Art & Community Fest: Cara Kafe Khace Menghidupkan Ruang Lewat Seni dan Isu Lingkungan

Kafe Khace dengan konsep green living
Foto: Dokumentasi Pribadi/Natera

Malang terkenal dengan banyaknya kafe yang menjadi tren “tempat nongkrong” bagi golongan generasi muda. Namun, ditengah banyaknya kafe yang ada di Malang, Khace atau Khatulistiwa Center hadir dengan cara berbeda. Tidak hanya sebagai “tempat nongkrong”, Khace juga didirikan untuk mendukung dan mewadahi berbagai aktivitas kesenian sekaligus menyampaikan isu lingkungan dengan pendekatan inklusif yang ringan. 

Salah satu kegiatan besar yang pernah diadakan di Khace adalah Art & Community Fest. Berangkat dari kegelisahan akan bagaimana sebuah ruang biasa bisa benar-benar hidup,  kegiatan ini hadir dengan menonjolkan perpaduan seni, kreativitas, dan komunitas, didukung dengan suasana tempat yang unik. Tujuannya bukan hanya ramai, tapi juga punya makna.

“Kalau sebuah ruang dirancang tapi tidak ada aktivitas, maka akan jadi ruang mati,” ujar Judha Widitha, Pemilik Kafe Khace.

Dari sini, Art & Community Fest jadi semacam strategi agar ruang ini terus bergerak lewat pertemuan ide, komunitas, dan praktik kreatif. Sehingga, yang dibangun bukan hanya event, tapi ekosistem kecil, tempat orang datang, berinteraksi, dan membawa pulang sesuatu, mulai dari pengalaman, pengetahuan, atau bahkan keresahan baru.

Seni sebagai Bahasa yang Lebih Dekat 

Sembari mengampanyekan urgensi isu lingkungan, kegiatan Art & Community Fest memilih jalur yang lebih cair melalui berbagai praktik kesenian. Di sinilah Redsoga Ecoprint masuk, membawa praktik kreatif berbasis alam yang sekaligus jadi bentuk edukasi. Karya tidak hanya dilihat, tapi dipahami prosesnya bahwa bahan alami bisa jadi medium ekspresi sekaligus alternatif yang lebih ramah lingkungan.

Pendekatan penting, terutama untuk generasi muda yang cenderung lebih responsif terhadap pengalaman visual dan interaktif. Melalui kegiatan ini, seni bekerja sebagai bahasa yang lebih fleksibel dan tidak menggurui, tapi tetap tersampaikan.

Menjaga Tradisi, Menyisipkan Nilai 

Mbah Jo saat mengedukasi anak-anak melalui kesenian tradisional
Foto: Instagram @khatulistiwa.center

Di sisi lain, kehadiran Mbah Jo, seorang seniman pembuat wayang suket, memberi dimensi yang berbeda. Bukan sekadar menghadirkan pertunjukan, tetapi beliau juga mengaktifkan kembali ingatan kolektif tentang permainan tradisional. Mbah Jo juga mengajak anak-anak memainkan berbagai permainan tradisional yang membuat mereka tidak hanya menonton, tapi ikut terlibat, bermain, sekaligus belajar.

“Ini bukan sekadar hiburan, tapi juga ada pesan moral yang disampaikan dengan bahasa anak-anak,” jelas Judha. 

Dengan ini, budaya bisa menjadi medium yang halus tapi efektif untuk menyisipkan nilai tanpa terkesan memaksa. Pendekatan seperti ini menunjukkan bahwa keberlanjutan tidak selalu harus dibahas lewat data atau kampanye besar. Ia bisa hadir lewat hal-hal sederhana bahkan dari permainan yang nyaris dilupakan.

Tantangannya Lebih dari Sekadar “Ramai

Meski antusiasme publik cukup tinggi, namun bagi Judha justru yang menjadi catatan adalah keberlanjutan itu sendiri. Baginya, tantangan terbesar bukan menarik orang datang, tapi menjaga nilai yang dibawa bisa tetap hidup.

“Yang sulit itu bukan membuat orang datang, tapi bagaimana visi green living ini bisa sustain,” ungkapnya. 

Artinya, kegiatan seperti ini tidak bisa berhenti di momentum. Ia harus terus berlanjut, beradaptasi, dan berkembang. Hadirnya Khace tidak hanya sebagai ruang diskusi tetapi juga ruang bertumbuh bagi berbagai kalangan dan komunitas. Judha juga berharap Khace bisa menjadi ruang bagi ide dan kreativitas masyarakat agar bisa saling terhubung untuk membentuk cara pandang baru yang inovatif demi keberlanjutan lingkungan.



Share the Post:

Related Posts

This Headline Grabs Visitors’ Attention

A short description introducing your business and the services to visitors.