
Foto: Doc Pribadi/Natera
Bank Sampah Indah Lestari (BSIL) membuktikan bahwa dengan mesin pencacah plastik sederhana mampu menjawab persoalan sampah yang kian menumpuk. Teknologi dan fasilitas modern kerap dianggap memakan budget tinggi bagi. BSIL dengan alat sederhana ini memberi contoh bagaimana teknologi sederhana dapat membuka jalan baru dalam pengelolaan sampah berbasis komunitas.
Bagi sebagian orang, tutup botol plastik mungkin hanya benda kecil yang berakhir di tong sampah. Namun di BSIL, benda yang sering dianggap tak bernilai itu dipilah, dibersihkan, dicacah, lalu berubah menjadi flakes, yaitu cacahan plastik yang siap masuk ke proses daur ulang berikutnya.
Lebih dari sekadar mengolah sampah, proses ini menjadi upaya untuk memperpanjang umur material plastik sekaligus meningkatkan nilai ekonominya.
Mesin Hibah Menemukan Fungsinya
Keberadaan mesin pencacah di BSIL ternyata bukan sesuatu yang direncanakan sejak awal. Mesin tersebut merupakan hibah program CSR yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal.
Co-Founder iLitterless sekaligus penggerak BSIL, Maye, menjelaskan bahwa meningkatnya kebutuhan pengolahan sampah plastik mendorong BSIL dan TPS 3R untuk mengaktifkan kembali mesin tersebut.
“Mesin itu sebetulnya adalah hibah CSR dari BRI kepada beberapa kelurahan. Sudah lama ada, tapi TPS belum bisa memanfaatkannya. Akhirnya BSIL bekerja sama dengan TPS 3R untuk memanfaatkan hibah mesin itu karena demand recycle mulai meningkat,” jelas Maye.
Keputusan mengaktifkan mesin pencacah menjadi langkah penting. Sebab, di tingkat komunitas, persoalan sampah bukan hanya soal mengumpulkan, tetapi juga bagaimana membuat material yang terkumpul memiliki nilai lebih tinggi sebelum masuk ke industri daur ulang.
Sebelum masuk ke mesin pencacah, perjalanan sampah plastik di BSIL dimulai dari proses yang cukup panjang.
Sampah dikumpulkan melalui penjemputan ke warga, sekolah, komunitas, instansi, hingga kelompok masyarakat yang sudah menjadi nasabah BSIL. Setelah terkumpul, sampah tidak langsung diproses begitu saja.
Material dipilah berdasarkan jenis, warna, ukuran, hingga kondisi fisiknya. Botol plastik dipisahkan dari tutupnya, label dilepas, dan setiap komponen dikelompokkan sesuai kategorinya.
“Kalau di BSIL itu label dilepas, tutupnya dipisahkan. Jadi badan dan tutup berbeda, itu beda harga,” ujar Maye.
Proses detail ini penting karena harga jual sampah bergantung pada tingkat kebersihan dan pemilahannya. Semakin terpilah, semakin tinggi nilainya.
BSIL Fokus pada Plastik HDPE
Tidak semua plastik memiliki karakter yang sama. Karena itu, BSIL memilih fokus pada jenis plastik tertentu untuk proses pencacahan, yakni HDPE.
Material ini banyak ditemukan pada tutup botol, kemasan rumah tangga, atau wadah plastik tertentu yang masih memungkinkan untuk diproses ulang menjadi material baru.
“Untuk yang dicacah memang spesifik HDPE. Karena sifat plastik ini kalau dilelehkan masih bisa diproses lagi. Kalau botol mineral tipis itu berbeda karakteristiknya,” ujar Maye.
Setelah dibersihkan dan dipilah, plastik HDPE dimasukkan ke mesin pencacah hingga berubah menjadi flakes. Bentuk cacahan ini membuat material lebih mudah dikirim, diproses, dan dimanfaatkan kembali oleh industri daur ulang.
“Flakes itu cacah, betul. Jadi setelah dicacah nanti bisa digunakan lagi untuk kebutuhan recycle berikutnya,” tambahnya.
Teknologi Sederhana meningkatkan Nilai Sampah
Mesin pencacah mungkin terlihat sederhana. Namun di BSIL, alat ini mengubah cara komunitas melihat sampah.
Sampah plastik yang sebelumnya hanya dikumpulkan kini memiliki proses lanjutan yang membuat nilainya meningkat. Selain mempercepat pengelolaan sampah anorganik, pencacahan juga membuka peluang ekonomi baru melalui penjualan hasil cacahan maupun kebutuhan workshop daur ulang yang dijalankan jaringan BSIL dan iLitterless.
Lebih jauh lagi, proses ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah tidak selalu harus menunggu fasilitas besar atau kebijakan skala kota.
Ketika komunitas memiliki akses terhadap teknologi sederhana, pengetahuan memilah, dan jaringan pengelolaan yang berjalan, sampah perlahan berubah dari persoalan menjadi sumber daya.
Di tengah ancaman TPA yang semakin penuh dan produksi sampah yang terus meningkat, mungkin solusi memang perlu dimulai dari tempat paling dekat, yaitu di lingkungan sekitar dan komunitas itu sendiri.
