Di sudut Rumah Kreasi Ken-Ken di Kota Malang, tumpukan daun kering, botol bekas, hingga paku berkarat tidak dianggap sebagai sampah. Bagi Susi, pendiri Rumah Kreasi Ken-Ken, benda-benda yang sering berakhir di tempat pembuangan justru menyimpan kemungkinan baru. Di tangan yang tepat, barang bekas bisa berubah menjadi karya yang memiliki nilai seni sekaligus nilai ekonomi.
Di tengah tren fesyen berkelanjutan dan gaya hidup ramah lingkungan yang semakin diminati generasi muda, Rumah Kreasi Ken-Ken menghadirkan cara sederhana untuk melihat ulang makna limbah. Bukan sebagai akhir dari sebuah benda, melainkan awal dari sebuah kreativitas.
“Kadang yang dianggap tidak berguna itu justru bisa jadi karya yang menarik,” ujar Susi saat ditemui di rumah produksinya.
Bagi perempuan yang telah menekuni kerajinan ecoprint sejak 2018 itu, kreativitas sering kali muncul dari hal-hal yang paling sederhana. Bahkan dari benda yang sudah berkarat sekalipun.
Jejak Karat yang Menjadi Motif
Banyak orang mungkin menganggap paku berkarat sebagai barang yang harus dibuang. Namun di Rumah Kreasi Ken-Ken, karat justru menjadi bagian dari proses kreatif.
Susi memanfaatkan paku yang telah berkarat untuk menghasilkan warna dan motif alami pada kain. Paku direndam hingga menghasilkan larutan yang dikenal sebagai tunjung, salah satu bahan yang digunakan dalam proses pewarnaan alami.
“Paku yang sudah berkarat itu direndam. Airnya bisa dipakai untuk mordan. Jadi benar-benar warna alam,” katanya.
Tidak berhenti di situ, lembaran besi atau paku berkarat juga kerap dimanfaatkan untuk menciptakan motif abstrak yang unik. Karat yang menempel pada permukaan logam menghasilkan pola alami yang tidak bisa dibuat secara identik oleh mesin.
“Malah yang karatan itu kita lipat-lipat. Jadinya bagus juga, abstrak. Kalau ditambah garam, warna karatnya bisa lebih keluar,” tutur Susi.
Hasilnya adalah motif dengan nuansa cokelat, hitam, atau keabu-abuan yang lahir dari proses korosi alami. Setiap kain memiliki pola berbeda, menjadikannya eksklusif dan tidak bisa diduplikasi secara persis.
Bagi Susi, proses tersebut juga menjadi cara untuk memanfaatkan material yang sering dianggap tidak memiliki nilai guna lagi.
Dari Botol Bekas Menjadi Karya
Selain memanfaatkan unsur alam, Rumah Kreasi Ken-Ken juga aktif mengolah berbagai barang bekas menjadi kerajinan tangan.
Salah satu yang pernah menarik perhatian publik adalah karya dari botol bekas yang diubah menjadi bentuk dekoratif dan karya seni. Dalam salah satu pameran yang diikutinya, Susi membuat replika motor dari material bekas yang sebelumnya dianggap sampah.
“Botol-botol itu kita kreasikan. Kemarin saya bikin motor gede dari barang bekas,” ujarnya sambil tersenyum.
Baginya, tidak semua barang harus berakhir sebagai limbah. Dengan sedikit kreativitas, benda yang sudah tidak digunakan dapat memperoleh fungsi baru.
Prinsip yang sama juga diterapkan pada kain perca sisa produksi. Potongan-potongan kain yang biasanya dibuang dikumpulkan kembali untuk diolah menjadi tas, aksesori, hingga produk dekoratif.
Pengalaman panjang sebagai penjahit membuat Susi memahami betapa banyak material yang sebenarnya masih layak dimanfaatkan.
“Dulu itu nggak kepikiran. Sekarang kain perca bisa disambung, dibuat tas atau kerajinan lain,” katanya.
Melihat Sampah dengan Cara Berbeda
Di era ketika isu sampah dan limbah semakin menjadi perhatian, apa yang dilakukan Rumah Kreasi Ken-Ken menawarkan perspektif yang berbeda. Kreativitas tidak selalu harus dimulai dari bahan baru. Kadang justru muncul dari benda-benda yang terabaikan.
Semangat tersebut juga menjadi alasan mengapa Susi aktif berbagi ilmu kepada komunitas dan masyarakat. Ia percaya keterampilan mengolah limbah bisa menjadi peluang ekonomi sekaligus membantu mengurangi sampah yang dihasilkan sehari-hari.
Mulai dari ecoprint, pemanfaatan karat sebagai pewarna alami, hingga kerajinan dari botol bekas, semuanya berangkat dari prinsip yang sama: memberi kesempatan kedua bagi material yang dianggap selesai.
“Kalau kita kreatif, banyak yang bisa dimanfaatkan. Yang penting jangan langsung dibuang,” ujarnya.
Di tangan Rumah Kreasi Ken-Ken, paku berkarat bukan lagi sekadar besi tua. Botol bekas bukan hanya sampah plastik. Semuanya memiliki peluang untuk hidup kembali sebagai karya yang bercerita tentang kreativitas, lingkungan, dan cara baru memandang barang bekas di tengah kehidupan modern.
