
Dokumentasi: Tim Natera
NATERA.ID – Plastik sekali pakai masih menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Mulai dari membungkus makanan, menyimpan bahan dapur, hingga membawa camilan saat bepergian, plastik dianggap sebagai pilihan yang praktis dan mudah diperoleh. Namun, di balik kemudahannya, penggunaan plastik secara terus-menerus turut menyumbang peningkatan jumlah sampah yang sulit terurai.
Kesadaran akan persoalan tersebut menjadi salah satu alasan diselenggarakannya Workshop Beeswax Wrap yang diinisiasi EPYC Indonesia bersama iLitterless Indonesia di Equal Coffee Roastery, Malang, Sabtu (20/6). Kegiatan ini tidak hanya mengajarkan cara membuat pembungkus makanan ramah lingkungan, tetapi juga mengajak peserta memahami bahwa perubahan besar dapat dimulai dari kebiasaan kecil di rumah.
Melalui pendekatan praktik langsung, peserta diajak melihat alternatif yang dapat menggantikan penggunaan plastik sekali pakai dalam aktivitas sehari-hari.
Workshop Sebagai Ruang Belajar yang Dekat dengan Kehidupan Sehari-hari
Dalam workshop tersebut, peserta diperkenalkan pada beeswax wrap, yaitu kain berbahan katun yang dilapisi campuran lilin lebah sehingga dapat digunakan sebagai pembungkus makanan dan wadah penyimpanan yang dapat dipakai berulang kali.
Berbeda dengan seminar atau sosialisasi yang hanya berisi pemaparan materi, kegiatan ini mengajak peserta untuk terlibat langsung dalam proses pembuatan. Mulai dari menyiapkan kain, menaburkan campuran beeswax, hingga memanaskannya agar lapisan lilin menyatu dengan permukaan kain.
Perwakilan iLitterless Indonesia, Amalia, menjelaskan bahwa tujuan utama workshop bukan sekadar menghasilkan produk, tetapi membangun kesadaran bahwa setiap orang memiliki peran dalam mengurangi timbulan sampah plastik.
“Kita ingin menunjukkan bahwa ada alternatif yang sederhana dan bisa diterapkan di rumah. Tidak harus langsung mengubah semuanya, tetapi bisa dimulai dari kebiasaan kecil seperti mengganti pembungkus makanan sekali pakai,” ujar Amalia dalam sesi workshop.
Menurutnya, edukasi yang disertai praktik langsung cenderung lebih mudah dipahami dan diterapkan oleh peserta dibandingkan hanya melalui kampanye atau informasi di media sosial.
Tantangan Mengubah Kebiasaan Menggunakan Plastik
Meskipun berbagai alternatif ramah lingkungan mulai diperkenalkan, mengubah kebiasaan masyarakat bukanlah perkara mudah. Plastik telah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari karena murah, praktis, dan tersedia hampir di setiap tempat.
Kondisi tersebut membuat banyak orang tetap memilih plastik meskipun memahami dampaknya terhadap lingkungan. Tidak sedikit pula yang menganggap penggunaan produk ramah lingkungan membutuhkan biaya lebih besar atau terasa kurang praktis.
Dalam diskusi workshop, peserta mengakui bahwa tantangan terbesar bukan terletak pada ketersediaan alternatif, melainkan konsistensi dalam menerapkannya.
Salah satu peserta workshop, Dinda Rahmawati, mengatakan bahwa sebelumnya ia sering menggunakan plastik untuk membungkus makanan karena dianggap lebih cepat dan mudah.
“Kalau di rumah biasanya langsung ambil plastik atau cling wrap. Setelah ikut workshop ini, ternyata ada pilihan lain yang bisa dipakai berulang kali dan lebih ramah lingkungan,” ujarnya.
Menurut Dinda, pengalaman membuat beeswax wrap secara langsung memberikan gambaran bahwa upaya mengurangi sampah plastik tidak selalu rumit atau mahal.

Dokumentasi: Tim Natera
Memulai Perubaha dari Rumah
Rumah menjadi ruang paling dekat untuk memulai perubahan perilaku. Kebiasaan sederhana seperti membawa wadah sendiri, menggunakan botol minum isi ulang, hingga mengganti pembungkus plastik dengan beeswax wrap dapat menjadi langkah awal yang berdampak dalam jangka panjang.
Melalui workshop ini, peserta tidak hanya membawa pulang hasil karya berupa beeswax wrap, tetapi juga pemahaman mengenai pentingnya mengurangi ketergantungan terhadap produk sekali pakai.
Amalia menilai bahwa perubahan perilaku lingkungan tidak bisa terjadi secara instan. Dibutuhkan proses, pengalaman langsung, serta dukungan komunitas agar kebiasaan baru dapat bertahan.
“Ketika seseorang sudah mencoba dan merasakan manfaatnya sendiri, biasanya peluang untuk terus melanjutkan kebiasaan itu menjadi lebih besar,” katanya.
Ia berharap semakin banyak masyarakat, khususnya generasi muda, yang mulai menerapkan gaya hidup minim sampah dari lingkungan terdekat mereka.
Langkah Kecil yang Bisa Memberi Dampak Besar
Workshop Beeswax Wrap menunjukkan bahwa edukasi lingkungan tidak selalu harus dilakukan melalui cara yang kompleks. Aktivitas sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari justru mampu menghadirkan pemahaman yang lebih nyata mengenai persoalan sampah plastik.
Melalui pengalaman membuat dan menggunakan beeswax wrap, peserta diajak melihat bahwa perubahan gaya hidup ramah lingkungan dapat dimulai dari keputusan-keputusan kecil di rumah. Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai mungkin terlihat sederhana, tetapi ketika dilakukan secara konsisten oleh banyak orang, langkah tersebut dapat memberikan dampak yang lebih luas bagi lingkungan.
Dengan demikian, workshop ini tidak hanya menjadi ruang belajar keterampilan baru, tetapi juga menjadi titik awal terbentuknya kebiasaan yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.