Tangkahan Buktikan Hutan Lebih Aman Saat Masyarakat Ikut Jaga

Gajah-gajah di Desa Tangkahan
Dua gajah ini menjadi bagian dari kisah konservasi di Desa Tangkahan, Sumatera Utara. Mereka menjadi bukti bahwa manusia dan alam bisa hidup berdampingan.
Foto : Dokumentasi Barry Kusuma, Kompas.com


Naters, siapa sangka kawasan yang dulu akrab dengan pembalakan liar kini justru jadi contoh sukses konservasi? Perubahan itu hadir dari Tangkahan, kawasan penyangga Taman Nasional Gunung Leuser di Sumatera Utara.

Kisah ini hadir dalam Webinar Green Forest: Membangun Masa Depan Berkelanjutan yang digelar oleh TrashRanger.id bersama TracFest, Youth Ranger Indonesia, dan Palm Co. Youth ID.

Dalam webinar tersebut, Dr. Ir. Wiratno, M.Sc., IPU sebagai salah satu Narasumber membagikan pengalaman mendampingi masyarakat Tangkahan hingga berhasil mengubah arah masa depan hutan.

Perjalanan itu tentu tidak berlangsung singkat. Sebelum tahun 2000, sebagian besar warga menggantungkan hidup dari kayu hutan. Mereka masuk ke kawasan Taman Nasional Gunung Leuser lalu menebang pohon. Aktivitas itu menjadi sumber penghasilan utama selama bertahun-tahun.

Namun, waktu memberi pelajaran yang mahal. Sebagian warga harus berurusan dengan hukum. Sebagian lain mengalami kecelakaan saat bekerja di hutan.

Situasi itu membuka kesadaran baru. Mereka sadar pembalakan liar tidak akan memberi kehidupan yang lebih baik.

Saat menjabat sebagai Kepala Balai Taman Nasional Gunung Leuser pada 2005, Wiratno memilih jalan yang berbeda. Ia tidak hanya memberi larangan, tetapi juga mengajak masyarakat mencari solusi bersama.

Mereka kemudian membangun ekowisata berbasis masyarakat. Warga menjadi pelaku utama, sekaligus pihak yang menikmati hasilnya.

“Kalau Tangkahan tidak ada ekowisata, mungkin hari ini hutan di sana sudah habis.” Jelasnya

Kalimat itu menggambarkan kondisi yang pernah warga alami. Bagi mereka, hutan dulu hanya sumber kayu demi bertahan hidup.

Kini cara pandang itu berubah. Hutan justru menjadi aset yang terus memberi manfaat ketika tetap lestari.

“Dengan menjaga alam itu mereka dapat manfaat ekonomi.” Tambahnya

Ekowisata membuka peluang kerja baru. Warga menjadi pemandu wisata, mengelola penginapan, hingga menjalankan usaha lokal yang tumbuh bersama kunjungan wisatawan.

Perubahan itu juga lahir dari kolaborasi. Pemerintah mengajak tokoh masyarakat duduk bersama, lalu menyusun kesepakatan untuk mengelola ekowisata. Model itu memberi ruang bagi warga untuk ikut menjaga hutan sekaligus merasakan manfaatnya secara langsung.

“Kalau masyarakat itu diajak oleh pemerintah, diajak bareng menjaga hutan, tapi juga dapat manfaat ekonomi.”

Saat Masyarakat Menjadi Penjaga Hutan

Naters, kisah Tangkahan menunjukkan satu hal penting. Konservasi akan lebih kuat ketika masyarakat ikut menjadi bagian dari solusi.

Pemerintah hadir sebagai pendamping. Masyarakat menjadi pelaku utama yang menjaga kawasan setiap hari. Perubahan itu tidak hanya terlihat dari ekonomi. Kondisi hutannya juga ikut pulih.

Wiratno dalam Webinar Green Forest oleh Trash Ranger
Dalam Webinar Green Forest, Wiratno mengajak peserta menyaksikan dokumenter tentang Desa Tangkahan, sebuah kisah yang menunjukkan bahwa konservasi bukan soal melindungi alam saja, tetapi juga membangun hubungan antara manusia dan hutan.
Foto : Dokumentasi Webinar Green Forest

“Mereka tidak kembali merusak hutan, mereka sudah bertobat dan ingin terus menjaga hutan.” Jelasnya

Bahkan saat pandemi menghentikan kunjungan wisata, masyarakat tetap memilih menjaga hutan. Mereka tidak kembali pada pembalakan liar meski pendapatan sempat turun.

Hasilnya mulai terlihat. Kawasan yang dulu rusak perlahan kembali hijau.

“Kawasan hutan yang dulunya rusak sekarang sudah pulih kembali menjadi hutan.”

Penelitian yang Wiratno paparkan menunjukkan sekitar 3.700 hektare kawasan yang sebelumnya rusak kini kembali menjadi hutan. Tangkahan bahkan meraih berbagai penghargaan internasional di bidang ekowisata karena keberhasilan itu.

Keberhasilan Tangkahan menjadi bukti bahwa konservasi tidak selalu berawal dari penegakan hukum. Kepercayaan, kolaborasi, dan peluang ekonomi mampu mengubah pelaku perusakan menjadi penjaga hutan. Perubahan itu juga memberi harapan bagi desa-desa lain di sekitar Taman Nasional Gunung Leuser.

Bagi Naters, kisah ini memberi pelajaran sederhana. Menjaga hutan tidak selalu dimulai dari aturan yang keras. Masyarakat perlu ruang untuk hidup layak. Saat kesejahteraan hadir bersama kelestarian alam, keinginan menjaga hutan tumbuh dengan sendirinya.

Tangkahan membuktikan bahwa konservasi bukan sekadar menyelamatkan pohon. Konservasi juga tentang membangun harapan, kepercayaan, dan masa depan bersama antara manusia dan alam.

Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.