Suara bel istirahat baru saja berbunyi ketika beberapa siswa bergegas membawa kantong berisi botol plastik, kardus bekas, dan kemasan minuman yang telah mereka kumpulkan sejak beberapa hari sebelumnya. Mereka tidak sedang mengikuti lomba kebersihan sekolah. Sampah-sampah itu juga bukan untuk dibuang ke tempat penampungan akhir.
Hari itu, sampah memiliki tujuan baru.
Di sudut sekolah, satu per satu botol dipilah berdasarkan jenisnya. Tutup botol dipisahkan dari badan botol, kardus ditumpuk rapi, sementara plastik lain dikelompokkan sesuai materialnya. Aktivitas yang mungkin tampak sederhana itu menjadi bagian dari sebuah perjalanan panjang bertajuk Road to Zero Waste, program kolaborasi antara Bank Sampah Indah Lestari (BSIL), iLitterless Indonesia, dan SRMP Negeri 16 Malang untuk membangun budaya pengelolaan sampah sejak dari sumbernya.
Bagi banyak orang, konsep zero waste sering kali terdengar rumit. Identik dengan gaya hidup mahal atau perubahan besar yang sulit dilakukan. Namun di sekolah ini, konsep tersebut justru dimulai dari kebiasaan kecil memilah sampah sebelum membuangnya.
Road to Zero Waste, Belajar Mengelola Sampah dari Sumbernya
Program Road to Zero Waste tidak dirancang sebagai kegiatan seremonial yang selesai dalam satu hari. Sebaliknya, ia hadir dalam beberapa tahapan atau cycle agar siswa dapat belajar secara bertahap sekaligus mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Tujuan utamanya sederhana, tetapi penting menunjukkan bahwa sampah sebenarnya bisa selesai dari tempat asalnya.
Melalui pendampingan BSIL dan iLitterless, sekolah mulai menerapkan pengelolaan sampah organik dan anorganik secara terpisah. Sisa makanan diarahkan untuk diolah menjadi kompos, sedangkan sampah anorganik dipilah agar dapat disalurkan kembali ke bank sampah dan masuk ke rantai ekonomi sirkular.
Pendekatan ini membuat siswa tidak hanya memahami teori tentang lingkungan, tetapi juga melihat langsung bagaimana sampah yang mereka hasilkan dapat memiliki nilai baru ketika dikelola dengan benar.
“Tujuannya membentuk sekolah percontohan yang menunjukkan bahwa sampah bisa selesai di sekolah,” jelas Maye, Co-Founder iLitterless Indonesia, saat menjelaskan konsep program tersebut.
Saat Sampah Menjadi Tabungan
Salah satu aktivitas yang paling dekat dengan keseharian siswa adalah TAPA atau Tabungan Sampah.
Melalui konsep ini, sampah tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang harus segera dibuang, melainkan sebagai aset yang memiliki nilai ekonomi. Botol plastik, kardus, hingga berbagai material daur ulang dikumpulkan dan disetorkan secara berkala ke bank sampah.
Cara ini mengubah cara pandang siswa terhadap sampah.
Mereka mulai memahami bahwa memilah sampah bukan sekadar menjaga kebersihan sekolah, tetapi juga menjadi bagian dari sistem ekonomi sirkular yang memungkinkan material kembali dimanfaatkan sebagai bahan baku industri. BSIL sendiri menerima berbagai jenis sampah anorganik yang telah dipilah, kemudian mengelolanya atau menyalurkannya kembali ke industri daur ulang sesuai jenis materialnya.
Perubahan cara berpikir inilah yang menjadi salah satu tujuan terbesar program Road to Zero Waste.
Belajar Kreatif Lewat Eco Trip dan Recycled Bag Charm
Perjalanan tersebut mencapai momen yang berbeda saat peringatan Hari Bumi.
Alih-alih hanya mengadakan seminar atau kampanye lingkungan, para siswa diajak mengikuti eco trip sekaligus workshop membuat recycled bag charm dari tutup botol plastik yang telah dikumpulkan sebelumnya.
Bagi sebagian siswa, itu mungkin kali pertama mereka menyadari bahwa limbah plastik dapat berubah menjadi produk yang menarik.
Di atas meja-meja kerja, tutup botol yang sebelumnya dianggap tidak berguna mulai dirangkai menjadi gantungan tas berwarna-warni. Proses kreatif itu bukan sekadar kegiatan kerajinan tangan, melainkan pengalaman yang memperlihatkan secara langsung bagaimana sebuah barang dapat memperoleh kehidupan kedua sebelum akhirnya menjadi sampah. Workshop tersebut menjadi bagian dari rangkaian edukasi Road to Zero Waste yang dikembangkan iLitterless bersama BSIL.
Bagi generasi yang akrab dengan budaya DIY, personalisasi, dan kreativitas digital, pendekatan semacam ini terasa jauh lebih mudah diterima dibandingkan sekadar ceramah tentang lingkungan.
Belajar tidak lagi hanya melalui papan tulis, tetapi melalui pengalaman.
Membangun Budaya Zero Waste dari Lingkungan Sekolah
Kolaborasi ini juga menunjukkan bahwa perubahan lingkungan tidak selalu dimulai dari teknologi besar atau kebijakan nasional. Sekolah dapat menjadi ruang pertama tempat kebiasaan baik dibangun.
Menurut BSIL, persoalan sampah tidak bisa terus bergantung pada tempat pembuangan akhir. Di banyak daerah, kapasitas TPA semakin terbatas sehingga setiap orang perlu mulai menyelesaikan sampahnya sendiri melalui pemilahan sejak dari rumah maupun sekolah.
Karena itu, Road to Zero Waste bukan hanya tentang mengurangi volume sampah. Program ini juga sedang membentuk generasi yang memahami hubungan antara kebiasaan kecil dan dampak besar terhadap lingkungan.
Ketika seorang siswa memilih memisahkan botol plastik dari sampah makanan, ia sedang belajar mengambil keputusan yang lebih bertanggung jawab. Ketika ia mengubah tutup botol menjadi bag charm, ia belajar bahwa kreativitas dapat berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap bumi.
Di tengah berbagai tantangan lingkungan yang semakin nyata, kolaborasi antara BSIL, iLitterless, dan SRMP Negeri 16 Malang menghadirkan pesan sederhana namun kuat: perubahan tidak selalu dimulai dari langkah besar.
Kadang, ia berawal dari satu botol plastik yang tidak lagi dibuang sembarangan.
Lalu berkembang menjadi kebiasaan.
Menjadi budaya.
Dan pada akhirnya, menjadi jalan panjang menuju masa depan yang benar-benar lebih dekat dengan cita-cita zero waste.