Di sebuah ruang diskusi, seorang perempuan berdiri di depan forum yang dipenuhi pejabat, peneliti, dan pemangku kepentingan. Ia membawa data hasil riset bertahun-tahun. Angkanya kuat, metodologinya jelas, argumennya matang. Namun sebelum data itu selesai dipresentasikan, ia lebih dulu dihadapkan pada keraguan. Bukan terhadap isi penelitiannya, melainkan terhadap dirinya sendiri.
“Suara kita kurang dianggap valid, baik sebagai perempuan maupun sebagai pemimpin organisasi.” ujar Ayu.
Kalimat itu bukan sekadar keluhan. Ia adalah potret yang masih sering dialami perempuan yang memilih berdiri di garis depan konservasi alam.
Di balik cerita tentang hutan yang dipulihkan, satwa yang diselamatkan, atau masyarakat yang berhasil diajak menjaga lingkungan, ada perjuangan lain yang jarang terlihat. Perjuangan untuk membuktikan bahwa kepemimpinan perempuan layak dipercaya.
Memimpin di Lapangan, Menghadapi Stereotip
Konservasi identik dengan pekerjaan lapangan yang keras. Membuka jalur di hutan, berdiskusi dengan pemerintah, bernegosiasi dengan tokoh adat, hingga menghadapi konflik kepentingan dengan berbagai pihak. Ruang-ruang seperti itu masih didominasi laki-laki. Akibatnya, perempuan kerap harus bekerja dua kali lebih keras hanya untuk memperoleh tingkat kepercayaan yang sama.
Pengalaman itu pernah dirasakan Febri, pemimpin organisasi konservasi yang harus menghadapi penolakan masyarakat ketika menjalankan program di lapangan.
“Yang melihat saya mungkin, ‘ah perempuan kecil lagi, lembut.’ Nah itu tantangan buat saya. Saya harus tetap bisa tegas ketika bernegosiasi.” ujar Nur Febriani
Baginya, kepemimpinan bukan soal mengubah karakter menjadi keras, tetapi menemukan keseimbangan antara ketegasan dan empati ketika berhadapan dengan masyarakat maupun pemangku kepentingan.
Kesepian yang Jarang Dibicarakan Seorang Pemimpin
Di balik jabatan yang terlihat kuat, ada sisi lain yang jarang terlihat publik.
Menurut Febri, tantangan terbesar justru datang dari dalam organisasi. Ketika organisasi berkembang, jumlah staf bertambah, dan persoalan semakin kompleks, semua keputusan akhirnya bermuara pada satu orang.
“Posisi pemimpin kadang-kadang adalah posisi yang lonely.” ujar Nur Febriani.
Kesepian menjadi harga yang harus dibayar seorang pemimpin. Ada persoalan yang tidak selalu bisa dibagikan kepada tim. Ada beban yang harus dipikul sendiri demi menjaga organisasi tetap berjalan.
Bersuara Meski Tidak Selalu Didengar
Pengalaman serupa juga dialami Ayu. Dalam berbagai forum bersama pemerintah maupun institusi besar, ia merasa suara perempuan sering kali tidak memperoleh ruang yang sama.
“Suara kita kurang didengar. Suara kita kurang dianggap valid sebagai perempuan maupun sebagai pemimpin organisasi.” ujar Ayu.
Alih-alih berhenti berbicara, pengalaman tersebut justru menguatkan keyakinannya.
“Kalau kita bisa bersuara, tetaplah bersuara lantang.” ujar Ayu.
Baginya, keberanian menyampaikan pendapat merupakan bagian penting dari kepemimpinan, terutama ketika membawa kepentingan lingkungan dan masyarakat.
Menciptakan Template Kepemimpinan Sendiri
Bagi Wiza, tantangan perempuan tidak hanya muncul di ruang konservasi, tetapi sudah dimulai sejak masa kecil. Banyak perempuan dibesarkan dengan ekspektasi yang lebih rendah terhadap dirinya sendiri.
Ketika memasuki dunia profesional, rasa ragu itu sering bertemu dengan stereotip baru: kredibilitas perempuan selalu dipertanyakan.
Namun, Wiza percaya kepemimpinan tidak harus mengikuti pola yang selama ini dianggap ideal.
“Kita tidak perlu mengikuti template yang sudah ada. Kita bisa menciptakan template kita sendiri.” ujar Wiza.
Menurutnya, perempuan tidak harus menjadi pemimpin yang keras agar dihormati. Menjadi sosok yang penuh empati sekaligus disiplin juga merupakan bentuk kepemimpinan yang kuat.
Perempuan Menguatkan Perempuan
Perjalanan sebagai pemimpin menjadi lebih ringan ketika perempuan memiliki ruang untuk saling mendukung.
Febri mengaku salah satu momen yang paling menguatkan adalah ketika bertemu sesama pemimpin perempuan dalam forum internasional. Di sana, mereka berbagi cerita tentang tantangan yang ternyata sangat mirip.
“Mungkin Wiza sadar atau tidak, tapi pertemuan itu menguatkan saya.” ujar Nur Febriani
Bagi Wiza, dukungan itu bahkan menjadi penyelamat ketika rasa percaya diri mulai goyah.
“Ketika aku tidak percaya sama diriku, masih ada orang lain yang percaya sama aku. Dan jadilah orang itu untuk temanmu.” ujar Wiza.
Di balik setiap pemimpin perempuan yang bertahan, sering kali ada perempuan lain yang ikut menguatkan langkahnya.
Konservasi Membutuhkan Perspektif yang Beragam
Krisis lingkungan tidak bisa diselesaikan hanya dengan satu cara pandang. Konservasi membutuhkan keberagaman perspektif, termasuk kepemimpinan perempuan yang membawa ketegasan, kolaborasi, empati, dan kemampuan membangun hubungan dengan masyarakat.
Meski masih menghadapi stereotip, kurang didengar dalam forum pengambilan keputusan, hingga harus membuktikan kapasitasnya lebih keras dibanding laki-laki, perempuan-perempuan ini menunjukkan bahwa kepemimpinan bukan ditentukan oleh gender.
Mereka membuktikan bahwa menjaga alam juga berarti membuka ruang yang lebih setara bagi siapa pun untuk memimpin. Sebab ketika lebih banyak perspektif diberi kesempatan, konservasi tidak hanya menyelamatkan hutan dan satwa, tetapi juga membangun masa depan yang lebih inklusif bagi semua.