BSIL dan iLitterless juga mengembangkan workshop kreatif seperti pembuatan bag charm dan keychain dari hasil daur ulang tutup botol plastik.
Tidak hanya di sekolah, BSIL juga menggandeng Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Malang dalam kampanye #PilahSampahDariMasjid selama Ramadan.
Dalam program tersebut, jamaah diajak memilah sampah di lingkungan masjid. Hasilnya, selama satu bulan terkumpul sekitar 83 kilogram sampah terpilah berupa karton dan plastik.
Menariknya, BSIL tidak hanya melaporkan jumlah sampah yang terkumpul, tetapi juga dampak lingkungannya.
“Mereka berhasil memilah sampah yang setara dengan penghematan bensin dan penyelamatan pohon,” ujar Mayedha.
Media Sosial Jadi Ruang Edukasi Anak Muda
Di tengah perkembangan media digital, BSIL juga memanfaatkan Instagram sebagai ruang edukasi lingkungan untuk anak muda.
Menurut Mayedha, media sosial menjadi etalase aktivitas mereka sekaligus alat untuk membangun relasi kolaborasi secara organik.
“Instagram itu etalase atau ruang pamer untuk menunjukkan aktivitas kami dan memancing kolaborasi,” katanya.
Meski begitu, ia mengaku sebagian besar kerja sama yang terjalin justru datang dari jejaring komunitas dan relasi personal para pengelola iLitterless dan BSIL.
Pengelolaan Sampah Harus Dimulai dari Rumah
Mayedha menegaskan bahwa persoalan sampah saat ini sudah memasuki kondisi darurat. Ia mencontohkan beberapa daerah seperti Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta yang mulai mengalami overload TPA.
Menurutnya, langkah paling sederhana yang bisa dilakukan masyarakat adalah mulai memilah sampah organik dan anorganik dari rumah.
“Sesimpel itu, lakukan pemilahan dari rumah. Karena ketika TPA penuh, sampah itu nanti akan kembali ke lingkungan kita sendiri,” ujarnya.
Ia berharap semakin banyak masyarakat, terutama anak muda, yang mulai sadar bahwa pengelolaan sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama.
“Setiap orang harus sadar menyelesaikan masalah sampahnya sendiri, karena itu potensi bencana di kemudian hari,” pungkasnya.
