Menjelang waktu berbuka puasa, halaman Masjid Al-Ghozali mulai dipenuhi aktivitas. Sebagian jamaah sibuk menyiapkan hidangan takjil, sementara yang lain berdatangan untuk mengikuti salat Magrib berjemaah. Di antara botol air mineral, kotak makanan, dan kardus bekas yang perlahan menumpuk, ada pemandangan yang berbeda.
Beberapa orang tidak langsung membuang sampah ke satu tempat.
Mereka berhenti sejenak, memisahkan botol plastik dari kardus, melepas tutup botol, lalu memasukkannya ke wadah yang berbeda. Kebiasaan kecil itu bukan muncul begitu saja. Ia lahir dari sebuah kolaborasi antara Bank Sampah Indah Lestari (BSIL), Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Malang, dan Masjid Al-Ghozali melalui kampanye #PilahSampahDariMasjid selama bulan Ramadan.
Di tengah meningkatnya volume sampah selama kegiatan berbuka puasa bersama, kolaborasi tersebut menghadirkan gagasan sederhana: rumah ibadah tidak hanya menjadi tempat memperkuat hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga ruang untuk membangun tanggung jawab terhadap lingkungan.
Kolaborasi Green Pesantren yang Berawal dari Sebuah Pertemuan
Ide itu bermula dari sebuah pertemuan yang tidak direncanakan.
Maye, Co-Founder iLitterless Indonesia yang juga berkolaborasi dengan BSIL, pernah menjadi narasumber dalam kegiatan di Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Malang. Saat itu, ia memperkenalkan konsep green pesantren, yaitu bagaimana lingkungan pesantren dapat menjadi contoh dalam mengelola sampah secara mandiri.
Ia mengajak para santri melihat persoalan sampah dari sudut pandang yang berbeda. Sampah bukan hanya sesuatu yang harus dibuang, tetapi sumber daya yang dapat dikelola sehingga memberi manfaat bagi lingkungan maupun komunitas.
“Botol-botol bekas, kardus, dan sampah anorganik lainnya dipilah, lalu kami jemput. Hasilnya nanti bisa kembali menjadi manfaat untuk kas para santri,” jelas Maye
Gagasan itu ternyata disambut baik.
Sebelum program dimulai, Pesma Al-Hikam sebenarnya telah memiliki kesadaran lingkungan melalui kegiatan urban farming yang memanfaatkan area atap bangunan. Kolaborasi dengan BSIL kemudian menjadi langkah lanjutan untuk memperkuat pengelolaan sampah di lingkungan pesantren dan masjid.
Ramadan Menjadi Momentum Membentuk Kebiasaan Baru
Selama satu bulan penuh, jamaah diajak membiasakan diri memilah sampah sejak selesai berbuka puasa maupun setelah berbagai kegiatan keagamaan. Botol plastik dipisahkan dari kardus, kemasan makanan dikelompokkan berdasarkan jenis materialnya, lalu seluruh sampah anorganik dikumpulkan sebelum dijemput BSIL.
Program ini bukan sekadar aksi bersih-bersih.
Ia menjadi eksperimen sosial untuk melihat apakah kebiasaan memilah sampah dapat tumbuh di ruang ibadah yang setiap hari dipadati masyarakat.
Hasilnya cukup menggembirakan.
Dalam satu bulan pelaksanaan, kampanye #PilahSampahDariMasjid berhasil mengumpulkan sekitar 83 kilogram sampah terpilah, yang didominasi oleh kertas, kardus, dan plastik untuk didaur ulang kembali.
Namun bagi BSIL, angka tersebut bukan pencapaian terbesar.
Yang lebih penting adalah perubahan kebiasaan jamaah.
Mengubah Angka Menjadi Dampak Nyata
Selama ini, keberhasilan program lingkungan sering kali diukur dari banyaknya sampah yang berhasil dikumpulkan. BSIL mencoba mengubah cara pandang tersebut.
Menurut Maye, masyarakat akan lebih mudah memahami manfaat sebuah gerakan apabila dampaknya diterjemahkan ke dalam hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Karena itu, hasil kampanye tidak hanya dilaporkan dalam satuan kilogram.
Sebanyak 83 kilogram sampah terpilah tersebut kemudian dikonversi menjadi laporan dampak (impact report). Dari perhitungan yang dilakukan tim, jumlah tersebut setara dengan penghematan sekitar 61 liter bensin, penyelamatan sekitar tujuh pohon, serta penghematan energi listrik yang setara dengan 13 ribu jam penggunaan lampu.
Pendekatan ini membuat isu lingkungan terasa lebih mudah dipahami.
Alih-alih sekadar membaca angka “83 kilogram”, jamaah dapat membayangkan dampak nyata yang berhasil mereka hasilkan melalui kebiasaan sederhana memisahkan sampah.
“Yang kami laporkan bukan lagi sekadar berapa kilogram sampah yang terkumpul, tetapi dampaknya bagi lingkungan,” ujar Maye.
Masjid sebagai Ruang Menumbuhkan Budaya Peduli Lingkungan
Bagi generasi muda, pendekatan seperti ini terasa jauh lebih relevan.
Mereka hidup di era ketika data, visualisasi, dan cerita memiliki kekuatan besar dalam membentuk perilaku. Sebuah aksi kecil akan terasa lebih bermakna ketika mereka mengetahui konsekuensi positif yang dihasilkannya.
Kolaborasi BSIL dengan Pesma Al-Hikam Malang menunjukkan bahwa edukasi lingkungan tidak selalu harus dilakukan melalui seminar formal atau kampanye besar-besaran. Masjid pun dapat menjadi ruang belajar yang efektif.
Di tempat yang setiap hari mengajarkan nilai kebersihan, kepedulian, dan tanggung jawab, kebiasaan memilah sampah menemukan maknanya sendiri.
Bukan sekadar menjaga halaman masjid tetap bersih, tetapi juga merawat bumi sebagai bagian dari amanah yang harus dijaga bersama.
Dari Kebiasaan Kecil Menuju Gerakan yang Lebih Besar
Program ini memang masih berstatus uji coba selama Ramadan. Namun pengalaman tersebut membuka peluang lahirnya model kampanye lingkungan berbasis komunitas keagamaan yang dapat diterapkan di tempat lain.
Ketika satu masjid berhasil membangun budaya memilah sampah, bukan tidak mungkin masjid lain akan mengikuti jejak yang sama.
Pada akhirnya, perubahan memang tidak selalu dimulai dari ruang rapat atau kebijakan besar. Terkadang, ia lahir dari kebiasaan sederhana setelah seseorang selesai berbuka puasa memegang botol plastik bekas di tangannya, lalu memutuskan untuk tidak membuangnya sembarangan.
Karena di balik tindakan kecil itu, ada pesan yang jauh lebih besar.
Bahwa menjaga lingkungan bukan hanya urusan aktivis atau pemerintah, melainkan bagian dari nilai kehidupan yang dapat tumbuh di mana saja termasuk di halaman masjid, di antara saf-saf jamaah, dan di hati orang-orang yang percaya bahwa iman kepada Sang Pencipta juga diwujudkan dengan merawat ciptaan-Nya.