Amama Craft: Tas Anyaman dari Bungkus Plastik Bekas yang Disulap Jadi Fashion Ramah Lingkungan

Kabupaten Blitar – Di tengah kebiasaan belanja harian yang sering menghasilkan sampah kemasan kecil mulai dari sachet minuman, kopi, hingga kebutuhan rumah tangga muncul satu pertanyaan yang sering kita abaikan: ke mana semua bungkus itu berakhir? Ukurannya memang kecil, tapi jumlahnya bisa menumpuk cepat. Inilah celah yang dibaca Amama Craft, brand kerajinan yang dikelola Wiji, lewat produk anyaman berbahan bungkus plastik bekas yang diubah menjadi tas dan wadah serbaguna.

Dari dua foto produk yang dibagikan, Amama Craft menunjukkan ciri khas utama: anyaman rapat dari potongan kemasan berwarna, disusun membentuk pola berulang yang rapi, lalu dipadukan dengan aksesori fungsional seperti resleting, ring pengait, dan tali tas. Hasilnya bukan sekadar “barang daur ulang”, tetapi produk yang benar-benar siap dipakai bahkan terlihat cocok untuk gaya kasual hingga acara santai.

Dari bungkus plastik jadi tas yang siap dipakai harian

Foto pertama menampilkan dua tas bernuansa marun dengan pola tulisan putih yang kontras. Salah satunya berbentuk sling bag dengan tali panjang yang bisa disetel, sementara satunya lagi berbentuk handbag dengan pegangan pendek. Detail kecil seperti aksesori manik-manik merah di sisi pegangan membuat tampilannya lebih manis dan tidak monoton. Anyaman terlihat konsisten, tepiannya rapi, dan struktur tas tampak kokoh memberi kesan bahwa produk ini dibuat dengan ketelitian, bukan sekadar “eksperimen”.

Keunggulan produk berbahan anyaman seperti ini biasanya terletak pada dua hal: ringan namun tahan bentuk. Dengan teknik lipat-potong-ayam (anyaman), kemasan plastik yang semula tipis bisa menjadi material yang lebih kuat karena saling mengunci. Ditambah resleting dan pengait logam, tas menjadi lebih aman untuk aktivitas harian.

Pada bagian bawah foto, terlihat juga gantungan kunci kecil dari bahan serupa seolah menegaskan bahwa sisa potongan kemasan pun masih bisa dimaksimalkan menjadi aksesori tambahan. Ini adalah praktik upcycling yang tidak hanya memindahkan sampah dari tempat A ke tempat B, tetapi “menaikkan kelas” material bekas menjadi produk bernilai.

Variasi produk: tas, wadah, hingga keranjang serbaguna

Foto kedua memperlihatkan lini produk yang lebih beragam. Ada beberapa tas dengan model berbeda:

  • Tas berwarna krem dengan motif kecil yang diulang, memakai resleting dan pegangan tali yang tebal.
  • Tas dengan warna hijau-putih yang memberi kesan segar, cocok untuk gaya santai.
  • Tas berwarna putih dominan, tampil lebih “netral” dan mudah dipadupadankan.
  • Tas bernuansa krem-beige dengan kombinasi detail hitam pada anyaman dan aksesori.

Di bagian depan, ada wadah terbuka berwarna hijau (mirip keranjang kecil) yang tampak cocok dipakai sebagai tempat penyimpanan rumah misalnya untuk kosmetik, alat tulis, benang rajut, atau bumbu sachet di dapur. Kehadiran produk wadah ini penting karena menunjukkan Amama Craft tidak berhenti pada fashion saja, tetapi juga masuk ke kebutuhan home organization.Kalau dilihat dari karakternya, produk Amama Craft punya “dua dunia”: bisa dipakai untuk gaya (tas, aksesori), sekaligus bisa dipakai untuk fungsi rumah tangga (wadah/keranjang). Ini menarik, karena banyak orang tertarik pada produk ramah lingkungan ketika manfaatnya jelas dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Kenapa tas anyaman upcycling makin relevan?

Tren sustainable fashion bukan lagi sekadar wacana. Banyak orang mulai mencari barang yang punya cerita bukan cuma merek. Produk seperti Amama Craft membawa narasi yang mudah dipahami: barang yang tadinya dibuang, sekarang dipakai ulang dengan tampilan lebih cantik dan fungsional.

Selain itu, kemasan plastik sachet sering dianggap “sulit” ditangani karena ukurannya kecil dan jenis materialnya beragam. Ketika ada pelaku UMKM yang mau mengolahnya menjadi produk, nilai tambahnya bukan hanya dari sisi estetika, tetapi juga dari sisi edukasi: bahwa sampah kemasan kecil pun bisa punya umur pakai yang lebih panjang.

Wiji, lewat Amama Craft, memperlihatkan bahwa kerajinan berbasis upcycling tidak harus terlihat “asal jadi”. Anyaman yang konsisten, kombinasi warna yang dipikirkan, serta pemakaian aksesori (resleting, ring, tali) membuat produk terasa lebih profesional dan siap bersaing di pasar kerajinan.

Cara merawat tas anyaman dari bungkus plastik

Agar awet, tas anyaman berbahan kemasan plastik umumnya bisa dirawat dengan cara sederhana:

  1. Bersihkan permukaan dengan lap lembap (hindari rendam terlalu lama).
  2. Keringkan di tempat teduh, jangan langsung di bawah matahari terik agar warna tidak cepat pudar.
  3. Simpan dalam kondisi tidak tertindih berat supaya bentuk anyaman tetap rapi.

Dengan perawatan yang tepat, produk anyaman bisa dipakai lama dan itu sejalan dengan semangat sustainable: memakai barang lebih panjang, mengurangi pembelian berulang, dan menekan timbulan sampah.

Di era ketika sampah kemasan kecil semakin tak terhindarkan, karya seperti Amama Craft menjadi pengingat bahwa solusi bisa datang dari tangan-tangan kreatif di sekitar kita.

Menurut kaca mata Natera, upcycling bukan hanya soal mengubah sampah menjadi barang, tapi soal mengubah cara pandang: bahwa sesuatu yang “habis pakai” masih bisa punya masa depan asal ada niat, keterampilan, dan ketekunan seperti yang ditunjukkan Wiji lewat Amama Craft.

Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.