
Dokumentasi: Tim Mindcraf
Kota Malang – Isu sampah plastik kembali diangkat melalui medium yang berbeda. Bukan lewat seminar lingkungan atau kampanye kebersihan, melainkan melalui sebuah film pendek berjudul The Presentation yang diputar dalam rangkaian kegiatan komunitas kreatif Mindcraft dan Bab Satu di Malang.
Film yang disutradarai Ego dan diproduksi secara independen ini memadukan unsur satir, kritik sosial, serta keresahan lingkungan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Penayangan perdana tersebut juga dilanjutkan dengan sesi diskusi bersama kru dan pemain yang membahas proses kreatif hingga pesan yang ingin disampaikan kepada penonton.
Dalam film tersebut, isu sampah plastik ditempatkan sebagai pusat narasi melalui format presentasi akademik yang dikemas secara unik. Penonton diajak menyaksikan bagaimana persoalan lingkungan tidak hanya menjadi data statistik, tetapi juga realitas yang terus hadir di sekitar masyarakat.
Berangkat dari Keresahan Melihat Sampah di Sekitar
Sutradara sekaligus penulis film menjelaskan bahwa gagasan utama The Presentation lahir dari keresahan pribadi ketika masih sering menemukan sampah di berbagai sudut kota.
Menurutnya, persoalan sampah di Indonesia merupakan isu yang terus dibicarakan namun belum sepenuhnya menemukan solusi yang efektif.
“Soal sampah plastik itu sebenarnya keresahan pribadi. Kalau ke tempat-tempat tertentu masih sering melihat sampah. Setelah dipikir-pikir, isu sampah di Indonesia memang susah untuk ditangani,” ujarnya saat sesi diskusi usai pemutaran film.
Meski mengangkat tema lingkungan, film ini tidak secara langsung mengajak masyarakat untuk melakukan kampanye tertentu. Sebaliknya, film berusaha memunculkan pertanyaan kritis mengenai kemana sebenarnya sampah yang dihasilkan manusia berakhir.
“Tujuannya bukan untuk menggurui orang supaya tidak membuang sampah. Aku cuma ingin tahu dan mengajak orang bertanya, sebenarnya sampah itu ke mana,” tambahnya.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa The Presentation lebih memilih pendekatan reflektif dibandingkan pendekatan persuasif yang sering digunakan dalam kampanye lingkungan.
Produksi Nol Budget dengan Semangat Kolektif
Menariknya, film ini lahir dari proses produksi yang sangat sederhana. Dalam sesi tanya jawab, para kru mengungkapkan bahwa produksi dilakukan tanpa dukungan pendanaan besar.
Salah satu kru bahkan menyebut bahwa komunitas mereka berkembang dengan keterbatasan sumber daya.
“Dana produksi kita terbatas. Makanya itu kami mencangkup beberapa hal yang bisa di eksekusi dengan nol budget” ungkapannya.
Keterbatasan tersebut tidak menghalangi proses kreatif. Seluruh pemain terlibat secara sukarela tanpa menerima bayaran. Semangat kolaborasi menjadi modal utama hingga film akhirnya berhasil diselesaikan dan ditayangkan kepada publik.
Lokasi pengambilan gambar juga memanfaatkan ruang-ruang yang dekat dengan kehidupan masyarakat, salah satunya kawasan Pasar Besar Malang dan area perkotaan yang merepresentasikan kondisi lingkungan sehari-hari.
Simbol Babi dan Kritik terhadap Perilaku Manusia
Selain isu sampah, film ini juga menghadirkan simbol babi sebagai salah satu elemen penting dalam cerita. Penggunaan simbol tersebut sempat menjadi bahan diskusi dalam sesi tanya jawab.
Kru menjelaskan bahwa pemilihan simbol tidak dimaksudkan untuk merendahkan kelompok tertentu, melainkan sebagai representasi stigma sosial yang berkembang di masyarakat.
Melalui simbol tersebut, film berupaya mengajak penonton melihat kembali bagaimana manusia sering kali menciptakan label terhadap sesuatu, sementara persoalan lingkungan yang lebih besar justru luput dari perhatian.
Pendekatan simbolik ini membuat The Presentation tidak hanya berbicara mengenai sampah plastik, tetapi juga tentang cara manusia memandang dan memperlakukan lingkungan di sekitarnya.
Akan Menyasar Festival Film Internasional
Meski baru menjalani pemutaran perdana, tim produksi telah menyiapkan langkah berikutnya untuk membawa The Presentation ke berbagai festival film.
Sutradara menyebut bahwa strategi yang dipilih adalah mengikuti jalur festival internasional terlebih dahulu sebelum memperluas penayangan di dalam negeri.
“Biasanya kita tarik keluar dulu ke festival internasional. Kalau sudah punya portofolio dari luar, baru lebih percaya diri untuk masuk ke festival dalam negeri,” jelasnya.
Langkah tersebut menunjukkan optimisme tim terhadap potensi film independen lokal untuk bersaing di tingkat yang lebih luas.

Dokumentasi: Tim Natera
Mengingatkan Bahwa Sampah Akan Tetap Tinggal
Salah satu kutipan yang paling menarik perhatian penonton muncul pada bagian akhir film.
“Tenang saja, kalau manusia punah, setidaknya plastik akan tetap ada untuk mengenang kita.” ujar ego seat sesi talk show
Kalimat tersebut menjadi penutup yang sekaligus menegaskan pesan utama film. Di tengah kemajuan teknologi dan berbagai aktivitas manusia, persoalan sampah plastik masih menjadi ancaman nyata yang belum terselesaikan.
Melalui The Presentation, Mindcraft menghadirkan kritik yang sederhana namun mengena. Film ini tidak menawarkan solusi instan, tetapi mengajak penonton untuk kembali mempertanyakan hubungan manusia dengan sampah yang mereka hasilkan setiap hari.
Menurut kaca mata Natera. Di tengah maraknya kampanye lingkungan, pendekatan sinematik seperti yang dilakukan The Presentation menjadi cara lain untuk membangun kesadaran publik. Sebab, terkadang sebuah pertanyaan yang tepat mampu meninggalkan kesan lebih lama daripada sekadar ajakan untuk berubah.
